Warnanya hijau pupus. Tampak ukiran cantik menghiasi sisi kanannya. Terbungkus plastik bening, ada namaku di sana, dilekatkan menggunakan kertas label berwarna putih. Tulisan tangan yang cukup kukenal. Tulisan tangan yang setahun lalu selalu hadir di antara kumpulan surat-surat tagihan asuransiku. Hatiku berdesir. Deg-degan. Benarkah? 

Berat, tapi aku mengambilnya. Terlihat inisial huruf mengapit lambang hati dan 2 burung merpati. A dan Y. Aku terkesiap, benarkah? Pertanyaan konyol yang kembali terulang. Detak jantungku terasa semakin terdengar. Seandainya ada orang lain disebelahku, mungkin ia akan mendengar dentumannya. dag dig dug…

Aku tak mau membukanya, tapi rasa penasaranku mengalahkan semuanya. Ku buka pelan plastiknya. Terjatuhlah selembar kertas putih. Tertera denah lokasi dengan huruf U besar di bagian atasnya. Aku tidak mengenalinya. Tentu saja, ini pasti bukan rumahnya. Mataku kembali ku arahkan pada kertas lembut dan ternyata harum mewangi. Sayangnya, harumnya membuatku pusing tatkala membaca nama yang tertera dan terukir dengan indahnya.

Lemas. Lemah. Tulang-tulang tubuhku terasa meninggalkan diriku. Tak terasa pandanganku mulai kabur terhalang oleh bendungan air yang mulai tumpah. Setitik air lepas dari peraduannya. Diikuti dengan titik yang lain, bertambah, dan akhirnya lepaslah pertahananku.

Aku terduduk lesu. Tersedu. Nafasku tercekat di tenggorokan. Dadaku sakit.Ternyata aku belum siap.Terngiang kembali obrolanku dengannya.

oOo

“Maaf, mas. Aku belum siap. Aku masih ingin berkarya. Aku belum banyak bantu ibu sama bapak.”

“Tapi, dek. Kita kan bisa berkarya sambil menjalani hidup bersama. Mas siap koq dukung karir kamu. Mas sayang sama kamu, dek.”

“Aku tak tahu, mas. Aku ingin ke Jakarta. Kata orang, disana gajinya lebih besar.”

“Jadi, adek tidak terima?”

“Bukan tidak terima, mas. Tapi tunda dulu, ya mas?”

oOo

Air mataku semakin deras. Terasa sangat asin melewati bibirku yang gemetar. Aku merasa bodoh. Aku merasa kecil. Dibalik kesuksesanku, ternyata aku gagal. Gagal menjaga anugrah terbaik yang dikirimkan Tuhan padaku. Gagal memaknai rasa sayang seseorang yang sangat baik. Gagal.

oOo

“Halo?”

“Assalamualaikum, dek!”

“Waalaikumsalam”

“Masih ingat aku ndak?”

“Mas Aryo?”

“Iya, dek. Aku Aryo. Gimana kabarmu?”

“Aku baik, mas. Mas gimana?”

“Alhamdulillah, mas juga sehat, dek.”

“Syukur deh. Oh, iya mas, ada apa nih?”

“Hmm…mas mau ngundang, dek. Insya Allah, mas menikah bulan depan. Undangan sudah mas kirim via pos, dek.”

“Mas mau ni…kah?”

“Iya, dek. Dengan mba … ” dan tidak terdengar lagi apa yang diucapkan karena dunia serasa gelap.

“Selamat ya mas. Oh, iya mas, maaf aku harus berangkat ke kantor. Terima kasih undangannya mas.”

Klik.

Dan akupun ambruk.

oOo