Hari kedua di Jogjakarta. Gerimis menenami perjalanan kami. Berhubung murid-murid kami ada kuliah, kami pun menyusuri kota jogja tanpa ada guide. Untungnya masih banyak becak yang bisa mengantar kami berkeliling kota. Tujuan pertama kami hari itu adalah ke BCA. Ya, kawan kami harus mengurus atm nya yang diblokir karena hampir terkena praktek penipuan.

Dua becak membawa kami menyusuri jalan yang semalam kami lewati. Barulah terlihat dengan jelas, jalan yang kami telusuri semalam. Jujur, becak adalah salah satu kendaraan favorit saya. Bahkan putra saya pun sangat menikmati angkutan yang satu ini. Mungkin karena di daerah saya sudah tidak ada becak penumpang ya? Yang pasti naik becak itu santai, nyaman, dan romantis! Apalagi di Jogja, becak menjadi satu angkutan wisata yang cukup memikat para turis, lokal dan internasional. Harganya pun cukup terjangkau. Jadi, tak usah khawatir jika anda tidak membawa kendaraan ke Jogja karena becak, dan juga andong, siap mengantar anda ke tujuan.

Sampai di BCA dekat stasiun tugu, kantor masih tutup. Ternyata baru pukul 07 pagi. Akhirnya kami pun mencari sarapan di sepanjang jalan depan BCA. Ada banyak pilihan, tetapi kami menjatuhkan pilihan ke bubur khas Jakarta. Gak dimana-mana, kalau lagi di kota orang, susah nyobain kuliner asli ya? Takut gak cocok sama lidah. Yang dicari pasti makanan yang udah bakalan ketahuan rasanya.

Dan rasa buburnya memang enak. Maknyus lah. Tempatnya juga bersih, jadi betah berlama-lama nongkrong sambil nyabu. Karena masih pagi, suasananya juga masih sepi. Sambil membunuh waktu, kamera pun beraksi, Jepret sana-sini memanfaatkan momen-momen bagus di pinggir jalan raya.

Akhirnya angka 8 yang kami nanti pun muncul. Saatnya kantor-kantor siap melayani nasabah. Kami pun segera menuju BCA supaya tidak terlalu mengantri. Sekitar 1 jam, urusan bank beres. Bingung mau kemana, saya pun mengusulkan untuk jalan ke Malioboro karena memang sangat dekat dengan posisi kami.

Pedagang-pedagang baru saja mulai aktifitas mereka menggelar dagangannya, tapi tampaknya sudah banyak yang siap menyapa para pengunjung. Kaos, batik, tas, pernak-pernik siap menggoda mata para pembeli. Dan hal pertama yang menggoda mata saya adalah bel yang terbuat dari kuningan. Sayangnya harganya cukup mahal, akhirnya saya tunda dahulu membelinya.

Kaos menjadi ketertarikan kami selanjutnya, dan kam pun mencari toko yang paling pas menarik hati. Kami memilih toko yang letaknya masuk ke salah satu gang. Cukup terpencil tapi koleksinya lumayan  bagus. Dengan memberikan harga setengah dari harga bandrol, saya pun memilik satu pasang kaos untuk saya dan putra saya, istilahnya nih, couple t-shirt. Biasanya untuk pasangan  ya, tapi tak apalah, ibu dan anak juga pasangan sejati kan? hehhhe…

Puas berbelanja, waktunya mencari makan siang. Lagi-lagi pilihan jatuh ke kuliner yang aman, secara kantong, rasa, dan kemudahan. KFC menjadi tujuan makan siang kami. Karena lelah, kami pun membawa pulang makan siang dan menikmatinya di hotel saja.

Andong tampaknya sangat menggoda. Kami pun memutuskan untuk kembali ke hotel dengan menyewa jasa andong. Lebih mahal dari becak, tetapi kapan lagi dapat momen naik andong? Sampai di hotel tepat pukul 12 siang. Waktunya makan, mandi dan sholat. Kami berniat untuk istirahat dan keluar hotel lagi sore hari. Tapi ternyata, murid-murid kami ngotot ingin mengajak kami jalan. Katanya, “ngapain sih di hotel terus? sayang tau!” Kami pun menyerah, dan siap dijemput mereka pukul 3 sore.

Kami diajak mereka ke kamous UGM. Ini pertama kalinya kami ke UGM. Kesan pertama? Sejuk, luas, dan megah. Meminjam sepeda kampus yang berwarna biru mengingatkanku pada sepeda kampus UI yang beda warna. Sambil berkeliling, kami menikmati sejuknya suasana kampus di petang hari. Saat itu kampus sedang minggu tenang jadi tidak terlalu banyak mahasiswa yang berkeliaran, jadi kami merasa nyaman berkeliling dengan sepeda.

Sore harinya kami dijemput oleh guide kami dan menuju Bukit Bintang. Katanya sih, bukit bintang itu puncaknya kota Jogja. Asyik sepertinya. Namun, karena perjalanan sudah agak malam, jadi udara sangat dingin dan harus bethati-hati dengan jalan yang gelap dan menanjak. Ada salah satu murid yang berpikir saya sedang berada di Malaysia ketika saya menuliskan status “@bukit bintang”. Oh, ternyata di Malaysia ada juga bukit bintang yang cukup terkenal ya? saya malah gak tahu kalau ada bukit bintang di Jogja dan Malaysia.

Ketika sampai, barulah saya tahu kalau bukit bintang di Jogja ini adalah sebuah restoran stake & shake yang letaknya ada di bukit dengan pemandangan kerlap-kerlip lampu di kota. Indahnya…. Makanannya? Not bad lah, walau tidak bisa dibilang excellent. Yang pasti, suasana dan tempatnya yang bikin juara.

Bukit bintang ternyata bukan tujuan akhir kami malam itu. Kami dibawa ke Taman Pelangi yang  berada di Museum Jogja Kembali. Entah karena sepi pengunjung atau alasan lain, museum ini disulap menjadi layaknya taman bermain keluarga. Ada banyak mainan yang bisa dinikmati. Dengan tiket masuk 15 ribu per orang, kita bisa masuk menikmati taman bermain dengan lampion-lampion lucu dan unik. Tapi, untuk menikmati setiap wahana, kita harus mengeluarkan kocek lagi, yang bisa dibilang agak mahal. Agak disayangkan melihat museum megah dikelilingi air itu berubah menjadi taman bermain. Kesan “museum” nya menjadi hilang.

Puas menikmati wahana gratisan, seperti karaoke dan bilyard, kami mengakhiri perjalanan malam kami yang kedua. Pukul 11 malam, we call it night, dan pulang kembali ke hotel. Melelahkan sekaliguskan menyenangkan.