Hatiku perih. Bak sudah luka disiram pula dengan air garam. Hadeh…kenapa jadi dangdutan gini ya? Tak apalah, terkadang dengerin musik dangdut itu bisa bikin diri melupakan masalah sejenak.

Pagi ini ku lalui dengan hati yang gamang. Mendung, walau tak hujan, membawa hati mellow ke titik terendah. Apalagi kalau inget siapa yang bikin hati ku tak karuan kayak gini.

Sudah hampir dua bulan ini, sejak aku mengenalnya. Tak ada komitmen apapun yang terlontar. Bagaikan air yang mengalir ke hulu, demikian juga perasaan kami. Tiba-tiba saja kami menjadi dekat. Tanpa disadari kehadirannya menjadi pusat pemikiranku. Intensitas hubungan yang hanya dilewati sebagian besar melalui bbm tak mampu membendung apa yang kami rasakan.

Entah akan disebut apa hubungan kami ini. Pacar? Tidak ada ungkapan kami pacaran. Teman? Tapi selalu ada cemas dan khawatir ketika tak terdengar kabar. Yang pasti, rasa itu ada. Apapun namanya.

Hingga satu saat, hubungan kami semakin mengikat hati. Sudah mulai muncul rasa gelisah. Sudah mulai ada rasa cemburu. Rasa kesal yang membuncah dada. Rasa kangen yang tiada terkira.

Ah, ini kah jatuh cinta? Jatuh kembali ke lubang penuh mimpi. Lubang yang dipenuhi bunga-bunga indah. Harum semerbak menambah rasa. Cahaya warna-warni yang kadang menyilaukan mata.

Tidak! Aku belum siap Tuhan. Jangan bawa aku dulu. Jangan biarkan aku jatuh. Karena jatuh yang kedua akan terasa lebih menyakitkan. Aku belum siap meradang karena rindu. Aku belum siap menangis karena ragu. Aku belum siap….