Kalau membicarakan tentang PTK (Penelitian Tindakan Kelas) maka akan banyak guru yang mengelus dada. Dibicarakan bikin pusing, dikerjakan tambah mumet, dibiarin jabatan mandek! Kalau pakai istilahnya Warkop DKI, maju kena mundur kena.

Ya, sampai saat ini PTK masih belum menjadi favorit di kalangan para guru. Walaupun mereka tahu bahwa PTK ini wajib dilakukan, baik sebagai alasan untuk kenaikan pangkat atau sebagai refleksi mengajar (ini alasan yang utama semestinya), keengganan untuk melaksanakannya tampak lebih besar dari mendapatkan manfaatnya.

Sayangnya, demi mengejar kenaikan pangkat dan golongan, akhirnya banyak guru yang menghalalkan berbagai cara untuk memenuhi syarat yang satu ini. Banyak sekali ditemukan kasus-kasus PTK aspal, alias asli tapi sebenarnya palsu. Menurut salah satu tim penilai PTK guru, di salah satu daerah saja, ada sekitar 1300 guru yang diturunkan jabatannya dikarenakan memalsukan laporan PTKnya. Setelah diteliti ternyata PTK mereka kebanyakan hasil jiplakan dari karya orang lain.

Memang, dengan kemudahan fasilitas internet saat ini, banyak sekali orang yang mengupload hasil karya mereka. Tentu, maksud mereka baik dengan harapan bahwa apa yang mereka tuliskan bisa menjadi referensi banyak pihak. Sayangnya, kebaikan mereka banyak disalahartikan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab. Alih-alih data tersebut dijadikan sebagai bahan acuan, malah diambil mentah-mentah oleh para plagiat.

Menurut Dr. Nusa Putra, pada workshop PTK yang diselenggarakan di Wisma UNJ Jakarta pada Minggu, 24 Februari 2013, PTK itu bisa jauh lebih sulit dibandingkan mengerjakan disertasi karena ini menyangkut ke peserta didik. Maka, sangatlah tidak mungkin jika PTK ini bisa selesai dalam jangka waktu singkat tanpa terlihat ada proses yang dilakukan. Keberhasilan PTK sendiri bukanlah harga mati. Karena pelaksanaan PTK ini bukan untuk mencari kebenaran, tetapi lebih menitikberatkan pada perubahan yang terjadi pada peserta didik baik secara perilaku maupun hasil belajar.

Jadi, ketika PTK kita gagal, itu tidak apa-apa. Yang penting adalah semuanya harus tercatat dan direfleksikan. Jelaskan secara rinciĀ  mengapa bisa gagal dengan kata-kata yang spesifik. Lalu, kegagalan ini dijadikan sebagai bahan pertimbangan lain untuk melaksanakan PTK lanjutan.

Untuk itu, PTK haruslah dilaksanakan oleh guru yang bersangkutan. Kita bisa saja mencari referensi atau rujukan dari karya orang lain melalui browsing di internet. Tapi tentu kita tidak bisa ambil mentah-mentah karya tersebut. Karena kondisi kelas kita, hanya kitalah yang tahu. Dengan karakter peserta didik yang berbeda, dan materi yang berbeda, tidak semerta-merta kita bisa ambil metode atau model pembelajaran orang lain tersebut ke kelas kita.

Sebagai bentuk pertanggungjawaban kita sebagai guru, tentunya PTK harus masuk ke daftar utama planning mengajar kita sehingga tidak ada lagi guru yang dengan seenaknya mengcopy paste hasil karya orang lain.

Ayo mulai dari diri kita (berlaku untuk saya juga) dan mulailah sekarang!