Hujan sudah mengabarkan kehadirannya sejak semalam. Belumlah banyak manusia terlelap di mimpinya, ia hadir dengan bunyi yang membahana di atap rumah. Deras dan tak terhentikan. Hujan mulai sedikit mereda di dini hari berikutnya. Belum tampak tanda-tanda ia akan meninggalkan bumi pertiwi. Bahkan hingga pagi dimana banyak manusia mulai beraktifitas, rintik-rintik hujan seolah ingin menemani. Jadilah kesibukan pagi ini meningkat luar dari biasa.

Saya adalah salah satu manusia yang kerepotan. Menatap keluar rumah, kolam ikan sudah mencapai batas akhirnya. Air sudah hampir meluap. Terpaksa, pagi-pagi harus mengleuarkan air agar ikan-ikan kami tak berloncatan ke luar kolam. Air pun menggenangi halaman depan rumah hingga semata kaki. Sulit rasanya mencari pijakan yang tak berair.

Melongok ke belakang rumah, empang kami bernasib sama. Air sudah jauh melewati batas atas empang. Entah, bagaimana dengan nasib ikan yang kami tinggalkan disana. Biasanya, mereka akan melanglang buana ke luar empang dan harus kami tangkap untuk dikembalikan. Empang yang kami buat sebagai sarana penyerapan air ketika hujan turun ternyata tak mampu menampung derasnya hujan yang juga tak tampak akan reda.

Tak tahu harus bagaimana, kami meminta bantuan mang ujang, tukang kebun dan penjaga rumah untuk mengatasi masalah ikan-ikan kami. Saya harus kembali berkonsentrasi menjemput sepupu saya untuk mengantarkan putra saya sekolah. Jarak rumahnya hanya sekitar 50 meter saja, tapi tampak sepanjang jalan, air setinggi mata kaki sempat menghambat langkahku. Terpaksa lah berjalan di titian batu bata pembatasa jalan. Bak peragawati yang sedang latihan berjalan di titian lurus, saya pun berjalan dengan sangat berhati-hati. Sayangnya, batu titian itu hanya sampai sepertiga jalan. Akhirnya, saya pun harus menaikkan celana panjang saya untuk menghindari air yang menggenang cukup tinggi. Sampai di rumah sepupu saya, dia masih tidur. Katanya bisa antar, tapi gak punya jas hujan. Oke, saya harus mencari solusi berikutnya.

Selesai dari rumahnya, saya langsung kembali ke rumah saya untuk mencari jas hujan. Tidak ketemu. Saya pikir adik saya akan pulang pukul 7, ternyata dia harus lebih lama berada di kantornya. Cari sana sini, dapatlan jaket parasut kakak saya. Saya pikir, daripada tak ada, bolehlah dipinjam. Saya telpon sepupu saya, ketika ia setuju, saya pun berangkat.

Macet menjadi satu imbas dari datangnya hujan. Tapi tidak terlalu panjang. Biasanya, kalau sudah jam-jam segitu, antriannya pasti panjang. Ternyata para kendaraan itu banyak tersendat di sepanjang jalan teuku umar, jalan utama dari arah cikarang menuju cibitung. Itu berdasarkan cerita beberapa kawan yang menyatakan bahwa jalan raya mendadak jadi kolam mobil dan motor. Banyak motor, terutama jenis matic yang harus mengalah dari genangan air. Terpaksa dituntut oleh para pengendaranya. Tak sedikit pula mobil yang mogok di tengah jalan, dan harus didorong oleh banyak orang. Cari jalan alternatif, macet tak terkendali. Akhirnya perjalanan 20 menit saja berubah menjadi 2 jam!

Cerita serupa juga datang dari kawan yang tinggal di daerah bekasi kota. Jalan sepanjang bulak kapal sampai tambun diwarnai oleh kolam-kolam dadakan. Terparah ada di depan wilayah PT Suzuki Indomobil. Tak ayal banyak pegawai yang akhirnya terlambat datang ke sekolah.

Kalau sudah begini, tak bisa dibilang salah jika tata kota bekasi sangatlah buruk. Tak ada lagi got-got yang bisa menjadi jalan air dan penampung air hujan. Semuanya sudah tertutup oleh tanah atau timbunan sampah, bahkan dimatikan oleh semen-semen pembuat jalan.

Pemerintah kota dan kabupaten bekasi seyogyanya memperhatikan permasalahan ini dan mencarikan solusi terbaik bagi kenyamanan kota bekasi ini. Jika tidak ditangani, dikhawatirkan kolam-kolam dadakan ini semakin banyak menyebar ke banyak wilayah bekasi yang pastinya akan menggangu laju kendaraan yang pada akhirnya akan mengganggu kinerja para pegawai atau pelajar.