Akhir-akhir ini saya sering berbincang dengan teman-teman baru saya. Perbincangan kami cukup seru dan menyenangkan. Dari obrolan seputar kebiasaan, hobi dan kerjaan, bahasan tentang kehidupan, hingga filosofi hidup. Usia mereka rata-rata berkisar 28 hingga 30 tahun. Masing-masing individu sangat lah berbeda. Tapi, ada satu kesamaan dari mereka. Ya, sama-sama masih jomblo! Alias masih senang melajang.

Dengan usia seperti itu, saya sempat bertanya-tanya, apa yang membuat mereka betah hidup sendiri. Akhirnya, saya coba cari tahu dari mulut mereka. Saya pancing dengan pernyataan bahwa di keluarga kami, rata-rata para lelakinya menikah di usia antara 24-25 tahun. Umumnya, selesai menuntaskan kuliah mereka, dapat kerjaan, maka istri menjadi target selanjutnya. Maka tak heran, setelah mendapat penghasilan tetap selama kurang lebih satu tahun, mereka siap untuk mengarungi rumah tangga.

Lalu, apa yang terjadi dengan kawan-kawan saya itu? Dengan usia yang bisa dibilang sudah dewasa, rasanya sayang sekali jika mereka menyia-nyiakan hidupnya dengan tidak menyempurnakan setengah dari agama mereka. Satu per satu keluarlah alasan-alasan yang terlontar dari mulut mereka.

1. Ketidaksiapan mental.

Banyak dari lelaki lajang yang tidak siap mengarungi rumah tangga. Kekhawatiran muncul dari pemikiran sanggupkah mereka membina rumah tangga dengan kondisi mereka yang menurut mereka belum bisa dibilang sukses. Mental tempe, kalau bisa saya bilang.

2. Ketidaksiapan finansial.

Ada para lelaki yang menjadikan kondisi keuangan mereka sebagai alasan untuk belum siap membina rumah tangga. Mereka bilang “Saya ini karyawan biasa. Tahulah seberapa besar gaji karyawan.  Buat diri sendiri aja masih kurang, apalagi buat menghidupi anak istri?”

Jika ada pria yang seperti ini, saya hanya bisa bilang bahwa mereka tidak memiliki kepercayaan diri. Pria yang tidak berani mengambil tanggung jawab yang lebih besar, sehingga mereka menghindari tanggung jawab mulia itu.

3. Trauma

Ternyata, trauma berhubungan tidak hanya dihinggapi para perempuan. Lelaki pun mengalami hal serupa. Pernah ada cerita dari salah seorang kawan. Ia pernah berhubungan dengan seorang perempuan. Mereka saling sayang dan siap menikah. Sayangnya, si orang tua perempuan menolak dan sempat berujar “Kamu mau menikah sama dia? Mau makan apa?” Sakit hati dengan penolakan calon mertuanya, si lelaki itu pun mundur. Kekasihnya pun lebih memilih mengikuti kata orang tua sehingga terputuslah kisah kasih mereka.

Aih, lelaki koq cengeng ya? Harusnya mereka bisa membuktikan ketulusan cintanya dan meyakinkan sang camer bahwa apapun keadaannya, ia akan  berusaha sekuat tenaga untuk membahagiakan putri mereka. Sayangnya, sakit hati lebih menguasainya sehingga ia trauma untuk berhubungan lagi dengan perempuan.

4. Dikecewakan perempuan.

Mereka menganggap bahwa semua perempuan itu bermuka topeng, munafik. Di depan mereka bilang sayang, di belakang mereka menohok dengan tindakan yang tak pantas. Pengalaman dikecewakan perempuan membuat mereka antipati dan memilih untuk setia melajang. Katanya menunggu perempuan tulus berhati mulia datang pada mereka?

Hmm….bisa gak yah jodoh datang dengan sendirinya? Pria seperti ini harus belajar bahwa tidak semua perempuan itu seperti apa yang ia alami. Masih banyak pastinya perempuan baik yang menanti ajakan para pria untuk meminangnya dan membina rumah tangga yang sakinah mawaddah warohmah.

Nah, bagi yang lajang, anda ada di kelompok mana?🙂