Minggu yang lalu, saya sempat terkejut ketika salah seorang rekan kerja memberikan kabar berita yang tidak menyenangkan. Katanya, bidan yang pernah merawat almarhum adik saya masuk penjara. Saya sempat bengong sambil bertanya “Bidan yang mana ya?” Katanya rumahnya disamping rumah lama saya dan satu anaknya dititipkan di SPB (sarana penitipan balita).

Saya pun langsung ingat dengan bidan tersebut. Sebenarnya kalau disebut bidan, gak tepat juga ya. Dia lebih cocok disebut mantri. Buka praktek di rumahnya. Walaupun tidak banyak, tapi minimal para tetangga bisa meminta bantuannya untuk mengobati sakit yang tidak terlalu parah atau minimal menginfus mereka yang butuh cairan infus.

Kenapa sang mantri bisa masuk penjara, ternyata kasusnya sangat menyayat hati. Ia dengan tega menyiksa putri sulungnya karena handphone di rumahnya hilang. Berdasarkan info para saksi, sang anak yang bernama Lidya, digigit bagian pipi, lengan, dan tangannya hingga biru lebam. Karena merasa kesakitan, Lidya pun pergi ke rumah si mbah nya yang tidak jauh dari rumahnya. Melihat kejadian itu, sang mbah tanpa ragu menelpon polisi. Akhirnya, ibu yang tega menyakiti anak kandungnya sendiri itu pun masuk bui. Entah sampai kapan.

Jika anda pernah membaca tulisan saya yang berjudul “kisah anak tetangga“, maka kisah ini adalah kisah anak yang sama. Tak menyangka bahwa sang bunda yang tega meninggalkan anak-anaknya untuk bekerja, bisa sangat menyalahkan sang anak hanya karena kehilangan handphone. Sebegitu rendahkah harga anaknya? Naudzubillah…

Semoga ini bisa menjadi pelajaran bagi kita semua untuk bisa menyayangi buah hati kita dan tidak menyia-nyiakan karunia dan anugrah terbesar Ilahi bagi para hamba-Nya.