Siapa bilang berburu itu dilarang? Buktinya ada orang Indonesia loh yang dianugrahkan sebagai Pemburu Profesional Dunia. Beliau bernama Pak Rahmat Shah. Asli Sumatera Utara, Pak Rahmat telah berburu ke hampir seluruh belahan dunia. Bahkan ia sering pula mengajak keluarganya berburu ke Afrika. Salaha satu anaknya, Raline Shah, yang memesona penikmat film dengan aktingnya di film ‘5 cm’, juga ternyata penyayang hewan karena seringnya bergelut dengan satwa.

Sementara orang akan sangat menghujat para pemburu hewan, pak Rahmat Shah ini malah dinobatkan sebagai satu-satunya orang Indonesia yang menjadi pemburu internasional dunia. Lalu apa yang membedakan beliau dengan para pemburu di Indonesia yang lebih banyaka meresahkan warga dan negara ketimbang mendapat pujian.

Menurut beliau, perburuan yang ia lakukan adalah perburuan dengan konsep “conservation by utilization”. Kalau ditrejemahkan menjadi konservasi dengan pemanfaatan. Apa yang dimaksud dengan “Konservasi dengan Pemanfaatan” ini?

Jadi dalam berburu itu ada pakem-pakem khusus yang harus dipatuhi. Pakem itu diantaranya adalah persyaratan terhadap hewan apa dan yang bagaimana yang boleh dan bahkan wajib diburu. Ia mencontohkan rusa. Rusa jantan yang sudah tua bercirikan tanduk yang bercabang tiga. Biasanya ia akan dikelilingi oleh sekitar enam rusa betina. Sayangnya, karena usia, rusa tua ini sudah tidak lagi produktif. Tetapi, ia pun tidak akan mau melepaskan rusa-rusa betinanya. Bahkan jika ada rusa muda yang akan mendekati rusa betina tersebut, tidak segan akan ditantang berduel oleh si rusa tua yang seringnya menang dalam setiap duel. Nah, karena tidak produktif itulah, dan lebih banyak rusa muda yang mati karenanya, rusa tua ini wajib diburu. Tujuannya adalah untuk memberikan kesempatan kepada para rusa betina dan rusa jantan muda untuk berkembang biak. Pada akhirnya, spesies langka itu pun akan bertahan dan tidak punah.

Tidak hanya rusa, masih banyak hewan-hewan yang sudah sepatutnya untuk diburu. Untuk gajah, syarat yang ditentukan oleh ketentuan perburuan internasional adalah gajah dengan ukuran gading sepanjang 1,5 meter. Sementara hipopotemus tua memiliki karakter yang sangat  beringas dan bisa sering memangsa manusia. Bahkan di Afrika sana, hipopotemus lah yang terbanyak membunuh manusia, bukannya singa atau harimau.

Dalam ketentuan perburuan internasional juga dinyatakab bahwa pemburu harus membayar ijin berburu hingga ribuan dollar, yang uangnya ini masuk ke konservasi perlindungan hewan juga. Bahkan ketika berburu dan salah tembak, yang ada malah kena denda. Untuk itu, perburuan wajib dilakukan di siang hari untuk menghindari salah sasaran.

Kalau mendengar penuturan beliau, rasanya wajar kalau ia disebut sebagai pemburu internasional. Tentu beda dengan pemburu di Indonesia yang umumnya pemburu liar yang mengancam kepunahan hewan langka karena mereka membunuh tanpa mengikuti aturan dan bahkan memanfaatkan hasil buruannya untuk kepentingan pribadi. Kalau istilah pohon, pak Rahmat melakukan perburuan sistem tebang pilih. Tidak asal menembak hewan yang pada akhirnya malah mengancam keberadaan hewan langka di Indonesia. Bahkan spesies harimau sumatera kini sudah tinggal satu saja.

Sebagai ketua himpunan kebun binatang se-Indonesia, pak Rahmat merasa tugas inilah yang paling menyenangkan hatinya karena kebun binatang bisa menjadi pusat belajar bagi banyak masyarakat di Indonesia, khususnya pelajar.

Jika saja semua pemburu di Indonesia khususnya dan di dunia umumnya bisa melaksankan konsep “Konservasi dengan Pemanfaatan”, maka besar kemungkinan spesies hewan langka yang ada di dunia akan bisa terselamatkan dan hewan sebagai salah satu penyeimbang lingkungan hidup akana kembali berperan besar bagi kelangsungan hidup makhluk hidup di dunia.