Sore menjelang malam, saya kehadiran seorang tamu. Kenalan saya sejak sebulan lalu. Sebelumnya kami sering bertukar pikiran di telepon saja. Obrolan kami pun bisa berbagai ragam dan cerita. Ini kedua kalinya ia bertandang. Saya pikir ini momen yang tepat. Kenapa? Karena dari obrolan kami di telepon malam sebelumnya, ada hal mengganjal yang sempat mengganggu penilaian saya terhadapnya.

Di obrolan kami sebelumnya, ia mengisahkan pengalaman hidupnya yang bagi saya sangat kelam dan suram. Bagaimana ia pernah menjalani masa bebas yang teramat bebas. Sebagai seorang yang berasal dari kampung dan merantau ke kota besar, Jakarta, tak banyak ia ketahui tentang seluk beluk kota metropolitan yang terkenal kejam itu. Usianya saat itu baru sekitar 21 tahun. Usia rawan pencarian identitas.

Mengadukan nasibnya di kota besar, ia pun menekuni dagang sebagai profesinya. Entah karena ia memiliki keahlian, atau memang Allah memberikan kemudahan baginya, usaha dagangnya bisa dibilang cukup lancar dan menguntungkan. Bahkan mencari uang ratusan ribu per hari itu sangatlah mudah. Sayangnya, kondisi ini tidak diiringi dengan gaya hidup yang benar. Berada di lingkungannya yang baru itu, ia mulai mengenal minuman keras dan judi. Hampir setiap malam, ia habiskan uangnya untuk mabuk-mabukan. Bahkan ia ingat sering kali tertidur di pinggiran jalan, atau bahkan merasakan tidur di selokan. Dengan judi, ia bisa menanggalkan pakaiannya dan bersisa celana dalam saja.

Tidak sampai di sana, narkoba menjadi teman hidupnya selama kurang lebih empat tahun di masa suramnya. Banyak sudah kejadian yang menimpanya hingga pernah menjadi buronan polisi. Dan di saat-saat ini seperti tentu tidak banyak yang bisa dilakukan oleh teman, keluarga atau lingkungannya. Baginya, dan bagi sebagian orang yang senasib dengannya, nasehat, himbauan, larangan orang lain itu tidak ada artinya. Mereka sedang berada dalam tingkat keegoisan yang paling tinggi.

Maka tidaklah mengherankan jika apa yang kita dengar dari mulutnya dan mereka adalah kata-kata seperti “ini hidup gue, lo gak perlu ikut campur! Duit-duit gue koq, gue gak minjem dari lo! Badan gue ini yang rusak, bukan badan lo!” Jadi seolah-olah, tingkah polah mereka mengkonsumsi barang-barang haram itu murni hanya berpengaruh pada diri dan tubuh mereka sendiri. Mereka tidak tahu bahwa ada banyak pihak yang terkena dampak dari kehidupan mereka yang tidak benar tersebut.

Siapa yang paling berdampak langsung?

Ya, keturunan mereka kelak. Mereka tidak pernah membayangkan bahwa suatu saat ketika mereka menikah dan memiliki anak, darah mereka yang telah tercemar dengan minuman keras dan obat-obatan terlarang akan diturunkan ke anak-anak mereka. Kebiasaan berjudi pun akan tertanam dalam tubuh dan pikiran mereka. Benar, bahwa anak yang dilahirkan itu suci dan bagaikan kertas putih bersih tanpa noda. Orang tua lah yang akan mewarnai kertas putih tersebut. Dan jika kita sebagai orang tua mereka pernah melakukan banyak kesalahan, maka gen negatif itu akan terturunkan ke anak. Jika dipicu oleh lingkungan yang baik, gen negatif ini bisa mengendap dan tidak terekspos. Sebaliknya, jika lingkungan mereka lebih banyak memicu gen negatifnya, tidak menutup kemungkinan kejelekan-kejelekan orang tuanya terturunkan ke anaknya.

Maka ketika kita  bilang bahwa keburukan kita hanya berimbas pada diri kita sendiri, itu adalah kesalahan terbesar yang kita lakukan. Karena ternyata kita menyimpannya dalam tubuh dan darah kita, yang jika kita memiliki keturunan, maka secara tidak langsung gen itu akan mengalir ke anak cucu kita. Apalagi dengan dipicu oleh trigger yang salah.

Contoh kasus: Dalam darah anak seorang koruptor, mengalir perilaku orang tuanya yang koruptor. Jika ia berada dalam lingkungan yang korup juga, maka perilaku korup ini menjadi mendarah daging. Pada akhirnya, gen negatif itulah yang tumbuh kuat di dalam diri sang anak. Beda halnya ketika si anak koruptor berada dalam lingkungan yang kondusif untuk membangun kebaikan, maka ada kemungkinan gen korup nya akan mengendap dan tertutup oleh gen postif yang lebih banyak terpicu.

So, sebelum anda bertindak, berpikirlah untuk masa depan keturunan anda. Karena keturunan anda bergantung pada bagaimana anda menjalani hidup anda sebelumnya.