Kekhawatiran dan ketakutan sempat mengiringi proses kelahiran putra saya tahun 2004 silam. Sebagai putra pertama, kala itu menjadi pengalaman pertama juga bagi saya. Saya mengalami apa yang disebut KPD atau ketuban pecah duluan. Saat itu saya tidak terlalu ngeh dan mengerti tentang persalinan.

Ketika saya datang ke bidan dan salah seoranga perawat mengecek saya, saya merasakan air berlimpah mengalir dengan deras. Saya langsung melaporkan ke perawat dan ia bilang bahwa ketuban saya pecah. Tapi karena belum merasakan mules, akhirnya saya diminta untuk tiduran dan diberi obat perangsang mules. Hampir 12 jam saya dibiarkan oleh perawat sementara saya merasakan air ketuban saya tidak berhenti mengalir. Itu pun saya tahan dengan tidur miring, kalau saja saya tidur terlentang, air ketubannya layaknya air bah.

Setelah 12 jam, akhirnya saya merasakan air ketuban saya sudah habis. Barulah saya merasakan mules dan pihak klinik membawa saya ke ruang persalinan. Setelah dicek, ternyata air ketuban saya sudah tidak bersisa. Ketika bidannya yang menangani, beliau sempat bertanya ke perawatnya sejak kapan ketubannya pecah. Saya yang bilang sejak jam 10 malam. Bidan itu sempat kaget dan marah ke perawatnya. Karena ternyata kasus saya termasuk persalinan tidak normal karena ketuban pecah duluan dan seharusnya sudah ditangani jauh lebih awal.

Mendengar penjelasan bidan, saya ikut kecewa dengan perawatnya. Karena kasus KPD ini sangat rawan dan bisa menimbulkan kematian jika tidak segera ditangani secara tepat. Setelah menahan sakit sekitar 1 jam, putra saya pun lahir dalam keadaan biru dan TIDAK menangis. Saya ikut bingung dan sedih mengapa tidak ada suara tangisan bayi yang saya dengar. Padahal bayi saya sudah keluar. Saya pun ditenangkan oleh sanak saudara yang menemani proses persalinan. Saya sempat memperhatikan bidan mengangkat kedua kaki putra saya dan membalikkan badannya sehingga posisi kaki ada di atas. Sampai beberapa menit, belum ada suara yang keluar dari mulut si jabang bayi. Setelah ditepuk-tepuk beberapa kali, barulah terdengar suara tangisan yang sangat kecil, berbeda dengan suara tangisan bayi yang pernah saya dengar sebelumnya.

Putra saya pun langsung dimasukkan ke tabung sinar. Semua sanak keluarga akhirnya lega mendengarkan suara tangisan putraku untuk pertama kali.

Ternyata kalau saya mau usut, ada unsur kelalaian dari proses persalinan saya. Karena kasus KPD ini seharusnya ditangani dengan segera dan tidak membiarkan saya kehilangan semua air ketuban yang dibutuhkan untuk proses kelahiran si jabang bayi sebagai pelicin jalan keluarnya.

Bayi dengan kasus KPD memang sangat rentan akan penyakit. Ketika bayi dipotong tali pusatnya, maka asupan oksigen yang biasanya ia terima dari sang ibu terputus, sehingga ia harus mengambil oksigen sendiri dengan cara menangis itu. Jika tidak terjadi tangisan, maka tidak ada oksigen yang masuk ke otaknya sehingga ada bagian otak yang kosong. Hal ini dapat menimbulkan kerusakan urat syaraf bagi si jabang bayi. Apalagi jika si bayi sudah terlalu banyak menelah air ketuban, tentunya akan banyak racun yang tertelan ke dalam tubuhnya hingga tubuh bayi bisa membiru dan tentunya hal ini bisa sangat membahayakan bagi kesehatan si jabang bayi itu sendiri.

Kasus bayi tidak menangis akan banyak menimbulkan kelainan dalam tumbuh kembang si bayi. Berdasarkan cerita seorang kawan yang berkonsultasi ke dokter mengenai perkembangan putranya, kesulitan anak untuk berbicara atau berjalan bisa disebabkan karena kesalahan proses kelahiran tersebut. Baik itu kesulitan mengambil oksigen sehingga bayi tidak bisa menangis saat lahir ataupun karena air ketuban yang tertelan oleh si jabang bayi saat proses persalinan. Secara umum, tumbuh kembang bayi yang saat lahir tidak menangis sehingga kekurangan oksigen di otaknya, akan lebih lambat dibanding bayi dengan persalianan noramal. Baik pertumbuhan motorik halus dan kasarnya maupun perkembangan dari sisi psikologisnya.

Untuk itu para calon ibu harus lebih mewaspadai tentang kehamilan dan proses kelahiran bayi mereka. KIta harus benar-benar mencari informasi selengkap-lengkapnya tentang berbagai jenis proses kelainan persalinan sehingga bisa menjadi persiapan bagi para ibu untuk menjaga kesehatan putra-putrinye kelak.