Mendengar berita tentang tewasnya seorang gadis bernama Annisa karena meloncat dari angkot yang sedang berjalan, memang sangat mengejutkan. Aksi nekad ini dipicu karena ketakutan akan diculik oleh si supir angkot, yang membawanya ke rute yang bukan biasanya. Tentu bukan tanpa sebab hingga Annisa nekad meloncat. Menurut penuturan si sopir angkot, ia berusaha membantu Annisa yang katanya salah naik angkot. Tapi, secara logika, jika Annisa merasa aman berada di angkot tersebut, pasti ia tidak akan berani melakukan tindakan yang berujung maut tersebut.

Annisa hanyalah satu dari sekian banyak kisah yang terjadi di angkot. Kekhawatiran para penumpang angkot, khususnya perempuan ini, memang berdasarkan banyak pengalaman dan berita yang tersiar mengenai kejahatan yang terjadi di angkot. Mulai dari penculikan hingga pemerkosaan.

Kalau mau ditelusur, masih banyak jenis kejahatan yang bisa terjadi di atas angkot. Saya adalah salah satu dari korban kejahatan yang berhubungan dengan alat transportasi umum itu. Saya ingat ketika SMP, saya kebagian duduk di bagian belakang sebuah angkot. Kebetulan angkot selalu padat di pagi hari bersamaan dengan pelajar dan pegawai kantor. Tiba-tiba ada seorang pria paruh baya duduk tepat di samping kiri saya. SSetelah beberapa menit, saya merasakan ada sesuatu yang menyentuh bagian sensitif saya. Ternyata siku si pria tadi berusaha untuk menyentuhnya. Saya sangat marah, dan langsung bergerak menjauhi si pria tersebut. Sayangnya space di dalam angkot tersebut memungkinakan untuk bergerak jauh. Akhirnya saya pun berusaha menjaganya agar tidak tersentuh oleh sikunya.

Di lain waktu, saya pulang sekolah naik bis, tiga perempat. Di tengah perjalanan, seorang pria naik dari pasar. Sekilas ia tampak normal. Namun, tak berapa lama mulai muncul kejanggalan-kejanggalan. Satu yang membuat saya dan penumpang lainnya terkejut adalah secara sengaja ia menurunkan resleting celananya dan menunjukkan kemaluannya, atau lebih dikenal dengan eksibisionis. Kontan para penumpang, terutama perempuan menikah, memalingkan wajah. Demi keamanan saya, saya pun turun dari bis dan naik ke angkot lainnya.

Kejahatan lain yang pernah saya alami adalah pencopetan. Saat itu saya sedang di angkot dan HP saya simpan di dalam tas. Sayangnya, tas bagian atas tidak dengan resleting, tetapi hanya ditutup dengan tali saja. Tanpa curiga, saya memang melakukan texting di depan banyak orang di angkot. Keteledoran dan pemilihan tas yang tidak tepat menjadi pemicu pencopet itu untuk beraksi. Alhasil, saya menyadari kehilangan handphone setelah kurang lebih 10 menit sebelum pulang. Padahal HP itu dibeli dengan kredit, dan masih 6 bulan untuk melunasinya.

Pencopet beraksi di angkot  bukan terdengar satu atau dua kali saja. Sering saya jumpai para pencopet mahir tersebut yang umumnya mereka akan beraksi berkelompok. Jika kita duduk di pojok, maka dengan mudahnya mereka akan mengunci kita. Satu orang akan duduk di bagian depan, sementara  yang lainnya duduk di samping kiri atau kanan kita, maka terjebaklah dan tanpa sadar barang milik kita atau uang sudah berpindah tangan.

Maka, wajarlah bila disebut bahwa angkot adalah sarang kejahatan. Walaupun tentu tidak semuanya seperti itu. Dan jangan disalahkan pula ketika banyak orang lebih memilih kendaraan pribadi dibandingkan naik angkutan umum.