Sebagai sekolah yang mengusung keahlian khusus para siswanya, SMK tentu harus semakin berbenah diri memberikan kesempatan belajar yang jauh lebih aplikatif kepada para siswanya. Dengan pembelajaran yang lebih bersifat praktis dan aplikatif, siswa akan lebih siap menghadapi dunia kerja ke depannya. Sayangnya, dunia kerja di Indonesia saat ini semakin tidak sehat. Dengan banyaknya sistem outsourcing bagi pekerja, yang tidak banyak menguntungkan mereka, tentu pilihan menjadi karyawan sangatlah riskan. Untuk itu, sekolah kejuruan harus semakin mengedepankan keahlian-keahlian yang lebih prospektif, semisal wirausaha.

Dunia usaha, atau di SMK dikenal dengan mata pelajaran kewirausahaan, memang menjadi mata pelajaran yang sedang digalakkan di hampir setiap sekolah. Tidak hanya di SMK sebenarnya, SMA juga tertarik untuk memasukkan kompetensi kewirausahaan ini dalam salah satu mata pelajaran mereka. Dengan praktek-praktek dagang yang siswa lakukan, sedikit banyak akan membelajarkan siswa tentang bagaimana memulai dan menjalankan sebuah usaha. Dari bagaimana mereka memikirkan produk apa yang akan dijual, membuat anggaran hingga merancang promosi yang efektif agar dagangan mereka laku dijual.

Tentu praktek satu hingga tiga jam pelajaran tidaklah cukup untuk membelajarkan siswa tentang dunia usaha. Untuk itu, mulai semester ini, SMK kami memberikan pembelajaran di luar ruang kelas. Dengan program pengenalan dunia usaha, siswa diminta mencari tempat usaha yang bisa memberikan kesempatan kepada mereka untuk magang dan mendapatkan ilmu dagang yang sebenarnya, tidak hanya by the book.

Program ini sebenarnya program pengganti kunjungan industri bagi siswa kelas X SMK. Program kunjungan industri ini umumnya dilaksanakan serempak bagi seluruh kelas X dan biasanya siswa diajak berkunjung ke tempat-tempat industri. Di sana mereka akan diberikan wawasan tentang perusahaan tersebut dan produknya secara umum dan klasikal, lalu mereka diajak berkeliling ke ruang produksi dan melihat-lihat proses pembuatan produknya. Sayangnya, kunjungan ini sangat dangkal akan ilmu aplikatif. Artinya siswa hanya bisa mendengarkan penjelasan dan tidak bisa terlibat langsung di dalamnya. Itu bagi siswa yang mau mendengar. Bagi siswa yang sibuk sendiri, rasanya apa yang mereka jelaskan hanya masuk telinga kanan dan keluar telinga kiri.

Karena alasan itulah, program PDU dengan cara magang di dunia usaha dilaksanakan untuk memenuhi kebutuhan akan life skill yang lebih aplikatif. Program ini dilaksanakan dalam kurun waktu 5 hingga 7 hari. Siswa dibagi dalam kelompok yang terdiri dari 2 hingga 3 orang tergantung dari setiap dunia usaha yang dimasuki. Mereka diwajibkan magang selama 7 jam sehari menggantikan waktu belajar mereka di sekolah. Untuk menghindari banyaknya materi tertinggal, program ini dilakukan bersamaan dengan libur siswa kelas X karena siswa kelas XII menghadapi Ujian Sekolah.

Sebagai pembimbing kelompok, saya pun ditugaskan untuk menyerahkan surat serah terima siswa kepada pihak dunia usaha yang bermitra dengan kami. Dunia usaha yang dipilih sesuai dengan hasil pencarian siswa sendiri. Pilihan pun beragam. Ada yang magang di bank, toko-toko, warung makan, bengkel, dan reparasi komputer.

Siswa bimbingan saya yang terdiri dari 2 kelompok memiliki tempat magang yang  berbeda. Untuk kelompok pertama, mereka diterima magang di BRI. Ketika saya temui pihak pimpinan kantor cabang pembantu BRI Setu, pihak mereka sangat terbuka dengan program ini. Walaupun pada awalnya mereka bingung akan memberikan tugas apa ke siswa kami, akhirnya mereka memutuskan untuk mencatatkan dan registrasi di buku besar. Karena tentu para siswa ini belum bisa mengerjakan pekerjaan yang butuh skill khusus. Setidaknya siswa bisa melihat bagaimana proses usaha perbankan dijalankan. Produk apa saja yang tersedia dalam sebuah bank, dan kendala atau kesulitan apa yang biasa dijumpai dalam dunia perbankan.

