Awal tahun 2000an…

Mengenal kata asuransi ketika mengirim lamaran ke PT Sinar Mas. Pada awalnya tidak tahu apa itu asuransi. Saya sendiri merasa terjebak ketika ada panggilan untuk wawancara dan ternyata sesampainya di lokasi, kami malah diminta berjualan asuransi. Kalau mendengar kata “jualan”, saya sudah antipati duluan. Rasanya, jualan itu pekerjaan yang sangat berat buat saya. Mungkin karena tidak ada passion ke arah sana ya? Walaupun saya tahu, pekerjaan yang paling cepat dapat untungnya ya berjualan itu. Tapi, namanya bukan passion, saya pun tidak melanjutkan proses perekrutan tersebut.

Awal tahun 2005…

Ternyata, almarhum adik saya masuk dan tergabung menjadi agen asuransi. Awalnya, kami keluarga sempat tak setuju karena kekhawatiran yang mengatakan bahwa asuransi itu haram. Namun, setelah dijelaskan panjang lebar oleh almarhum, kami pun mulai sedikit terbuka dengan ide asuransi tersebut. Berhubung adik saya wajib polis kepada sejumlah nasabah, maka target utamanya adalah keluarganya sendiri. Maka dengan rayuan mautnya, kami berempat adik kakak pun masuk menjadi nasabahnya. Resmilah kami menjadi salah satu nasabah di salah satu asuransi yang selalu mendengar dan selalu memahami. Itu kata iklannya loh!

Asuransikan kepala keluarga terlebih dahulu…

Saya adalah orang tua tunggal bagi putra saya satu-satunya. Awalnya ada keinginan untuk mengasuransikan putra saya saja. Karena, usia anak-anak terkadanga masih sangat rentan terhadap penyakit. Minimal, jika ada hak mendadak terjadi padanya, saya sudah menyisihkan uang melalui asuransi. Namun, saran almarhum adalah saya diminta untuk membuat polis atas nama saya sendiri sebagai kepala keluarga atau yang mencari nafkah. Alasannya. ketika terjadi hal-hal yang tidak diinginkan sehubungan dengan sakit atau kematian, maka kita bisa terproteksi dengan asuransi kita tanpa harus bingung mencari dana dadakan. Sementara, jika yang terkena musibah (naudzubillhamindzalik, jangan sampai kejadian) adalah putra saya, kita sebagai pihak orang tua masih bisa mengusahakan dengan berbagai cara untuk memenuhi kebutuhan dadakan tersebut. Syukur-syukur sih kalau kita bisa mengasuransikan seluruh anggota keluarga. Namun, jika dana belum mencukupi, maka pilihan polis jatuh pada kepala keluarga.

Berharap akan celaka atau musibah?

Ketika akhirnya saya memutuskan untuk memanfaatkan jasa asuransi, bukan berarti saya berharap akan sakit, celaka atau tertimpa musibah, Tentu bukan itu yang diharapkan. Niat saya lebih kepada menabung. Dengan harus membayar polis setiap bulannya, maka saya seolah-olah dipaksa untuk menyisihkan uang. Jika saya harus menabung sendiri di rekening pribadi, rasa-rasanya uang itu tidak akan bertahan lama. Akan ada banyak kebutuhan yang mengikuti ketersediaan uang, Untuk itu, supaya tabungan saya tidak diotak-atik, maka saya titipkan di asuransi, Ketika ada keuntungan lain dari menabungnya saya di asuransi, maka saya anggap itu adalah bonus dari hasil investasi saya.

Sampai saat ini pun saya bersyukur bahwa saya masih diberi kesehatan yang prima sehingga saya tidak perlu memanfaatkan manfaat proteksi dari asuransi yang saya ikuti. Sempat mengambil dana tunai yang tersedia untuk biaya sekolah anak, sehingga nilai tunai yang ada di tabungan akan berkurang. Setidaknya, itu lah manfaat yang bisa saya nikmati sepanjang saya menjadi peserta asuransi selama kurun waktu 7 tahun ini. Dengan sisa waktu 3 tahun ke depan membayar premi, maka saya bisa melanjutkan dengan mendaftarkan putra saya menjadi peserta asuransi juga. Sehingga kami berdua memiliki tabungan untuk ke depannya sekaligus bisa terlindungi dari sakit, celaka atau musibah secara aman.

Selamat Menabung dengan Proteksi!