Ini tahun pertama kami menikmati guyuran hujan deras di rumah baru. Sebenarnya kami hanya pindah RT saja. Sebelumnya di RT 002, saat ini di RT 001. Jadi hanya beda beberapa ratus meter saja dari rumah lama yang rencananya akan dialihfungsikan menjadi kos-kosan. Tapi perbedaan jarak ratusan meter ini membawa perbedaan yang cukup berarti. Perbedaan yang mencolok terjadi saat hujan deras mulai mengguyur seluruh wilayah Jakarta, Bekasi dan sekitarnya. Dan tentu tidak heran bahwa setiap hujan deras, banjir akan selalu mengintai.

Hampir sepanjang tahun di rumah lama, kami tidak mengalami banjir. Bahkan halaman kami pun hanya sebentar tergenang air lalu cepat surut kembali. Tidak pernah air betah berlama-lama di halaman rumah kami. Sayangnya, bebas banjir itu tidak lama kami rasakan. Di rumah kami yang sekarang, keadaan malah berbalik. Air setinggi betis putra saya yang berusia 8 tahun sepertinya betah berlama-lama menggenangi halaman rumah kami. Sudah dua hari ini sejak hujan deras, genangan air masih bertahan. Padahal kami sudah membuat resapan air yang cukup besar sekitar 8 X 3 meter. Ternyata, resapan air yang kami pelihara ikan di dalamnya tak mampu menampung terjangan air yang cukup dahsyat sepanjang dua hari ini.

Resapana air, atau empang kami yang ada di belakang rumah sudah naik hingga 1,5 meter. Dan air akhirnya menyebar ke sekeliling rumah yang posisinya jauh lebih rendah dari lantai rumah kami. Keadaan ini dijadikan kesempatan buat ikan-ikan kami untuk melanglang buana. Mereka menyebar ke setiap genangan air yang dalamnya sekitar 20-30 cm itu. Jika saja hujan tak berhenti, ada kemungkinan air akan naik ke lantai teras rumah.

Tentu banjir menjadi sangat menyenagkan bagi ikan-ikan kami karena mereka bisa berenang lebih bebas dan leluasa. Dan ternyata bukan ikan kami saja yang senang dengan adanya banjir ini. Putra saya pun ikut menikmati genangan air yang warnanya tak lagi bening itu. Dengan riangnya dia bermain sepeda di halaman yang penuh dengan air. Katanya seru! Ia bisa naik sepeda menembus air, rasanya menyenangkan. “Aku seneng, ma. Bisa main air sambil nyuci sepeda aku. Tadi aku terjatuh ma dua kali, tapi gak sakit tuh. Soalnya jatuhnya kan di air!”

banjir

Melihat keceriaannya, yang akhir-akhir ini lebih sering bermain dengan netbooknya saja, saya pun akhirnya membiarkannya bermain di air banjir itu. Walaupun saya berharap ini untuk pertama dan terakhir kalinya. Minimal dia memiliki pengalaman merasakan banjir walaupun tidak ingin kami merasakan banjir yang lebih parah dari yang sekarang kami alami.

Sekali-kali, bolehlah kalau bilang “banjir itu menyenangkan!” Setidaknya untuk ikan-ikan dan putraku hari ini.

banjir