Sementara orang lain mengabarkan perjalanan mudik lebaran mereka, maka berbeda dengan saya. Sebagai warga asli bekasi, saya tak mengenal kata mudik. Menghuni kampung yang terletak di pinggiran kota jakarta, kampung kami bisa dibilang cukup padat dengan  para pendatang yang mengadu nasib di perantauan. Maka, ketika musim mudik datang, bisa dibayangkan betapa sepi dan lengangnya kampung kami tercinta.

Ya, beginilah situasi kampung kami yang ditinggalkan para pemudik. Tak ada kemacetan yang hampir tiap pagi menyapa di sepanjang jalan utama pantura. Jalan raya tampak lengang dan hanya dilintasi oleh sedikit mobil pribadi atau angkutan umum. Sepeda motor yang biasanya memenuhi jalan pun  tampak berpindah semua ke  wilayah jawa diangkut oleh para pemiliknya. Toko-toko yang berdiri di sepanjang jalan utama tampak seragam. Ya, hanya tampak pintu-pintu rolling door yang menutupi toko-toko tersebut.

Suasana lengang dan sepi ini mengingatkan saya saat saya masih kecil. Kampung masih sepi dan  belum berkembang seperti saat ini. Ada rasa rindu terhadap kehidupan yang telah berlalu. Masa dimana warga kampung kami sangat akrab dan rasa kekeluargaan yang masih kental. Saat ini karakter-karakter itu hanya tinggak kenangan. Warga semakin sibuk dengan  kehidupan nya sendiri. Dan saya salah satu warga yang mungkin bisa dibilang seperti yang lainnya.

Ya, kampung kami memang sudah berubah. Kampung kami bukan lagi milik kami saja. Kampung ini sudah menjadi kampung milik bersama para pendatang. Semoga saja pertumbuhan kampung kami yang pesat ini mampu memberikan keberkahan bagi warga setempat. Amin.