Ini kesekian kalinya saya menghadiri pelatihan menulis. Hasilnya? Obsesi menulis semakin menggebu. Kian hari, perasaan iri dengan para penulis sejati dan terkenal pun semakin menggelayuti. Impian memiliki buku  masih tetap terpatri dalam dada. Apalagi buku novel. Rasanya koq indah sekali jika sampai terwujud. Sudah terbayang buku saya didisplay di setiap toko buku terkenal. Banyak pembaca yang tertarik menikmati cerita dan kisah yang saya tuliskan. Bestseller? Wuih, rasanya bak melayang di atas awan. Saya dimintai tanda tangan di setiap buku-buku saya. Orang akan tersenyum, tertawa, terharu dan ikut menangis membaca kisah saya. Oh, mimpi yang indah sekali. 

Pertanyaannya sekarang adalah sudahkah saya menulis? Pertanyaan mudah yang sulit dijawab. Tapi saya bisa menjawabnya ‘sudah’.

So, mana hasilnya? Ada koq. Di blog pribadi saya dan di blog keroyokan asuhan kompas.com yaitu kompasiana.

Terus, sudah baguskah tulisannya? Nah, ini dia yang saya tidak tahu. Saya menulis apa saja yanag terlintas dalam otak saya. Tentang apapun. Mulai dari pengalaman sehari-hari, cerita teman, berita, sampai pada tips, yang kalau dibaca, ya tidak ada benang merah antar tulisannya. Bagus tidaknya tentu tergantung dari penilaian pembaca. Sayangnya saya belum banyak mendapatkan apresiasi yang menyatakan kualitas tulisan-tulisan saya. Kalau diambil dari sisi ini, sepertinya belum bagus ya?

Layakkah tulisannya dibukukan? Hmmm, secara pribadi sih merasa belum layak, karena saya masih belum tahu bagaimana cara menarik benang merah dari semua tulisan saya yang jumlahnya kini mencapai 300 judul, mulai dari pendidikan hingga fiksi. Agak sulit menjadikan satu ke dalam satu judul buku sepertinya.

Lalu, kapan mau membukukannya? Maunya sekarang.

Dan harapan saya sepertinya bakalan terwujud nih. Di teacher writing camp, yang diselenggarakan tanggal 8-9 Desember 2012 di kampus UNJ ini, kami banyak mendapatkan masukan dan pencerahan dari banyak penulis hebat! Awalnya saya menyangsikan para pembicara, karena saya tidak banyak mengenal nama mereka, kecuali bunda Pipiet Senja. Tapi, alangkah kerdilnya saya. Mengaku ingin menjadi penulis tapi tidak mengenal para pembicara hebat yang ada di depan saya, bergantian saling menceritakan kisah dan tips mereka menulis.

Sebut saja Ukim Komarudin. Namanya asing bagi saya. Siapa sangka ternyata ia adalah sosok guru hebat yang humoris dan rendah hati. Pantas saja jika ia dinobatkan menjadi guru favorit di sekolah tempatnya bertugas, yaitu Lab School Kebayoran. Menggeluti menulis sejak duduk di bangku kuliah di UNJ, ia menulis untuk berbagai surat kabar dan majalah. Hingga akhirnya ia membuat buku kumpulan kisah uniknya selama ia mendidik para siswanya yanag berjudul “ menghimpun dari yang berserak” . Jujur, saya belum pernah membacanya, namun saya sudah membaca buku terbarunya yang bertajuk “ guru juga manusia” . Buku yang berisi kisah inspiratif ini diangkat dari berbagai pengalamannya selama menjadi guru. Ditulis dengan bahasa yang mengalir indah, saya dibawa untuk ikut tersenyum, tertawa, terharu, sebal dan bahkan terkesima dengan setiap kisahnya.

Menurut beliau, jika anda ingin terkenal,  maka menulislah! Maka, dimanapun dan kapanpun, ia akan menikmati aktifitas menulisnya tanpa harus menanti mood itu datang. Menulis adalah bentuk rasa syukurnya atas apa yang telah diberikan oleh sang Khalik padanya. Sosok yang sangat bersahaja ini telah memikat hati saya. Sebagai seorang guru, saya bisa bilang saya sangat iri dengan keahliannya menuangkan kata-kata yang mengalir bak rangkaian mutiara yang setiap katanya bermakna dan tertuang dengan indah.

