Ketika rekan saya , ibu Siti Mugi Rahayu, terpilih menjadi finalis Guraru Award 2013, pihak penyelenggara meminta beliau untuk presentasi dengan tema di atas “digital native, digital immigrants”. Berhubung materi yang diberikan dalam bahasa Inggris, saya pun turut membantu menyampaikan isi dari artikel tersebut. Saya coba menuliskan inti dari judul di atas.

Ini pertama kalinya saya membaca istilah digital native dan digital immigrant. Istilah ini muncul bersamaan dengan tumbuhnya era digital di akhir abad ke 20-an. Era digital ini ditandai dengan tumbuh dan berkembangnya berbagai jenis gadget yang menunjang kehidupan manusia, seperti telepon genggam, laptop, video games, internet, music player, dan lain-lain. Semakin hari, perkembangan digital semakin pesat dan hampir menjangkau setiap detail kehidupan, terutama di kota-kota besar. Walaupun tentu tidak dapat dipungkiri bahwa pelosok daerah dan pedesaan pun telah ter’kontaminasi’ dengan barang-barang digital tersebut. Continue reading “Digital Native versus Digital Immigrant”