Lagi asyiknya bengong sambil nunggu antrian, tiba-tiba handphone bunyi. Cek nomor yang muncul, tanpa nama. Berarti itu nomor tak dikenali, alias bukan teman, sahabat, saudara atau kenalan yang namanya sudah tercantum di phonebook memory saya. Ya, mana tahu penting, angkat sajalah…

“Halo…”

“Halo, Nung. Ini abang!”

“Abang? Bang Atang [nama satu-satunya kakak kandung laki-laki saya]?” Saya balik nanya sambil liat nomornya. Koq bukan nomor dia ya?

“Bukan, ini abang J****.”

“J****? Huh, kirain siapa? Lagi bilangnya abang! Oh iya, kapan mau kasih contoh bukunya, bang! Entar sore ya? Soalnya ane masih di luar nih!”

“Iya, gampang. Abang sekarang mau minta tolong nih! Pura-pura jadi bini abang ya? Abang kena tilang nih. Ente cukup bilang ke polisinya kalau surat-surat ada di rumah!”

“Ah, gak mau. Gak berani urusan sama polisi! Apalagi pura-pura jadi bini ente!” bales saya.

“Yailah, kan elo emang gak ada laki. Bentar doang!”

“Eits. Urusan ane itu mah bang! Gak ada urusan sama ente!” Darah dah mulai mendidih nih. Jadi curiga, ini sebenarnya bang J**** yang ane kenal apa bukan ya? Koq rada-rada aneh. Nomor HP nya juga bukan yang ada di kontak.

“Tolong, Nung. Kepepet nih. Butuh 200 ribu! Abang cuma punya 50 nih!” Dia masih ngotot.

“Sori bang. Ane gak bisa bantu. Ke orang lain aja. Gak mau urusan sama polisi pokoknya!”

“Kalau gitu, beliin pulsa 200 ribu deh buat polisinya, ntar nomornya dikirimin!”

“Gak mau!”

Tiba-tiba suara berbeda terdengar diseberang sana.

“Halo..”

Waduh, piye iki? Akhirnya, tanpa pikir panjang, saya menjauhkan telepon dari telinga saya dan mengarahkan ke keramaian orang. Saya tidak langsung mematikan karena khawatir itu orang yang saya kenal. Setelah beberapa detik, saya cek handphone, sudah tidak ada panggilan. Barulah saya lega.

Gila! Ini penipuan bukan ya? Emang ada gitu polisi yang mau nelpon? Bukannya kalau ketahuan gak ada surat-surat kendaraan, pasti keluar surat tilang? Aneh dunia!

Sampai sekarang saya belum kroscek dengan orang yang bernama J**** itu. Masih belum berani nanyain! Kayaknya kita harus lebih hati-hati memilih teman dan menerima telpon sejenis itu. Jangan sampai tergoda dan terhipnotis untuk segera mengirim uang walaupun yang menelepon kita [sepertinya] orang yang kita kenal. Wallahualam bissawwab….