Pencanangan program “One Day No Rice” pada tahun 2010 yang dimulai di NTB ternyata belum seberhasil program Green Education. Ini dibuktikan dengan masih sedikitnya wilayah di tanah air yang benar-benar melaksanakan program tersebut. Salah satu yang cukup apresiatif terhadap program ini adalah wilayah kota Depok. Kota yang berada di selatan wilayah Jakarta ini sudah mulai menerapkan program One Day No Rice ini sejak tahun 2011. Memang masih berlaku di wilayah perkantoran pemerintahan atau PNS saja, namun pihak pemerintah kota Depok berharap, hal ini dapat diterapkan di seluruh wilayah pemerintahannya.

One Day No Rice ini dicanangkan berawal dari keterbatasan persediaan beras yang semakin tidak mampu memenuhi kebutuhan seluruh penduduk wilayah Indonesia. Selain karena ketersediaan beras, faktor berbagai penyakit yang ditimbulkan karena berlebihnya jumlah karbohidrat yang dikonsumsi oleh masyarakat menjadi alasan lain dicanangkannya program One Day No Rice ini. Untuk itu pemerintah berusaha untuk memberikan pencerahan kepada masyarakat yang notabene sudah sangat terbiasa dengan nasi sebagai makanan pokok mereka. Bahkan sampai ada istilah “Kalau belum makan nasi, namanya belum makan!”. Padahal tentunya banyak sekali sumber karbohidrat lain yang bisa mendekati kadar yang ada di beras.

Sebut saja singkong, jagung, sagu, dan jenis umbi-umbian lainnya. Walaupun kadar karbohidratnya tidak setinggi di beras, namun cukup untuk memenuhi kebutuhan gizi sehari-hari. Di Depok sendiri, pada satu hari, yaitu hari Selasa, para kantin perkantoran dilarang menyediakan nasi sebagai makanan pokoknya. Mereka harus menggantinya dengan umbi-umbian atau jagung dan penganan lain selain nasi. Pada awalnya agak kurang enak makan tanpa nasi, tapi lama-kelamaan para pegawai negeri sipil tersebut sudah mulai terbiasa. Rasanya? Tidak jauh beda dengan ketika mereka mengkonsumsi nasi.

Sayangnya program pengalihan makanan pokon dari nasi ke sumber karbohidrat lainnya tidak diiringi dengan tindakan pembudidayaan tanaman umbi-umbian atau jagung secara masal. Artinya, ketika masyarakat sudah mulai tertarik untuk beralih makanan pokok, terkadang mereka kesulitan mencari singkong, jagung dan umbi-umbian lainnya. Hal ini dikarenakan, masyarakat belum menanam secara serentak di seluruh wilayah Indonesia. Mereka masih mengandalkan ketersediaan umbi-umbian tersebut seperti sebelumnya. Jika ingin program ini berjalan di seluruh wilayah tanah air, tentu pemerintah juga harus mengimbangi dengan himbauan menanam tanaman pengganti nasi tersebut secara besar-besaran, sehingga kebutuhan akan makanan pokok pengganti beras pun dapat terpenuhi.

Jika selama 2 tahun terakhir ini, baru segelintir daerah saja yang melaksanakan program One Day No Rice ini, diantaranya NTB dan Depok, saya rasa promosi dari pemerintah harus digencarkan. Selama ini saya belum pernah mendengar iklan-iklan layanan masyarakat yang mempromosikan tentang program ini. Padahal program ini sangat bermanfaat untuk mengurangi asupan karbohidrat yang berlebih karena mengkonsumsi nasi.