Perjalanan kereta kali ini menuju Malang agak sedikit terganggu. Kantuk yang mendera membuat mataku harus dipejamkan. Sayang beribu sayang. Saya harus berbagi bangku kereta dengan putra saya yang tidur merebahkan diri di bangku. Otomatis, saya hanya kebagian ujung bangku sedikit saja. Mau ikutan tidur di lantai kereta, gak ada persiapan sama sekali. Gak ada koran bekas, ga sewa bantal dan selimut pula. Yah, demi anak, pengorbanan ini harus dijalani. Akhirnya, gaya tidur pun sudah berganti beberapa kali. Namun, walaupun sering harus terbangun mencari posisi tidur yang nyaman, saya pun lumayan bisa memenjamkan mata hingga kereta tiba di stasiun Malang Baru sekitar pukul 4 pagi.

Turun dari gerbong kereta, toilet menjadi incaran saya. Antri, tetapi tetap harus menanti. Tiba di stasiun, alumni murid-murid kami sudah siap dengan sewaan mobil angkotnya. Kami pun bergegas menuju mobil dan melaju menuju daerah Tumpang, lokasi rumah seorang kawan. Rencananya, kami akan bermalam selama 2 hari di sana. Lumayan lah bisa menghemat kamar hotel.🙂

Malang di subuh hari. Sunyi senyap, jalanan sangat lengang karena baru ada beberapa gelintir kendaraan saja yang menikmati udara dini hari. Karena gelap, kami belum bisa melihat lokasi sepanjang jalan yang dilalui. Sempat tertahan karena ada pintu penghalang. Ternyata ada sistem buka tutup dikarenakan sedang perbaikan jalan. Untungnya tidak terlalu lama, sehingga kita pun bisa lansung menuju lokasi.

Dari gelap, hingga matahari sudah muncul dari peraduannya, angkot yang kami tumpangi masih melaju dengan tertatih-tatih. Tak lama kami pun tiba di kediaman sahabat kami. Disambut dengan istri dan anak-anaknya, kami berasa tamu agung. Istirahat menjadi agenda penting sebelum kami melanjutkan wisata kami ke gunung dan kawah bromo.

Kami menanti motor-motor yang akan mengantar kami ke kawah bromo. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 12 lewat, maka diputuskan kami pergi bertiga motor saja. Walaupun ada kekhawatiran akan penggunaan motor matic, kami tetap bersikukuh untuk sampai di atas.

Sekitar pukul 2.30, kami mulai siap-siap dengan pakaian lengkap beserta topinya. Kami pun ngobrol santai sambil menanti detik-detik keberangkatan. Setelah merasa yakin dan pasti, tiga motor berangkat beriringan. Perjalanan yang ditempuh dari Tumpang menuju Bromo sekitar 35 km.

Di awal-awal perjalanan, semuanya mulus dan lancar. Pemandangan yang indah di sisi kanan dan kiri jalan, jalan raya yang masih sangat mulus dan udara Malang yang mulai terasa sejuk menemani petualangan kami. Namun, mencapai pintu pertama Bromo, jalanan berubah menjadi berbatu dan menanjak. Tak ayal, badan berasa sakit semua dengan kondisi jalan seperti itu. Semakin ke atas, udara semakin dingin. Jaket tebal dan sarung tangan sudah tak mampu lagi melindungi rasa dingin. Tapi badan sakit dan udara dingin terasa menguap tatkala kami sampai pada plang penunjuk bahwa kami telah tiba di “Kawasan Taman Nasional Bromo Tengger Semeru”. Subhanallah indahnya.

kawasan taman nasional bromo tengger semeru
kawasan taman nasional bromo tengger semeru

Berhenti sebentar untuk mengambil gambar, kami melanjutkan perjalanan menuju kawah bromo. Jalan yang ditempuh masih berbatu dan menanjak, tapi ketinggiannya tidak terlalu menyeramkan. Tampak dari atas motor gunung bromo yang bertengger indah. Hanya beberapa menit lagi hingga kami sampai ke sana. Hujan sebelumnya sedikit banyak telah menguntungkan kami karena lautan pasir yang kami lalui sedikit padat sehingga motor yang kami tumpangi dapat melewatinya. Walaupun terjadi insiden kecil pada motor matic yang dikendarai teman saya. Dua kali terjatuh di lautan pasir. Untungnya, kedua penumpangnya baik-baik saja. Jangankan motor matic, motor besar yang kami naiki saja sempat selip dua kali. Tapi, alhamdulillah kami bisa melewati lautan pasir nan indah dan luas itu.

