Suatu sore di sebuah kantor…

“Oke, teman-teman. Jadi undangan pelatihan sudah disampaikan. Insya Allah akan dilaksanakan di akhir liburan pada tiga hari terakhir liburan.”

Pengumuman itu ditanggapi berbeda oleh seisi ruang rapat.

Ada yang antusias saking haus akan ilmu. Ada yang biasa saja, ada pelatihan syukur, gak ada juga gapapa. Ada juga yang langsung menolak.

“Wah, aku mah pasti gak bisa. Wong, aku punya anak kecil.”

“Iya, bu. Aku juga gak bisa. Anakku kan masih menyusui.”

Mendengar celetukan teman-temannya yang kurang apresiatif, salah seorang dari mereka pun bilang, “makanya ibu-ibu, selagi masih ada kesempatan dan bisa, jangan sia-siakan program pelatihan kayak gini. Ini kan buat pengembangan diri. Tahun lalu dikasih kesempatan gak ikut juga.”

“Soalnya saya gak dapat ijin suami.”

“Kalau gitu, mendingan ibu di rumah aja, ngapain kerja kalau dapat ijinnya setengah-setengah gitu”, komentarnya lagi.

Seisi ruangan langsung diam.

Ya, benar juga sih. Ketika kita, para wanita dan atau istri sudah berani ambil keputusan untuk bekerja, maka kita dan juga pasangan harus berani juga ambil resikonya. Bekerja bukan hanya semata mencari pendapatan. Bekerja adalah komitmen. Beberapa komitmennya yaitu kita memiliki jam kerja yang sudah ditentukan, mendapat tugas yang sudah diamanahkan, dan juga  komitmen untuk mengembangkan diri. Komitmen seperti itu sudah menjadi satu bagian, satu paket dalam setiap jenis pekerjaan yang kita jalani. Tidak bisa kita hanya memilih satu komitmen saja sementara komitmen yang lain diabaikan.

Kasus di atas adalah contoh dimana para istri dan suami belum bisa menjalankan komitmen sesuai porsinya. Kalau masih ada para suami yang tidak mengijinkan para istrinya untuk mengikuti program pengembangan diri, bisa dikatakan mereka adalah (maaf) suami-suami yang egois. Mereka tidak memahami apa arti sebuah komitmen pekerjaan. Jika anda belum siap memberikan ijin secara total, mengapa pula anda memberikan kesempatan pasangan anda untuk bekerja? Larangan anda untuk tidak mengijinkan pasangan anda mengikuti berbagai acara pelatihan merupakan satu gambaran bahwa anda masih bersikap egois dan tidak realistis.

Benar, surganya para istri ada di ijin para suaminya. Tetapi, ketika kita sudah masuk dalam ruang profesionalitas, maka ada komitmen yang harus dipahami secara bersama. Tidak bisa asal pilih hanya mau komitmen yang satu, dan tidak mau komitmen yang lain. Itu yang namanya tidak profesional.

Untuk itu, para suami, jika anda merasa belum mampu memberikan ijin sepenuhnya kepada pasangan-pasangan anda untuk bekerja secara total, lebih baik anda ijinkan mereka menjadi ibu rumah tangga saja, profesi yang jauh lebih mulia dibandingkan profesi apapun di dunia.

Salam hangat…