Enam bulan berlalu sejak penyelenggaraan Teacher Writing Camp 1 di bulan Desember 2012. Pengalaman menjadi peserta sekaligus panitia masih terasa hingga kini. Apa yang disampaikan para nara sumber tak ubahnya menjadi pemicu kegiatan tulis menulis yang sejak 2 tahun terakhir ini mengisi hari-hari saya.

mba esther dari kompas
mba esther dari kompas

Namun, malang tak dapat ditolak. Saya pun sempat mengalami masa hibernasi, demikian saya menyebutnya, karena hampir 2 bulan lamanya jari-jemari saya tidak menari dengan indah di atas keyboard netbook saya yang setia menemani. Alasannya? Entahlah. Yang pasti, tidak di rumah, tidak di sekolah, netbook saya bak benda yang menyeramkan. Ada perasaan tak ingin berlama-lama dengannya. Tak ingin menyentuh keyboard-keyboard manis itu. Ya, siapa yang menjadi kambing hitam dari masa hibernasi saya?

Kalau boleh saya jujur, saya kembali ke hobi saya yang lama. Menikmati indahnya drama-drama Korea yang menawarkan cerita menggayut hati, menampilkan wajah-wajah tampan rupawan, memainkan perasaan kita hingga tertawa, sedih, sebel, dan bermacam-macam rasa. Dan drama-drama Korea inilah biang dari terusirnya aktivitas menulis saya. Tapi bagaimana lagi? Mereka sangat menggoda saya hingga saya jatuh tercemplung ke dalamnya.

Satu ketika gejolak menulis saya kembali terusik. Ada banyak hal menarik yang saya alami dan terjadi di sekitar saya. Saya sangat tak ingin pengalaman-pengalaman itu hanya sekedar pengalaman saja, tanpa ada rekam jejak tentangnya. Tidak hanya setahun, sebulan kemudian pasti kita sudah melupakan kejadian menarik itu. Menyimpannya sekedar foto saja belum mampu berbicara banyak. Untuk itu harus direkam dalam bentuk tulisan. Tidak bisa tidak. Harus ditulis. Harus. Segera.

Saya pun kembali membakar semangat saya untuk bisa kembali menulis, kembali meramaikan dunia blogging yang menjadi hobi saya 2 tahun terakhir ini.

Menghadiri TWC 2 ini merupakan salah satu cara saya untuk mencharge ulang semangat menulis itu. Ya,seperti halnya tenaga yang harus selalu diisi dengan makanan, semangat menulis pun butuh pupuk. Dengan pupuk yang tepat, motivasi menulis akan kembali terbakar.

Hal yang menarik lagi dari TWC kali ini adalah saya sudah naik tingkat. Yang tadinya menjadi peserta kini saya menjadi pemateri. Wah, berat banget. Ketika Om Jay mengabari saya, rasanya senang, tapi ragu juga. Kenapa saya? Bisakah saya? Ya, saya meragukan diri saya sendiri karena saya belum bisa dibilang berprestasi atau layak untuk menjadi pengisi materi. Apalagi tentang tulis menulis. Jauhhhhh banget! Masih banyak orang yang lebih kompeten dibanding saya. Tapi, Om Jay meyakinkan saya bahwa ia memberikan kesempatan kepada saya untuk berbagi. Apa yang pernah kita kerjakan selama 2 tahun ini, pasti ada hal-hal menarik yang bisa diceritakan. Akhirnya dengan keberanian yang bersisa saya pun mempersiapkan diri saya untuk belajar berbicara di depan rekan-rekan guru hebat yang sangat semangat mengikuti TWC 2 ini.

rundown acara
rundown acara
Walaupun didaulat mengisi acara, tetap hasrat menimba ilmu itu tidak pernah pudar. Saya sadar, saya belum memberikan yang terbaik di dunia tulis menulis ini. Untuk itu berbagi pengalaman tentunya menjadi ajang bagi saya untuk melihat kembali apa yang sebenarnya telah saya lakukan selama ini. Dan ternyata, masih sangat banyak kekurangan,masih belum memaksimalkan kemampuan, masih perlu banyak belajar. Belajar dari guru-guru hebat yang ada di depan saya.