Lain halnya dengan kelompok 2. Mereka mendapat kesempatan magang di sebuah rumah makan “Alula” yang juga terletak di wilayah Setu. Rumah makan yang menjual menu “mie ayam yamin” ini tergolong baru. Dibuka sekitar 1 bulan lalu, sehingga mungkin terlihat belum terlalu ramai, walaupun selalu ada pengunjung yang menikmati mie ayam mereka. Saya pun berkesempatan bertemu dan berbincang dengan pemilik rumah makan tersebut. Pertama kali kenal, sosok sang pemilik bernama mas Zaldy itu memang berbeda. Dengan gaya santai, ia hanya berpakaian kaos dan bercelana pendek, ia menerima kami dengan hangat dan tangan terbuka.

Tak disangka, sang pemilik yang terkesan sangat santai itu, ternyata jebolan S2 jurusan Bisnis dari Pelita Harapan! Wow! Memang pepatah “don’t judge the book by its cover” benar adanya. Selain bisnis, mas Zaldy ini ternyata seorang musisi. Tidak heran memang dengan gayanya yang nyentrik dan rambut gondrongnya. Jangan tanya tentang pemikirannya! Bisa dibilang kami terkesima dengan filsafat-filsafat hidup dan bisnis yang ia lontarkan.

Ia pun dengan sangat terbuka mengisahkan asal mula bisnisnya tersebut. Dengan industri musik yang sangat tidak menguntungkan bagi para musisi, menurutnya konsep mp3 itu sangat menghancurkan dunia musik yang penjualan kaset dan CD sangat turun tajam. Penyanyi yang ada sekarang lebih kepada penyanyi kaya yang hanya mencari nama. Dengan proses rekamam senilai 150 juta rupiah, sulit bagi musisi yang “tidak terlalu kaya” untuk bersaing. Kalaupun mau, mereka harus siap naik turun panggung. Jadinya seperti karyawan saja, yang harus aktif untuk bisa mendapatkan penghasilan. Padahal jika saja kaset masih diminati, musisi bisa mendapatkan penghasilan pasif dari royalti penjulaan album mereka.

Melihat kondisi ini, mas Zaldy pun akhirnya banting setir ke dunia usaha. Mengambil hadis Rasul yang menyatakan bahwa Allah membuka 10 pintu rejeki, dan 9 diantaranya diperoleh dengan berdagang, mas Zaldy pun dengan percaya diri mengikuti jejak Rasulullah tersebut. Ia sangat yakin bahwa usahanya bisa berjalan dengan baik karena saingan pengusaha di Indonesia masih sangat kecil. Baru ada sekitar 0,2 % pengusaha dari seluruh penduduk Indonesia. Sementara, jika suatu negara dibilang maju, maka harus ada minimal 4% penduduk Indonesia yang menjadi pengusaha. Jadi, saingan masih sedikit. Manfaatkan kesempatan ini untuk membuka usaha sendiri dan menciptakan lapangan kerja untuk orang lain.

Mendengar penuturannya, kami merasa senang bahwa siswa kami mendapat tempat magang dengan pemilik seperti mas Zaldy. Setidaknya mereka bisa mendapatkan ilmu langsung dari seorang master bisnis, dan juga bagaimana mengaplikasikan ilmu itu dalam bentuk nyata. Dalam hal ini menjalankan usaha warung mie ayamnya itu.

Program ini cukup menyenangkan bagi siswa-siswi kami. Tampaknya hal ini bisa dijadikan program tahunan yang berkesinambungan sehingga siswa benar-benar bisa mendapatkan life skill yang real di luar ruang kelas. Dan kami pun tak lupa berterima kasih kepada pihak dunia usaha yang mengijinkan siswa kami untuk magang dan mendapatkan banyak pengalaman hidup dari mereka. Semoga saja program ini bermanfaat untuk banyak pihak.