Setelah dua tahun lalu memilih Bali-Lombok sebagai tujuan wisata saya, akhir tahun ini, saya dan dua sahabat saya, plus tidak ketinggalan putra semata wayang saya memutuskan untuk berlibur ke Jogjakarta dan Malang. Sebenarnya, Jogja bukan pilihan utama karena kebetulan saya sudah 5 kali ke sana. Maklum, Jogja masih menjadi incaran para siswa-siswi kelas XII untuk mengisi liburan kelulusan mereka. Jadilah, saya beberapa kali pula ikut berwisata ke sana.

Saya lebih tertarik untuk langsung menuju Malang, dengan tujuan utama adalah gunung Bromo. Ya, Bromo menjadi mimpi liburan saya yang belum kesampaian. Sayangnya, salah satu sahabat saya itu belum pernah ke Jogjakarta. Akhirnya, keputusan pun diambil. Tiga hari di Jogjakarta dan tiga hari di Malang. Sepakat!

Tiket menjadi bahasan utama kami sebelum berangkat. Kami memutuskan untuk menggunakan jasa KAI karena lebih terjangkau dibandingkan pesawat dan kami belum pernah berlibur dengan kereta api. Memanfaatkan kemudahan membeli tiket kereta api, saya pun pergi ke alfamart, karena mereka menyediakan jasa penjualan tiket kereta secara online. Wah, asyik ya? Jadi gak perlu langsung ke stasiun di Senen yang cukup makan waktu dan tenaga kalau harus kesana. Walaupun tetap slip pembelian tiket di alfamart harus ditukarkan dengan tiket kereta dari PT KAI, minimal kita tidak harus mengantri panjang di loket.

Sempat ada kendala ketika pemesanan tiket. Saya memesan langsung untuk 4 orang, tetapi selalu gagal. Saya mencoba ke tiga outlet, dan selalu seperti itu. Akhirnya kami coba dengan memesan per dua orang, dan berhasil! Nah, bagi anda yang pernah kesulitan memesan tiket kereta dalam jumlah banyak, bisa disiasati dengan memesan per dua orang terlebih dahulu.

Tiket sudah di tangan sejak sebulan sebelum keberangkatan, kami pun tinggal mempersiapkan diri dan kesehatan. Apa jadinya kalau tiket sudah ada tetapi badan tidak sehat? Pastinya gagal total! Dan, ini hampir saja terjadi. Sehari sebelum keberangkatan, putra saya panas tinggi. Tidak tahu apa penyebabnya, saya berusaha untuk menurunkan panas demamnya dengan kompres dan kerikan bawang dibalur minyak zaitun. Paracetamol pun minumkan untuk menurunkan suhu tubuhnya. Setelah menunggu sehari semalam, alhamdulillah panasnya reda dan kami pun bisa berangkat. Tapi persediaan obat-obatan menjadi hal utama yang menjadi perhatian saya.

Berdasarkan jadual, kereta berangkat pukul 07.50 pagi. Berhubung lokasi kami berada di Bekasi, maka pukul 4.45 saya sudah berada di atas angkot yang akan mengantar kami ke bis menuju stasiun senen. Tepat pukul 6.40 kami tiba dan tiba-tiba sahabat saya menerima kabar kalau teman kami yang berangkat belakangan sudah sampai di stasiun. Saya sempat heran koq bisa ya, padahal kami selisih sekitar 30 menit.

Sudah hampir setengah jam menunggu di depat peron 3, kami tidak juga bersua dengan teman kami itu. Sambil ngotot di telepon, ia meminta salah satu dari kami untuk menjemputnya. Selidik punya selidik ternyata ia salah stasiun! Ia turun di stasiun jatinegara yang dikiranya stasiun senen. Pantas saja! Dua puluh menit sebelum kereta berangkat, akhirnya teman kami pun datang, langsung kami menuju petugas untuk memeriksa tiket dan off menuju peron 3. Fuiihhh…hampir saja…

Karena perbedaan waktu pembelian tiket, kami pun duduk terpisah. Untungnya masih dalam satu gerbong, jadi masih bisa saling berkunjung. Tujuh jam perjalanan dalam kereta tidak terasa. Kereta kelas Ekonomi AC yang kami tumpangi ternyata cukup nyaman dan tanpa kendala. Kami pun sangat menikmati perjalanan dengan kereta ini, tanpa mabuk perjalanan, tanpa macet, dan tanpa rasa deg-degan. Kereta berhenti di beberapa stasiun dan memberikan kesempatan kepada pedagang asongan untuk menjajakan dagangannya, namun secara umum tidak mengganggu para penumpang. Malah beberapa dari kami merasa terbantu karena haus atau lapar sehingga mereka bisa membeli makanan atau minuman dari mereka. Pokoknya, perjalanannya memuaskan.

Tanpa terasa, kereta sudah sampai di stasiun tugu, Jogjakarta. Pertama kali naik kereta dan kami takjub dengan stasiun tugu yang bersih dan nyaman. Kalau saja semua stasiun seperti ini, pasti akan lebih banyak orang tertarik untuk memakai jasa KAI sebagai akomodasi mereka. Satu hal yang wajib dilakukan sebagai turis adalah berfoto ria! Ya, mengambil background stasiun, kami pun mengabadikan momen langka itu melalui kamera saku kami dan kamera handphone. Hasilnya? Lumayan!🙂

Kami tidak langsung keluar stasiun karena kami menanti alumni murid-murid kami yang kuliah di Jogja dan berjanji menjemput kami di stasiun. Sekitar 20 menit menanti, murid-murid kami pun datang dengan sepeda motor mereka. Selepas kangen-kangenan, kami pun langsung naik ke atas motor dan menuju hotel kami di bilangan Kotabaru, Jogjakarta.

(berlanjut ke part 2)