Search

Nunung Nuraida

merekam asa, rasa dan cerita

Pendidikan Saling Menyalahkan

That was one of our many talks this morning in Pusat Sumber Belajar YAM. My supervisor said that it is a good topic to be an article. Well, why not? Maybe it can be other people’ way of thinking too nowadays. Who knows?

What is it actually? Pendidikan saling menyalahkan? Well, it all started when we talked about our students’ behavior. It seems that even we have tried very hard to lead them and teach them to be good, there  are always some students who try to ignore good deeds. Instead they also try hard to disobey the rules at school.

Who are to be responsible? Maybe an academic counselor will say “hey, I am just the academic counselor. I am responsible for their academic assessment. We just motivate them to study hard, work hard to gain the minimum criteria of each lesson. Even if they cannot reach the minimum standard, it does not mean it is my fault. May be she/he doesn’t work harder. Just ask the religion teachers for their behavior”. When we point to the Religion teachers perhaps they will say “hello, we already teach them good deeds, every single day. We ask them to pray, tell them to be good. What else do you expect from us? Maybe their parents do not teach them at home” And then the parents have this argument “What? You blame us? We pay much for this school to teach our kids to be good? yes, maybe we don’t have much time to teach them at home. That’s why we need you teachers here to help us.”

And I just can say STOP! It won’t lead us anywhere. Blaming each other for the sake of our kids’ behavior is like leading us nowhere. We have to sit together. This is not about someone’s fault. This is about how to find the solution. Well, I myself experience how hard it is to teach good deed to my own kid. Not only every day, but every single second if I can, I will try to teach him good. I even tell my problem in handling my kid to his principal at school to find the solution. And what did he say?

“Ibu, siapakah kita? Siapakah anak kita? Apakah dia hanya milik kita? Tidak. Dia adalah milik Sang Maha Pencipta. Ketika kita telah berusaha maksimal untuk mendidik putra-putri kita, maka itu adalah ikhtiar kita. Allah melihat apa yang kita lakukan. Tapi, tetap saja, semua hidayah datangnya dari Sang Khalik. Tidak bisa kita melampaui hak Dia sebagai pemilik diri kita dan putra-putri kita untuk mengubah sendiri. Kita ikhtiar, kita meminta dalam doa, kita pasrahkan pada Sang Khalik. Maka tidak akan ada lagi rasa marah, kecewa, menyesali diri yang tak sanggup mengubah anak kita menjadi anak yang sempurna.”

I think what he said makes sense. One thing that we should keep in mind is that our belief that every child is innocent. What they experience now is the process of learning for his life in the future. When we and the society see them do something wrong, they will understand it, may be not right away, may be later, or need more time than other children.  If we can keep this belief, I am sure that we could respond our kids’ mistakes in more positive ways.

 

 

 

 

Muhammad Al Fatih, The Conqueror of Constantinople

Living Life Lively

“Constantinople would fall into the hands of Islam. Leaders who conquer it, is the best of leaders and the troops under his command is the best of troops.” (Narrated by Ahmad bin Hanbal)

Divination of the Prophet Muhammad uttered when the Battle of the Trench actually became reality on Tuesday, Jumada al-Ula 20, 857 H or May 29, 1453. Constantinople was previously controlled by the Eastern Roman Empire (Byzantium) considered as the safest and the most secure because it has the strongest fortress in the world. But apparently, the world’s strongest city conquered by troops under the command of a man named Sultan Muhammad Khan. Since then, Muhammad Khan was given the title of Al Fatih (the Liberator) and is known in the West as Mehmed the Conqueror.

Muhammad Al Fatih

Muhammad Al Fatih (1431 – 1481 AD), the son of Sultan Murad II, sultan who ruled the Ottoman Empire…

View original post 488 more words

Digital Native versus Digital Immigrant

Ketika rekan saya , ibu Siti Mugi Rahayu, terpilih menjadi finalis Guraru Award 2013, pihak penyelenggara meminta beliau untuk presentasi dengan tema di atas “digital native, digital immigrants”. Berhubung materi yang diberikan dalam bahasa Inggris, saya pun turut membantu menyampaikan isi dari artikel tersebut. Saya coba menuliskan inti dari judul di atas.