Ada pula Pak Rahmat Affandy. Seorang guru SD di Bekasi. Guru dengan kumis tebal ini ternyata salah seorang penulis hebat pula. Dengan kepiawaiannya memainkan kata-kata, ia mampu menuliskan hal-hal biasa menjadi luar biasa. Ada satu bukunya yang diterbitkan karena penerbit menilai apa yang dituliskannya sangat unik, yaitu 15 penyakit orang tua. Ternyata penyakit ini adalah istilah atau akronim-akronim yang dimunculkan oleh pak Rahmat untuk menggambarkan tipe-tipe orang tua yang biasa ia jumpai sepanjang bertugas menjadi guru. Ambil satu contoh penyakit MIMISAN,  yang merupakan akronim dari mikir-mikir cari alasan. Ini yang terjadi jika ada orang tua yang selalu mencari alasan untuk tidak bisa mengambil laporan akhir tahun nilai anak-anak mereka. Unik bukan?

Menurutnya, menjadi unik sangatkah dibutuhkan dalam hal tulis-menulis. Sama seperti para penyanyi yang butuh menjadi unik dan berbeda, hal ini juga berlaku dalam tulisan. Terkadang ketika kita akan menulis buku, kita akan terhadang oleh kenyataan bahwa sudah banyak penulis yang membukukan tema yang sama. Namun, hal seperti ini dapat kita antisipasi dengan mencari gaya tulisan yang unik dan berbeda. Bagaimana bisa kita mendapatkan ide unik? Tentunya dengan banyak membaca sehingga banyak pula referensi yang memperkaya khasanah bahasa kita.

Pak Satria Dharma berbeda lagi. Sebagai ketua IGI pusat, ia adalah sosok yang sangat bersahaja, cerdas dan runtut. Sosok yang sangat gemar membaca ini mampu menuangkan ide-idenya dalam tulisan dengan sangat menarik. Kehadirannya dalam teacher writing camp kali ini ingin menyebarkan virus membaca dengan program literasi membaca. Program ini telah diujicobakan di SMAN 5 Surabaya. Hasilnya? Cukup mencengangkan. Dengan memberikan waktu 20 menit di awal dan akhir pembelajaran untuk membaca buku non-pelajaran, tingkat literasi siswa semakin meningkat. Siswa diwajibkan membeli buku dan membacanya. Hingga sampai pada satu masa dimana siswa merasa kegiatan membacanya  terganggu oleh bel masuk atau pulang sekolah. Ini bukti bahwa siswa sudah menikmati kegiatan membaca. Program literasi ini juga bisa diterapkan sebagai sanksi bagi siswa yang datang terlambat dengan menambahkan waktu wajib membaca bagi mereka.

Kembali ke kegiatan menulis, Satria Dharma menambahkan bahwa menulis, sama halnya dengan membaca, merupakan aktifitas yang wajib dilakukan. Bahkan hal ini tercantum dalam Al Quran surat Al Baqarah. Di sana tertera kewajiban umat Islam untuk mencatatkan hutang-piutang mereka. Jika hutang saja perlu dicatat, apalagi ilmu-ilmu penting yang manfaatnya banyak dibutuhkan oleh masyarakat luas. Kita analogikan saja kewajiban membaca dan menulis ini dengan kewajiban mendirikan sholat. Kita bahkan diperbolehkan memukul putra-putri kita jika mereka melalaikan sholat. Karena sholat itu wajib dan tercantum dalam Al Quran. Lalu, mengapa kita tidak menerapkan kewajiban yang sama dalam hal membaca dan menulis sementara perintahnya ada pula tercatat dalam Al Quranul Karim?

Setelah Satria Dharma, menyusul bapak Nusa Putra. Sangar, keras, dan berani. Itulah kesan pertama saya terhadap beliau. Bisa dibilang dosen yang satu ini sangat nyentrik pembawaannya. Tapi tahukah anda, dibalik kesangarannnya, tersimpan keilmuan yang sangat luas dan cerdas. Ternyata beliau adalah seorang penulis yang sangat produktif. Sudah lebih dari 20 buku karyanya yang mampu membuat pembacanya berdecak kagum. Ketika ia membacakan salah satu karyanya, yang belum ia terbitkan, kami tersenyum dan tertawa mendengarnya. Menurut saya, ia adalah penulis satir yang sangat berbakat. Untaian kata-katanya sangat pas dan menarik. Bahkan kisah spongebob, yang menjadi tayangan TV favorit keluarganya, bisa menjadi cerita satir yang renyah dan menarik. Bravo buat Pak Nusa Putra yang sangat mengagumkan. Sosok yang sangat cerdas dan berani, bahkan ia tidak peduli dengan anggapan bahwa ia adalah dosen yang kurang disenangi karena sering melontarkan kritikan-kritikan pedas pada para pejabat.

