Melanjutkan kisah perjalanan liburan saya ke Jogja dan Malang…

Kami tiba di hotel Graha Kinasih. Ternyata hotelnya tidak terlalu jauh dari stasiun, sekitar 10 menit kami sudah sampai di hotel. Jalanannya sepi, padahal sepertinya terletak di komplek yang cukup berkelas. Bahkan sepanjang jalan, tidak kami temui satu orang pun yang lalu lalang. Wah, kebayang nih, gak bisa jalan-jalan malam dong! Ngeri kalau sepi! Maklum, terbiasa menginap di motel-motel di daerah malioboro yang ramai, hotel ini jadi terkesan sangat berkelas dan sunyi.

Anyway, walaupun lingkungannya sangat sunyi, namun hotel ini sangat nyaman. Kalau boleh dirating, mungkin bintang tiga ya? Konsep hotel yang minimalis, anggun, bersih dan rapih. Saya sangat menyukai dekor kamar yang sangat sederhana tapi elegan. Tak banyak hiasan, tapi bikin betah. Kalau saya bandingkan, kamar hotelnya tidak kalah dengan hotel bintang lima yang pernah kami tinggali di Bali dan Lombok. Bedanya, hanya pada ukurannya yang sedikit lebih kecil. Walaupun begitu, masih bisa menampung kami berempat untuk tidur dalam satu kamar. Dengan tarif liburan yang lebih mahal, kami cukup puas dengan akomodasinya. Ternyata, murid kami pandai juga mencarikan hotel yang nyaman.

Hari menjelang sore. Kami bersiap-siap untuk menikmati indahnya kota Jogjakarta di waktu malam. Apalagi perut sudah bernyanyi minta diisi. Angkutan kami pun sudah tiba di lobi hotel. Ya, siapa lagi kalau bukan rombongan murid-murid kami dengan motornya masing-masing. Rasanya, berjalan-jalan dengan motor akan lebih efektif ya. Kita bisa sambil melihat-lihat pemandangan malam kota Jogja yang selalu ramai. Karena kata mereka, Jogja itu ramainya di waktu malam. Benar saja, sepanjang jalan, penuh dengan para penjelajah kota. Udara dingin tak menyurutkan niat kami untuk melaju di sepanjang jalan kota jogjakarta.

Tujuan pertama kami adalah mencari makan malam. Dan kami pun diajak mencicipi penganan khas Jogja di salah satu angkringan yang terletak di depan Kedaulatan Rakyat. Awalnya bingung, soalnya self-service, alias melayani sendiri. Ada banyak pilihan bungkusan yang tersedia, tapi saya gak ngerti apa isinya. Ternyata setiap bungkusan itu berisi nasi dan lauk yang disebutkan di secarik kertas kecil di bungkus nasinya. Saya pun mengambil satu bungkus dengan tulisan “gulai ayam” seharga 3000 rupiah saja! Saya ambil pula satu tusuk sate ati ayam seharga 3000 rupiah dan minuman teh manis 2000 rupiah! jadi total makan malam saya hanya senilai 8000 saja! Ckckckck….gak ada nih di Bekasi!😀

Sempat satu murid saya bilang, “Koq, ambilnya cuma satu, mam? Isinya dikit loh!” Dan, karena saya pikir, saya harus mencoba dulu, saya tidak berani ambil banyak. Dan ternyata, memang benar, isinya sangat sedikit. Bisa dibilang, nasinya sebesar kepalan tangan anak kecil. Dan gulai ayamnya hanya berisi dua potong ukuran ayam untuk disate! Hmmm….kenyang gak ya? Dan ternyata tidak! untungnya salah satu kawan saya mengambil 2 bungkus, jadinya kami bisa nimbrung menghabiskan satu bungkus beramai-ramai. Jadi, pesan saya, kalau mau beli nasi di angkringan, ambil dua bungkus ya?

Selesai menikmati makan malam di trotoar bersama para penikmat kuliner malam yang lainnya, kami pun beranjak dan melanjutkan perjalanan kami. Bingung tidak tahu harus kemana, guide kami mengajak kami ke alun-alun kidul. Kami setuju saja. Namanya turis, ya ikut guide aja deh!

Sebenarnya alun-alun itu ada dua, yang satu terletak di depan masjid agung kauman, dan sedang sangat ramai karena ada acara sekaten. Kebetulan saya pernah kesana, jadi tidak terlalu penasaran. Nah, yang akan kami kunjungi ini adalah alun-alun kidul atau selatan yang cukup ramai juga oleh pengunjung. Ada beragam becak hias berkelap-kelip oleh lampu warna-warni. Lampu-lampu itu membuat alun-alun kidul menjadi sangat meriah, Kami pun mencoba salah satu becak hias dengan biaya sewa 40 ribu rupiah dua kali putaran. Mahal ya? Tapi tak apalah. Kapan lagi mencoba kendaraan khas di Jogja ini? Kami pun berbaur dengan para pengunjung lain dan melaju menggowes sendiri becak yang kami sewa. Akhirnya salah satu murid kami menjadi tumbal untuk ikut ngegowes becak yang cukup berat itu.

Puas dengan becak hias, kami penasaran ingin mencoba berjalan di antara dua pohon beringin besar dengan mata tertutup. Konon, menurut kepercayaan, bagi mereka yang berhasil melewati jalan di antara dua beringin itu, keinginannya bisa terwujud. Saya sendiri penasaran ingin membuktikan kebenaran omongan orang yang katanya susah sekali untuk berkalan lurus. Hati merasa sudah lurus, tetapi ketika tutup mata dibuka, kita akan berbelok ke kiri atau kanan pohon beringin. Dan ternyata itu terjadi pada saya dan banyak pengunjung lainnya. Hanya satu kawan saya yang berhasil melewatinya. Yang lain? Gagal semua.

Kami sangat menikmati percobaan melewati dua pohon beringin ini. Keseruannya ada pada lintasan masing-masing orang yang terkadang sangat jauh dari tujuan utamanya. Bahkan ada yang sempat berputar jauh membentuk lintasan setengah lingkaran. Ada yang hampir menabrak tembok pembatas. Ada pula yang malah mendekati gerobak jajajan. Kehebohan itu membuat kami tertawa terpingkal-pingkal. Seru!

Tak terasa, waktu sudah menunjukkan pukul 11.30 malam. Wah, sudah sangat telat ya? Tapi tak ada sedikit pun rasa kantuk menggelayuti kami. Keramaian pengunjung pun tidak berkurang. Sayangnya, kami harus mengakhiri malam karena kami perlu istirahat untuk melanjutkan kegiatan esok harinya. Kami pun kembali meluncur di atas motor menembus udara malam Jogja yang tidak pernah sepi dari para penikmat suasana malam.

(berlanjut ke part 3)