Ini pertama kalinya saya membaca istilah digital native dan digital immigrant. Istilah ini muncul bersamaan dengan tumbuhnya era digital di akhir abad ke 20-an. Era digital ini ditandai dengan tumbuh dan berkembangnya berbagai jenis gadget yang menunjang kehidupan manusia, seperti telepon genggam, laptop, video games, internet, music player, dan lain-lain. Semakin hari, perkembangan digital semakin pesat dan hampir menjangkau setiap detail kehidupan, terutama di kota-kota besar. Walaupun tentu tidak dapat dipungkiri bahwa pelosok daerah dan pedesaan pun telah ter’kontaminasi’ dengan barang-barang digital tersebut. Continue reading “Digital Native versus Digital Immigrant”

Liburan lebaran

Sementara orang lain mengabarkan perjalanan mudik lebaran mereka, maka berbeda dengan saya. Sebagai warga asli bekasi, saya tak mengenal kata mudik. Menghuni kampung yang terletak di pinggiran kota jakarta, kampung kami bisa dibilang cukup padat dengan  para pendatang yang mengadu nasib di perantauan. Maka, ketika musim mudik datang, bisa dibayangkan betapa sepi dan lengangnya kampung kami tercinta.

Ya, beginilah situasi kampung kami yang ditinggalkan para pemudik. Tak ada kemacetan yang hampir tiap pagi menyapa di sepanjang jalan utama pantura. Jalan raya tampak lengang dan hanya dilintasi oleh sedikit mobil pribadi atau angkutan umum. Sepeda motor yang biasanya memenuhi jalan pun  tampak berpindah semua ke  wilayah jawa diangkut oleh para pemiliknya. Toko-toko yang berdiri di sepanjang jalan utama tampak seragam. Ya, hanya tampak pintu-pintu rolling door yang menutupi toko-toko tersebut.

Suasana lengang dan sepi ini mengingatkan saya saat saya masih kecil. Kampung masih sepi dan  belum berkembang seperti saat ini. Ada rasa rindu terhadap kehidupan yang telah berlalu. Masa dimana warga kampung kami sangat akrab dan rasa kekeluargaan yang masih kental. Saat ini karakter-karakter itu hanya tinggak kenangan. Warga semakin sibuk dengan  kehidupan nya sendiri. Dan saya salah satu warga yang mungkin bisa dibilang seperti yang lainnya.

Ya, kampung kami memang sudah berubah. Kampung kami bukan lagi milik kami saja. Kampung ini sudah menjadi kampung milik bersama para pendatang. Semoga saja pertumbuhan kampung kami yang pesat ini mampu memberikan keberkahan bagi warga setempat. Amin.

[ramadhan2] Ramadhan bukan Bulan Mulia

Sempat tercengang juga saya ketika mendengar penuturan ustadz di masjid kampung saya. Ceramah sebelum taraweh tadi malam cukup memberikan pengetahuan baru bagi saya. Beliau mengatakan bahwa Ramadhan bukanlah bulan mulia yang disebutkan dalam Al Quran. Bulan-bulan mulia yang tercatat dalam Al Quran hanya ada empat yaitu Dzulqoidah, Dzulhijjah, Muharram, dan Rajab. Lalu bagaimana dengan bulan Ramadhan? Continue reading “[ramadhan2] Ramadhan bukan Bulan Mulia”

[ramadhan1] Tentang Sahur

Jangan tinggalkan sahur walaupun hanya minum segelas air. Ini menegaskan betapa pentingnya sahur untuk kita sebelum kita melaksanakan ibadah puasa.

Kapan sih waktu batas sahur itu? Continue reading “[ramadhan1] Tentang Sahur”

[TWC2] Kapan Bisa Jadi Guru Gokil Ya?

Enam bulan berlalu sejak penyelenggaraan Teacher Writing Camp 1 di bulan Desember 2012. Pengalaman menjadi peserta sekaligus panitia masih terasa hingga kini. Apa yang disampaikan para nara sumber tak ubahnya menjadi pemicu kegiatan tulis menulis yang sejak 2 tahun terakhir ini mengisi hari-hari saya.

mba esther dari kompas
mba esther dari kompas

Continue reading “[TWC2] Kapan Bisa Jadi Guru Gokil Ya?”

It’s the comfort I feel

When love comes second…

Being in a relationship, one tells that it needs love. You can’t be in it without the big L. Is it true all the time? Love first and then runs the relationship? Continue reading “It’s the comfort I feel”

Apa Itu Olimpisme?

Minggu, 30 Juni 2013

Wisma UNJ kembali menjadi saksi pencerahan. Kurang lebih tiga puluh dua guru menghadiri satu workshop TOT dengan tema penanaman nilai-nilai Olimpisme pada masyarakat. Workshop yang diprakarsai oleh Komite Olimpiade Indonesia dan didukung oleh IGI Bekasi dan Indosat ini cukup menggugah semangat perubahan. Semangat menanamkan nilai-nilai positif yang menjadi dasar dari paham olimpisme itu sendiri. Continue reading “Apa Itu Olimpisme?”

Create a free website or blog at WordPress.com.

Up ↑

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.

Join 98 other followers

%d bloggers like this: