Ketika rekan saya , ibu Siti Mugi Rahayu, terpilih menjadi finalis Guraru Award 2013, pihak penyelenggara meminta beliau untuk presentasi dengan tema di atas “digital native, digital immigrants”. Berhubung materi yang diberikan dalam bahasa Inggris, saya pun turut membantu menyampaikan isi dari artikel tersebut. Saya coba menuliskan inti dari judul di atas.

Ini pertama kalinya saya membaca istilah digital native dan digital immigrant. Istilah ini muncul bersamaan dengan tumbuhnya era digital di akhir abad ke 20-an. Era digital ini ditandai dengan tumbuh dan berkembangnya berbagai jenis gadget yang menunjang kehidupan manusia, seperti telepon genggam, laptop, video games, internet, music player, dan lain-lain. Semakin hari, perkembangan digital semakin pesat dan hampir menjangkau setiap detail kehidupan, terutama di kota-kota besar. Walaupun tentu tidak dapat dipungkiri bahwa pelosok daerah dan pedesaan pun telah ter’kontaminasi’ dengan barang-barang digital tersebut.

Keberadaan digital tidak lagi bisa dibendung, tidak pula bisa dipisahkan dari kehidupan manusia saat ini. Mulai dari toddler (balita) hingga elder people (manula) menikmati dan memanfaatkan semua hal yang berbau digital. Penggunaan yang mudah dan ketersediaannya yang cukup tinggi, menjadikan barang digital tak terelakkan.

Ini pun berlaku pada perkembangan otak anak-anak didik kita. Dengan pengalaman hidup yang dialami, akan membentuk cara pandang dan gaya hidup yang berbeda pula. Anak-anak didik kita saat ini adalah masyarakat yang disebut dengan “digital native”. Digital native ini dapat diterjemahkan sebagai masyarakat asli era digital. Mereka adalah masyarakat yang lahir bersamaan dengan lahirnya era digital. Maka kehidupan mereka pun tidak terlepas dari semua hal yang berbau digital. Memisahkan mereka dengan ‘digital’? Rasanya menjadi hal yang sulit dilakukan.

Karena perubahan pengalaman hidup inilah, maka cara anak didik kita memperoleh pembelajaran pun sudah sangat berbeda. Mereka yang terbiasa terkoneksi dengan alat-alat digital, hampir 24 jam sehari, akan sulit untuk dijauhkan dari dunia digital. Maka larangan untuk tidak memiliki handphone, atau tidak bermain video games, atau tidak terkoneksi dengan internet menjadi hal yang sangat berlawanan dengan sifat dan karakter asli mereka sebagai ‘digital native’.

Lalu bagaimana dengan proses pembelajaran yang bisa diterapkan? Akan lebih bijak jika kita sebagai pendidik mampu memberikan proses belajar yang juga berbau ‘digital’. Artinya teknik pembelajaran dengan penerapan ICT itu haruslah dikuasai untuk menarik minat para anak didik kita yang notabene sebagai masyarakat asli digital dengan proses bekerja otak mereka yang juga bersifat ‘digital’ (cepat, praktis, simple, to the point, kreatif).

Sayangnya, tidak atau belum semua para pendidik yang mau dan mampu menerima perubahan drastis antara jaman mereka dengan jaman anak didik mereka. Pendidik saat ini masih dianggap jadul, kuno, gaptek karena masih banyak yang mengajar dengan cara-cara konvensional yang tidak lagi pas dengan anak-anak didik era digital. Sebagian pendidik sudah mulai menyadari hal ini dan mereka pun mau belajar mengenal dunia digital yang tumbuh di saat usia mereka mungkin sudah tidak muda lagi. Para pendidik inilah yang disebut dengan “digital immigrant” dimana mereka berusaha bermigrasi/berpindah dari era mereka ke era digital yang dianut oleh sebagian besar anak didik mereka.

Dari para digital immigrang ini, ada yang memang berhasil mengikuti dan menerapkan ilmu baru tersebut ke dalam proses pembelajaran mereka sehingga anak didik merasa satu arah dengan guru mereka, namun tak sedikit yang hanya sebatas tahu dan pada akhirnya kembali ke zona “nyaman” mereka. Merekalah yang akhirnya “ditinggalkan” anak didik mereka dan menganggap mereka sebagai guru yang tidak tahu perkembangan jaman.

Dengan kasus tersebut di atas, maka harus ada saling memahami antara kedua belah pihak. Para pendidik harus menyadari bahwa dunia anak didik mereka tidak sama dengan dunia mereka sebelumnya, bahkan sangat jauh berbeda. Mempalajari dan menerapkan dunia digital dalam proses pembelajaran mereka tentu akan mampu memenuhi hasrat belajar anak didik yang merupakan masyarakat asli digital. Sementara para anak didik diharapkan juga memahami bahwa guru-guru mereka adalah guru dengan dunia yang berbeda dan menjadi digital immigrant tidaklah semudah membalikkan telapak tangan. Butuh usaha dan niat yang kuat untuk bisa mengubah cara pandang dan kebiasaan hidup yang baru. Maka saling pengertian menjadi satu kunci sukses keberhasilan dunia pendidikan dengan peserta didik yang merupakan “digital native” dan para guru sebagai “digital immigrant”.