“Satu kata yang bisa saya ungkapkan setelah mendengar penuturan teman-teman semua. CEMAS!” ujar Bu Itje Chodijah.

Ucapan ibu Itje ini, seorang pendidik yang mendedikasikan hidupnya demi kemajuan pendidikan di Indonesia, diutarakan di sesi terakhir seminar kecil tentang “professional talk”. Ya, sekelompok kecil kami, para guru, dengan berniat mencari ilmu, menghadiri acara yang diprakarsai oleh IGI Bekasi dengan bahasan professional talk. Mengapa saya sebut seminar kecil? Karena memang seminar ini hanya dihadiri oleh 12 peserta saja. Sebenarnya kuota undangan mencapai 25 orang, sayangnya karena ada lain hal, sebagian dari kami tidak bisa hadir. Namun, sedikitnya peserta tidak menjadikan kami kehilangan gairah. Justru, diskusi kecil kami ini menjadi sangat bermakna.

Lalu, apa yang menyebabkan Ibu Itje merasa cemas? Apa yang diceritakan oleh para peserta diskusi di akhir acara tentang kesan mereka akan pertemuan tadi, memang lumayana miris. Bagaimana tidak, sebagai seorang profesional, sangatlah tidak mudah bagi sebagian kami untuk bisa mengajak rekan-rekan yang lain melakukan professional talk ini. Sebenarnya, sebagian dari kami secara tidak sengaja telah melakukan professional talk ini. Tapi mungkin, bahasan dan cakupannya masih baru sebatas permasalahan di kelas. Misalnya: bagaimana mengatasi siswa yang kurang motivasinya, bagaimana menghadapi kelas yang ramai, atau metode apa yang lebih tepat dan menyenangkan bagi siswa didik kita.

Tentu saja hal ini perlu lebih sering dilakukan, sehingga waktu luang kita, di sela-sela jam mengajar, tidak hanya diisi oleh obrolan ngalor-ngidul yang gak jelas dan gak penting. Namun, saya yakin dan percaya, sudah banyak sebenarnya para profesional yang mengisi obrolan mereka dengan hal-hal yang berhubungan dengan profesinya selaku pendidik. Sayangnya, mungkin belum banyak yang bisa memanfaatkan obrolan ini untuk kebutuhan pengembangan diri para pendidik tersebut. Istilahnya, hanya sebatas obrolan dan belum menjadi refleksi bagi mereka.

Apa sih “professional talk” itu?

Secara termionologi, talk berarti obrolan/perbincangan/curhatan, sedangkan professional bermakn orang yang memiliki profesi tertentu. Secara bebas, Ibu Itje Chodijah menterjemahkan Professional Talk sebagai obrolan yang dilakukan oleh dua orang atau lebih dengan profesi yang sama, dalam hal ini dua orang pendidik, dengan santai tanpa harus ada persyaratan khusus, dengan rentang bahasan mulai dari hal-hal paling sederhana hingga hal-hal yang rumit mengenai keprofesionalitasnya.

Professional Talk ini bisa direncanakan bisa juga dadakan. Artinya professional talk bisa muncul kapan saja dan dimana saja. Tentunya, karena kita berada di lingkungan pendidikan lebih lama, maka kemungkinan besar (dan sangat diharapkan) professional talk ini berlangsung di sekolah ketika kita sedang tidak di dalam kelas.

Professional Talk ini adalah salah satu cara pengembangan diri guru selain dengan seminar atau pelatihan. Bahkan menurut mba Dhita Puti Sarasvati, salah seorang pemateri juga, justru dengan professional talk inilah, diri kita bisa berkembang dengan lebih baik dan sesuai dengan kebutuhan. Mengapa demikian? Karena ketika kita melakukan professional talk, berarti kita sedang mengkomunikasikan masalah, pengalaman, dan mencari solusi atau masukan yang paling gres dan sesuai dengan apa yang kita alami sendiri. Seperti yang dikutip dari Regie Routman “Bahkan pengembangana profesi terbaik pun bisa gagal meninggalkan kesan yang bermakna dan perubahan yang terus menerus dalam proses mengajar dan belajar–kecuali guru terlibat dalam dialog profesional untuk mengembangkan komunitas yang reflektif.

Menurut Dewey, dengan on-going professional talk, maka akan tumbuh keterbukaan (open-minded), tanggung jawab (responsibility) dan kepenuhhatian (wholeheartedness) yang mengarahkan kita kepada pengembangan diri.

Untuk bisa memancing professional talk, akan lebih baik jika kita mencatat apa yang terjadi di dalam kelas kita atau yang lebih dikenal dengan refleksi mengajar dalam note atau jurnal kita. Dengan begitu, setiap permasalahan yang muncul atau setiap keberhasilan yang teriring dari kegiatan belajar kita dapat dijadikan bahan refleksi bagi diri kita. Dan jika kita perbincangkan dengan orang lain, tentu hal ini akan menjadi masukan bagi pasangan bincang-bincang kita, dan juga masukan bagi kita sendiri.

Jadi sebenarnya kunci untuk sukses bagi kita sebagai pendidik adalah refleksi dan terbuka. Refleksi berarti kita bisa belajar dari apa yang telah kita lakukan: baikkah, kurangkah, tidak cocokkah. Dan terbuka berarti kita membuka diri untuk perbaikan dan masukan dari orang lain melalui professional talk.

Melaui metode six thinking heads, bu Itje mengajak kami untuk mengenali berbagai karakter orang dengan berada di posisi karakter tersebut. Metode ini berguna untuk kemudian saling mengenali gaya dan karakter masing-masing individu sehingga muncul karakter diri kita yang lebih bijak dalam menyikapi berbagai perbedaan karakter manusia, khususnya pendidik.

Jadi, pada dasarnya, professional talk adalah proses sharing di antara para profesional pendidik. yang kemudian akan memunculkan “the third brain’, yaitu gabungan ide dari dua orang yang berbeda, yang tentunya menjadi ide yang lebih dahsyat! Untuk itu, sebagai seorang profesional, tentu kita wajib membudayakan professional talk yang tentu sangat bermanfaat bagi pengembangan diri dan profesi kita.