Pertama kali dapat menstruasi, saya masih duduk di bangku SMP kelas 2. Rasanya menakutkan sekaligus menjijikan! Bayangan keluarnya darah dari saluran rahim terdengar begitu menyeramkan. Bagaimana menghadapinya? Apa yang harus dilakukan? Semuanya benar-benar pengalaman yang sangat mendebarkan. Dan pertama kali itu pula saya mengenal yang namanya PMS alias PreMenstruation Syndrome. Dulu, gak tahu itu namanya. Yang pasti rasanya mau mati saja. Mungkin perasaan saya ini dianggap berlebihan. Tapi mau bagaimana lagi? Itulah cobaan yang harus saya terima selama saya haids hingga saya menikah.

PMS itu membuat badan saya sakit. Terutama tentu di bagian perut. Muntah-muntah menjadi langganan saya setiap bulan menghadapai hari pertama haids. Bahkan saya lebih sering bed rest di setiap mengawali siklus bulanan ini. Saking sakitnya, saya harus merangkak menuju kamar mandi untuk memuntahkan isi perut saya. Bahkan saya pernah turun dari angkot karena sudah tidak tahan lagi dengan rasa sakit yang mendera.

Minuman bersoda menjadi asupan wajib saya setiap sakit haids melanda. Kata orang, kalau minum Sprite, sakitnya bisa hilang. Ternyata, minuman bersoda itu mempercepat proses peluruhan darah sehingga darah pun keluar lebih banyak dari normal. Tapi memang, setelah minum satu botol kecil sprite dan dibawa tidur, rasa sakit mulai berangsur hilang. Maka, sprite menjadi andalan saya saat itu. Terkadang saya meminum obat penghilang sakit juga, namun karena khawatir ada efek sampingnya, saya lebih memilih minuman bersoda untuk mengurangi sakit haid saya.

Rasa sakit ini saya alami sepanjang saya haid. Sempat orang bilang ke saya, “Tenang aja, itu alamiah koq. Nanti juga kalau sudah menikah, rasa sakitnya akan hilang!” Dan ternyata, itu benar terjadi. Setelah menikah, rasa sakit haid itu benar-benar hilang. Hingga saya hamil di tahun kedua pernikahan saya, sakit haid itu tak pernah muncul. Namun, ketika saya memutuskan untuk berpisah, tidak beberapa lama, rasa sakit saya muncul kembali. Padahal saya sudah punya putra satu saat itu. Mungkinkah hubungan suami istri bisa pemicu hilangnya rasa sakit ketika haid? Entahlah. Yang jelas, seperti itulah yang saya alami.

Saya tidak pernah menyadari kalau ternyata PMS itu bukan hanya kemunculan rasa sakit saja, tetapi ada perubahan secara emosional. Dan saya baru merasa “ngeh” dengan perubahan emosi ketika saya sudah cukup dewasa. Hal sekecil apapun bisa memicu emosi yang tinggi ketika PMS. Padahal, di lain waktu hal itu tidak perlu terjadi. Untungnya, orang-orang sekitar saya cukup paham, sehingga setiap saya atau rekan perempuan yang lain sedang PMS, mereka akan manggut-manggut sambil bilang “Oh, lagi dapet ya?”

Anyway, rasa sakit itu terkadang masih suka muncul. Namun, memang tidak separah ketika saya masih remaja. Terkadang saya cukup menempelkan botol yang diisi air panas ke bagain rahim saya, dan itu cukup membantu mengurangi rasa sakit.