Ia menulis seperti ia melaksanakan sholat. Allah memerintahkan umatnya untuk sholat, dan sholat terbaik adalah sholat di pertiga malam. Maka, menulislah di waktu tersebut untuk menghindari gangguan yang akan menunda aktifitas menulis kita. Tidak ada istilah tidak ada waktu, karena jika ingin menulis, kitalah yang harus menciptakan momen-momen atau waktu terbaik menulis kita.

Dan penulis lain yang tak kalah hebatnya, dan satu-satunya perempuan, adalah bunda Pipiet Senja. Ya, seorang penulis fiksi yang sangat terkenal dan produktif. Sudah ada 100 buku karyanya, walaupun ia hanya bisa menyimpan sekitar 60 judul karena sulitnya mencari buku-buku sebelumnya. Di usianya yang sudah senja, bahkan bisa dibilang sudah nini-nini (sebutan nenek dalam bahasa Sunda, Red.), Pipiet Senja semakin meneror para pembacanya untuk menulis. Itulah mengapa ia disebut teroris alias teror menulis, seperti yang ia tuliskan dalam buku teranyarnya dengan judul  “orang bilang aku teroris” .

Kalau mellihat usianya, saya jadi malu sendiri. Seorang nenek, yang juga mengidap penyakit telesamia, dan harus selalu transfusi darah ini, menjadi penulis hebat yang karyanya dinanti para pembaca setianya. Sementara saya, sehat walafiat dengan usia yang jauh terpaut dibawahnya, belum mampu menghasilkan apapun. Hanya sebatas gemar dan mimpi menjadi penulis, ternyata tidaklah cukup. Bertindak itu adalah hal terpenting! Buktikan niat kita menjadi penulis dengan konsisten menulis. Tidak ada kata tidak bakat dalam menulis. Kita hanya butuh kepekaan yang  lebih besar dari orang lain. Berjalanlah ke luar. Lihatlah sekeliling kita. Ada apa disana? Tangkaplah momen tersebut dan cari tahu. Itu adalah salah satu cara menghilangkan writer block yang kadang muncul di tengah aktifitas menulis kita.

Sebenarnya bukan hanya para penulis hebat dengan buku-buku mereka. Kami juga diberikan beberapa pelajaran penting dari pembicara penting pula. Sebut saja ada mas Jimmy dari Tim Edmodo. Bagi anda yang belum mengenal Edmodo, ini adalah situs sejenis Facebook, namun mengkhususkan diri untuk pendidikan. Di Edmodo kita bisa mendaftarkan diri sebagai guru, murid, orang tua, atau institusi. Bahkan kita bisa membuat kelas virtual dengan materi yang bisa diakses langsung live dengan membuat grup dan mengundang murid-murid kita untuk  bergabung di dalamnya. Menarik!

Yulef Dian, salah satu blogger bekasi, juga berbagi cerita tentang social media, khususnya tentang twitter. Betapa sosial media saat ini memegang peranan penting sebagai image branding diri kita. Dengan memiliki akun-akun social media, seperti facebook, twitter, atau blog, memungkinkan diri kita untuk menunjukkan kepada dunia siapa diri kita, apa kehebatan diri kita, dan apa yang menjadi kekuatan kita. Kita bisa berbagi ide dan kisah-kisah inspiratif dengan menuliskannya di blog atau di twitter. Untuk itu tentu kita harus menuliskan yang baik-baik sehingga image kita pun akan ikut bagus.

Agus Sampurno adalah sosok kreatif lainnya. Guru SD di bilangan Jakarta ini menjadi cukup terkenal dengan akunnya sebagai @gurukreatif yang banyak difollow oleh guru lainnya. Ide-ide kreatifnya menjadi salah satu referensi bagus dalam beraktifitas di dalam kelas. Tak heran jika beliau banyak diundang untuk memberikan pelatihan tentang metode mengajar kreatif dan menyenangkan.

Kalau  sudah mendengar banyak dari penulis hebat  dan para pembicara hebat itu, lalu apa lagi yang ditunggu? Masihkah menyalahkan waktu yang sempit? Tetapkah banyak kerjaan menjadi kambing hitam terhambatnya aktifitas menulis kita? Atau bakat yang merasa tidak dimiliki yang harus kena getahnya?

Tidak. Sekali-kali tidak ada alasan untuk tidak mulai menulis. Tidak ada kata terlambat untuk membuat buku. Tidak juga kata ‘ kapan-kapan ‘ yang terlontar ketika ditanya “ kapan bukumu jadi?”

Semuanya bisa dilakukan sekarang! Dengan komitmen yang jelas, fokus yang terarah dan konsisten  berbuat, tidak ada tidak mungkin untuk sebuah buku yang dinanti darimu!

Lalu, mana bukumu?

Teacher Writing Camp, 8-9 Desember 2012, Wisma UNJ, Jakarta