Suatu sore yang melelahkan. Jenar baru saja tiba di rumah setelah mengikuti pelatihan sehari penuh. Menjadi kebiasaan baginya mempreteli segala yang ada di badan hingga tersisa pakaiannya saja. Seharian memakai kerudung membuat keringatnya mengalir deras. Tapi tentu ia tidak mengeluhkan itu. Karena keputusannya untuk berkerudung pun muncul dari hati kecilnya yang paling dalam. Ia merasa, sejak berhijab, kepercayaan dirinya meningkat. Ia bahkan merasa tampak lebih modis dengan hijabnya.

Tiba-tiba, telepon genggamnya berdering. Krinngggg….kringgg….kringggg….

Ia mencari-cari telepon genggamnya, ternyata ada dibalik kerudung yang tadi ia lepaskan di atas kasur. Tergesa-gesa, ia mengangkatnya tanpa melihat siapa nama yang tertera di layar kacanya.

” Halo, assalamualaikum?”

“Halo…” Suara pria, gumam Jenar.

“Maaf, ini siapa?” balas Jenar dengan sopan namun tetap waspada. Maklum, sekarang ini kan banyak orang iseng atau penipu yang sering bergerilya via telepon. Ia sempat melirik ke layar teleponnya dan ternyata benar nomornya tidak ia kenali.

“Saya Andi”

“Andi? Andi mana ya?”

“Masak kamu lupa sih? Andi.”

“Maaf mas, saya kenal beberapa nama Andi, tapi suaranya tidak sama dengan suara si mas!” Jenar sudah mulai terusik.

“Iya, maaf, sebenarnya nama saya Ridho.”

“OK, mas Ridho cari siapa?”

“Cari kamu.” Ridho sudah mulai menggodanya. Jenar kangen ngobrol dengan teman pria. Sejak ditinggal menikah dengan pria yang ia cintai, ia kangen sms-sms yang datang menanyakan kabar atau sekedar berbincang ngalor ngidul. Jenar sempat sedih dan terluka, tapi ia sadar, cinta pria itu bukan untuknya. Ia hanya bisa ikut bahagia ketika orang yang dicintainya memutuskan untuk menikahi pilihan hatinya.

Obrolan itu berakhir cukup lama. Dari yang awalnya canggung, sampai tertawa terpingkal-pingkal karenanya. Jenar merasa senang berbincang dengan orang asing ini. Sudah lama ia tak sebegitu cerianya. Ia merasa Ridho ini cukup menyenangkan. Tak terasa, hari sudah mulai gelap, mereka pun mengakhiri perbincangan dengan Ridho berjanji untuk menghubunginya lagi di lain waktu.

Jenar tampak senyum-senyum sendiri. Ia kembali merasakan benih-benih rasa suka terhadap lawan jenis. “Mungkinkah ini jalannya ya?” pikir Jenar.

sumber: penarevolusi.files.wordpress.com

oOo

“Maaf mas, aku harus berpisah denganmu. Jika kamu masih seperti ini, aku khawatir tak bisa menjadi pendamping yang baik untukmu. Aku takut aku menjadi istri yang membantah suaminya sendiri. Aku tak mau rumah tangga kita diisi dengan pertengkaran-pertengkaran yang melukai kita dan anak kita nanti. Lebih baik, kau pulang saja.”

Dua tahun kemudian, Jenar dinyatakan resmi berpisah. Ia terpaksa harus mengurus surat perpisahannya demi untuk kebutuhan admnistrasi diri. Dengan satu putrinya yang masih balita, ia pun berjuang hidup sendiri, tanpa bantuan siapapun.

Ia merasa sangat sanggup menjadi ibu sekaligus bapak bagi putri semata wayangnya. Tak ada keluhan yang ia lontarkan di depan keluarganya hanya untuk menunjukkan bahwa ia kuat dengan keputusannya sendiri.

Itu, enam tahun silam.