Pelajaran berharga saya dapati dari sharingnya Bapak J.Sumardianta, seorang guru di sekolah Kolese Yogyakarta. Ia adalah seorang guru yang juga penulis buku-buku hebat. Yang teranyar adalah buku yang bertajuk “Guru Gokil Murid Unyu”. Buku yang menggemparkan dengan judul yang terkesan modern.

Pak J. Sumardianta aka Guru Gokil
Pak J. Sumardianta aka Guru Gokil

Ia mengisahkan perjalanannya mengajar dan menanamkan pendidikan karakter di sekolahnya. Segala kisah yang mampu mengubah perilaku dan cara pandang siswa-siswanya, yang kesemuanya laki-laki itu, dituangkan dengan sangat apik dan menarik. Cover bukunya pun terkesan unyu, lukisan wajahnya sendiri yang memang sangat mirip dengannya.

Buku "Guru Gokil Murid Unyu"
Buku “Guru Gokil Murid Unyu”

Perjalanan menulisnya memang sudah sangat lama. Ia sudah menyenangi dunia jurnalistik sejak duduk di bangku SMA. Sayangnya, keinginannya mengambil jurusan ilmu sosial politik di bangku kuliah tidak mendapat restu orang tuanya. Dengan ultimatum “kuliahlah di IKIP, jika tidak, ayah tidak akan membiaya kuliahmu”, sang guru gokil pun menyerah pasrah dengan keinginan sang ayah. Dengan keterpaksaan, ia pun kuliah di IKIP dan pada akhirnya mengajar Sosiologi.

Namun, bagi guru yang mengaku anti sosial ini, passion menulisnya tetap tumbuh subur di dalam dada, hingga ia pun tetap menyalurkan hobinya itu dengan menulis di berbagai media cetak. Menurutnya, untuk bisa masuk ke media cetak, lebih baik kita mengawali tulisan kita dengan membuat resensi buku. Karena itulah genre tulisan yang paling mudah yang bisa kita lakukan sebagai penulis pemula.

Bagaimana ia bisa menulis buku, tentu bukan perkara mudah dan instan. Ia memakai sistem mencicil tulisan. Tulisan-tulisannya yang menyebar di berbagai media cetak, kemudian ia kumpulkan, dicari benang merahnya, lalu dibukukan. Pada awalnya pihak penerbit merasa bahwa tulisannya terlampau berat, maka ada beberapa pengeditan termasuk pencarian judul yang bernilai jual dan membuat orang penasaran untuk membacanya.

Sepak terjangnya dalam menulis buku benar-benar menjadi inspirasi berharga bagi saya khususnya dan bagi rekan-rekan peserta TWC 2 pada umumnya. Bahkan hingga hampir 2 jam ia berbicara, kami sangat menikmati kisah-kisah yang diceritakan, tanpa ada rasa bosan. Salut untuk sang guru gokil yang mengaku titisan era kertas tersebut, artinya ia tidak pandai menulis secara digital. Kapan ya bisa jadi guru gokil seperti Pak J. Sumardianta?

Masih banyak sekali kisah-kisah inspiratif dari guru-guru hebat lainnya yang mungkin akan saya ceritakan di postingan berikutnya.

Terima kasih banyak buat TWC yang telah memberikan pelajaran berharga bagi saya baik sebagai peserta maupun sebagai pembicara. Terima kasih juga saya haturkan terkhusus untuk Om Jay yang telah memberikan kesempatan bagi saya untuk berbagi dan belajar dengan guru-guru hebat di ajang TWC 2 ini.

Salam Menulis!