Entah berawal dari mana, tanpa berpikir panjang, saya membuatkan akun facebook untuk anak saya. Kala itu usianya baru 5 tahun! Tepatnya, akun aktif sejak 19 Mei 2009. Yang pasti, ini lebih kepada kenarsisan saya sebagai ibu yang pingin anaknya ikut narsis juga. Benar-benar tidak patut ditiru nih.

Saat itu, dia tidak mengerti sama sekali. Bahkan ia tidak tahu tentang facebook hingga ia duduk di kelas 1 SD. Satu hari pulang sekolah, ia bertanya “mama, aku punya fesbuk ga? Aku mau kayak teman-teman aku, ma. Mereka punya fesbuk!”

Dengan bangganya, saya bilang bahwa dia sudah lama memiliki akun facebook.  Bahkan saya pun mengajarkan tentang email padanya. Sampai-sampai, ia sudah hafal alamat email dan passwordnya. Tapi memang, dia tidak aktif. Selama ini saya lah yang menulis status-statusnya. Teman-temannya hampir semua adalah murid-murid saya yang juga teman facebook saya. Alhasil, namanya hanya tertera saja.

Tiga tahun kemudian, tepatnya 2 bulan terakhir ini, dia kembali menanyakan akun facebooknya. Dengan usianya yang menginjak 8 tahun, ia mulai ingin aktif di facebook. Ia ingin berteman dengan sepupunya yang usianya beberapa tahun di atasnya.

Menyadarai kekeliruan saya, saya sempat bilang ke dia kalau dia masih terlalu kecil untuk aktif di facebook. “Aku kan mau main game fesbuk, ma! Kata teman aku, ada gamenya, ma.”

Oh, ternyata dia ingin game nya. Saya saja tidak tahu-menahu soal game di facebook. Setelah akhirnya dia bisa mengaktifkan facebooknya, tanpa bantuan saya, dia sering bermain game online dengan sesama facebooker lainnya yang sepertinya usianya jauh di atasnya.

Wah…wah..jadi was-was juga saya. Bagaimana kalau dia keranjingan game online? Jangan-jangan game yang dimainin yang berbau negatif nih?

Akhirnya menjawab rasa penasaran saya, saya coba mendampingi dia di saat sedang bermain. Well, untuk saat ini permainan yang dipilihnya masih bisa dibilang lumayan wajar, sambil belajar bahasa Inggris yang menjadi bahasa pengantar di hampir semua game online. Sambil meraba arti kata-kata bahasa Inggrisnya, ia melaju dengan game-game yang dimainkan. Terkadang akhirnya, kita harus bisa mengakui kelebihan anak-anak yang mampu memainkan game yang berbahasa asing dengan cukup baik. Artinya, ada pembelajaran disini. Walaupun kewaspadaan harus lebih ditingkatkan mengingat banyak konten buruk yang dikhawatirkan diakses oleh anak-anak.

Namun, dampak buruknya yang sedang saya coba cari solusinya adalah liburnya aktifitas mengaji. Sempat kecewa dan marah, tapi kalau diruntut, kesalahan jatuh pada diri saya sebagai orang tua. Akhirnya, saya mencoba membuat komitmen baru yaitu “No Ngaji, No Modem”. Pokoknya, satu hari tidak mengaji, maka perijinan penggunaan modem dihilangkan.

Untunglah, selama dua hari terakhir ini, ia masih mentaati komitmen tersebut. Semoga saja sayanya yang kuat dan tahan untuk konsisten dengan komitmen yang saya dan dia terapkan.

Ah, seandainya saya tidak mendaftarkan akun facebook untuknya!

Tapi tentu penyesalan hanya akan menyiksa diri. Oleh karenanya, saya harus mampu menerapkan aturan khusus berkenaan dengan internet dan sosial media serta game online, sehingga anak saya yang tadinya “terjebak di facebook” bersama teman-teman yang lebih dewasa darinya, bisa memanfaatkannya sesuai dengan perkembangan usianya yang masih sangat belia.

Semoga tidak ada lagi kelalaian seperti yang saya lakukan karena hal yang terbaik adalah membiarkan anak berkembang sesuai usianya.

 

Semangat Hari Ibu!