Sekarang, ketika sang putri sudah memasuki usia sekolah, banyak hal yang menjadi batu kerikil di kehidupannya. Salah satunya adalah pendamping hidup.

oOo

Tak lama setelah berbincang dengan lelaki misterius yang bernama Ridho itu, Jenar pun mulai merapihkan rumahnya. Hidup berdua dengan putrinya menjadikan ia harus benar-benar ekstra kerja keras. Sebagai ibu, pegawai, dan ibu rumah tangga. Selesai merapihkan rumah, waktunya bagi Jenar untuk menyegarkan dirinya,

Ada sesuatu yang berbeda yang dirasakannya. Bahkan ia sampai berpikir, “Kira-kira, dia telepon lagi gak ya?” “Ih, apaan sih? Koq aku jadi ngarep gini ya?” Pikir Jenar. Namun kerisauannya itu tak mau pergi dirinya. “Ia kan senang ngobrol sama aku. Katanya aku fun, menyenangkan! Aku asyik, lucu!” Tak sadar ia berbicara dengan cermin tuanya.

Hingga mata terasa berat, ternyata si pria misterius itu tidak menelponnya lagi. Jenar pun tertidur.

oOo

Keesokan harinya, ia bangun dengan suasana hati yang lebih ceria dari biasanya. Tak lama teleponnya berdering. “Mudah-mudahan Ridho yang nelpon!” pikirnya. Tapi ketika dilihat di layar teleponnya, nomor baru. Penasaran, ia pun mengangkatnya.

“Assalamualaikum..”

“Waalaikumsalam…” jawab suara, pria lagi, di seberang sana.

“Maaf mas, cari siapa?”

Dan begitulah. Kejadian dengan Ridho terulang lagi dengan penelpon misterius ini, yang katanya namanya Bagas. Jenar sempat curiga, jangan-jangan Ridho memberikan nomornya ke teman-temannya yang lain. Tapi ketika ditanyakan, Bagas tidak mengenal Ridho. Kenalan pun berlanjut. Hingga kesan yang sama tersimpan di hati Bagas.

“Bagas senang ngobrol dengan aku. Ia mau telpon lagi! Gila, dua orang dalam waktu dua hari saja! Ada apa ini? Mungkin gak ya nomor aku disebarkan oleh orang yang ku kenal? Ah, biarkan saja lah. Banyak teman banyak rejeki kan? Selama mereka tidak macam-macam, aku jalanin aja deh!” pikir Jenar.

Keceriaan Jenar berlipat ganda. Bukan hanya satu, ia mendapati dua teman ngobrol sekaligus. Dua orang yang menurutnya cukup menyenagkan. Dua pria misterius yang entah datang dari mana mengisi hari-hari Jenar.

oOo

Tak berselang lama, sekitar tengah hari, muncul lagi nomor telpon tak dikenal. Kali ini ia mengaku namanya Deny. Ia mendapat nomor Jenar dari Bagas ternyata, karena mereka satu kantor. Jenar pun menyambut pertemanan Deny seperti halnya ia menerima pertemanan yang lainnya.

Deny, tak beda dengan Bagas atau Ridho. Baik. Katanya ingin mengenal Jenar lebih dekat lagi. Katanya ingin ketemu. Sepanjang Bagas dan Deny menelepon, Ridho pun ternyata rutin menelepon Jenar. Tampaknya Ridho sempat jatuh hati padanya. Ungkapan sayang sering terlontar darinya. Namun, Jenar tetap menanggapinya denga wajar. Ia tahu, jika ia terlalu merespon, ia khawatir merasakan sakit yang sama seperti sebelumnya. Maka ia anggap semua kata dan ucapan sayang dari para pria misterius itu menjadi ujian lain baginya.

Jenar tahu, perasaannya sebagai perempuan, ingin sekali menerima rasa sayang seorang pria. Tapi ketika ada tiga pria sekaligus dan semuanya misterius, ini tentu menjadi rencana Allah yang lain untuk memberikan pengalaman hidup baginya. Jika ketiga pria itu serius, Jenar tak tahu apa yang harus diperbuatnya. Yang pasti Jenar senang, ia bisa merasakan kiriman sms-sms sayang dan telpon-telpon mesra dari para penggemarnya. Siapapun mereka, telah mengisi hari-hari Jenar kembali berbunga. Berbunga indah sekali.

oOo

Dan Jenar tak mau bangun dari mimpi ini…..