Kuil dan kawah bromo sudah mulai terlihat dekat. Semakin lama semakin jelas. Saya pikir kami mau langsung masuk dan menuju kawah, Tapi ternyata motor melaju terus ke medan yang lebih tinggi. Teman saya bilang, kami mau diajak ke pos 2, baru nanti kembali ke kawah. Hmmm…bolehlah. Sebelum naik, kami  berhenti menanti motor matic yang jauh tertinggal. Melihat medannya, saya sempat khawatir kira-kira bisa naik gak ya? Sempat ada beberapa motor yang berhenti juga sebelum naik. Seperti sedang bersiap untuk menerjang medan yang terjal dan berkelok. Bahkan ada satu mobil yang harus menurunkan bawaannya karena mungkin khawatir keberatan beban. Saat itu saya masih belum tahu seterjal apa.

Tak berapa lama, teman kami datang dengan maticnya. Salut sama dua perempuan perkasa itu yang bisa membawa motor naik ke gunung bromo! Istirahat selesai, kami pun bersiap. Naik. Dan medannya benar-banr WOW! Ketika akan menuju belokan kedua, yang bisa mencapai 75 derajat kemiringan, ada tiga motor yang turun. Alih-alih mengambil putaran yang agak jauh, teman saya akhirnya terpaksa mengambil putaran di pertengahan jalan. Dan, jleb! Motor tak mau bergerak. Gas sudah full, tapi motor malah bergerak mundur. Otak saya sudah berenergi negatif bahwa kami bakalan jatuh. Tak menunggu menit berputar, teman saya tak kuat menahan motornya, kami pun jatuh menimpa motor teman kami yang lain. Akhirnya, dua motor jatuh beserta dengan lima penumpangnya.

Putra saya sempat histeris dan menangis. Sepertinya dia sangat kaget dan shock, walaupun sebenarnya ia jatuh dalam keadaan memeluk saya. Karena memang dia duduk berhadapan dengan saya. Kami akhirnya memutuskan turun kembali. Perjalanan naik ke pos 2 ditunda, entah sampai kapan.

Kawah bromo akhirnya menjadi tujuan terakhir petualangan kami. Hari sudah mulai gelap. Dingin pun semakin menusuk tulang. Yang saya khawatirkan memang putra saya yang terlihat sangat kedinginan dan tak mampu lagi menikmati perjalanan. Namun dengan cukup bujukan, akhirnya dia mau naik kuda yang disewa seharga 75 ribu rupiah dan menuju kawah bromo. Saya pun mengiringinya di belakang, dan tentu saja tertinggal sangat jauh dengannya.

Sampai di kaki tangga menuju kawah, saya hampir tak sanggup. Lelah dan dingin semakin memberatkan kaki saya untuk melangkah. Rengekan putra saya yang ingin segera pulang pun membuat saya khawatir. Tapi, sayang sekali jika kesempatan sudah ada, dan kita tidak menuntaskannya. Akhirnya, bujukan maut pun saya lontarkan kembali. Ojek gendong pun menjadi satu solusi. Awalnya saya tidak tertarik karena biayanya yang 50 ribu rupiah. Namun, melihat putra saya yang terlihat sangat kedinginan, akhirnya ia mau menggendong dengan biaya 30 ribu saja. Naiklah putra saya di gendongannya. Tetap, saya harus jauh tertinggal darinya.Dengan perjuangan yang berat, akhirnya saya sampai juga di kawah bromo. Menakjubkan! Hanya bisa bersyukur kepada Tuhan atas ciptaanNya yang maha sempurna.

kawasan kawah bromo
kawasan kawah bromo

Tapi ketakjuban saya harus saya akhiri segera melihat kondisi putra saya yang sudah tidak bisa diajak kompromi. Kami pun turun dengan perasaan senang sekaligus menyesal karena tak bisa berlama-lama menikmati kawah bromo. Tapi indahnya bromo akan selalu menempel di hati saya. Sementara semeru? Tunggu aku di puncakmu!🙂

para petualang sejati :)
para petualang sejati🙂

Berlanjut ke part 6…