Anda seorang guru?

Mungkin Anda bisa menjawab pertanyaan ini: “Apa yang membuat seorang guru merasa paling bahagia?” Jawaban ini tentu sangat beragam, tergantung Anda condong ke mana. Jika Anda bertanya pada saya, maka jawaban saat ini yang bisa saya berikan adalah ketika murid kita masih mengingat diri kita dengan jelas. Ketika murid kata dengan suka cita menelpon dan kangen mendengar suara kita. Ketika tiba-tiba murid kita sudah tiba di depan pintu rumah kita. Ya, kebahagiaan seorang guru bagi saya ada di murid-murid saya. Memang tak banyak murid-murid kita yang mampu melakukan hal-hal tersebut. Namun, percayakah Anda bahwa dari sekian banyak murid-murid kita yang sudah lulus, pastilah ada segelintir anak yang masih sangat mengenang diri kita.

Saya jadi ingat dengan salah seorang murid saya. Dia bisa dibilang tidak sangat pintar, artinya kemampuan kognitifnya rata-rata saja. Kemampuan ekonomi orang tuanya pun bisa dibilang keluarga menengah. Ia tak perlu memakai uang atau barang untuk bisa menyenangkan hati gurunya. Tapi apa yang ia lakukan?  RESPECT! Ya, dia adalah satu dari sekian banyak murid yang masih mengagungkan rasa hormat terhadap para gurunya. Tak perlu diminta, ketika ia melihat gurunya kerepotan, ia akan tanpa segan mengulurkan tangannya untuk membantu. Tak perlu diingatkan, ia akan serta merta menghentikan kegiatannya untuk salim takjim kepada sang guru. Ia, yang katanya sering terlambat datang ke sekolah, tapi memiliki rasa hormat yang sangat tinggi kepada guru-gurunya.

Hingga tadi malam, ia menelpon saya. Dengan serius ia meminta pendapat saya sebagai salah seorang gurunya. Tak tanggung-tanggung, pertanyaan yang ia lontarkan sangat berat untuk dijawab. Ia menanyakan pendapat saya jika ia memutuskan untuk berhenti kuliah. Ya, baginya kuliah tidak membuatnya menjadi pintar. Kuliah tidak memjadikan ilmunya bertambah. Datang hanya sekedarnya dan tidur di kelas. Ujian? Siap tempur dengan contekan sana-sini. Menurutnya itulah kenyataan yang terjadi padanya dan pada sebagian besar mahasiswa lainnya yang ia kenal. Tak ingin membuang uang orang tuanya dengan ketidaknyamanannya mengecap bangku kuliah, ia pun memutuskan untuk keluar saja.

Alasannya?

1. Ia tidak nyaman kuliah

2. Ia tidak perlu gelar sarjana

3. Ia sedang merintis bisnis yang membutuhkan waktu dan perhatian penuh darinya

Mendapat todongan pertanyaan yang berat ini, saya sempat membalikkan pertanyaan kepadanya. Apakah ia merasa nyaman dengan bisnisnya yang ia geluti? Apakah ia merasa yakin dengan usahanya? Tidak bisakah ia membagi waktunya untuk kuliah dan bisnis? Tidakkah ia ingin membanggakan orang tuanya dengan menjadi sarjana? Tidakkah ia ingin memotivasi anak-anaknya kelak ketika ia berumah tangga dan memiliki keturunan?

Namun, dengan sangat yakin, ia berkata: “Kalau gelar sarjana saya hanya untuk menyenangkan orang tua saya, bukankah lebih baik menjadi usahawan yang sukses yang bisa lebih menyenangkan mereka? Mungkin orang tua bangga dengan gelar tersebut, tapi saya tidak akan merasa bangga dengan apa yang saya lakukan selama saya kuliah saat ini. Akan lebih baik jika uang yang dikeluarkan dimanfaatkan untuk hal-hal yang lebih bermanfaat dibandingkan membiayai kuliah saya yang saya tidak mau. Saya tidak masalah dengan prestise. Artinya prestise bagi saya bukan terletak pada gelar. Tapi pada bagaimana seseorang memaknai hidupnya. Bukankah Nabi Muhammad juga menganjurkan umatnya untuk mencari nafkah dengan berniaga? Ilmu akan lebih bermanfaat ketika kita mendapatkannya berdasarkan pengalaman hidup yang kita hadapi.”

Mendengar penuturannya, saya dibuatnya terpengarah. Saya tidak menyangka bahwa murid yang semasa sekolahnya dicap anak “badung” karena sering terlambat dan rendah nilai akademisnya, mampu mendapatkan pelajaran berharga dari hidup yang ia jalani sekarang. Sudah banyak garam yang ia makan ketika ia berbisnis, tak sedikit pula pare yang tertelan saat menghadapi masa-masa pahitnya, namun gula yang sedikit terasa sangat manis ketika gula tersebut datang setelah garam dan pare.

Obrolan itu membawa keyakinan pada saya bahwa tidak semua orang menganggap gelar sarjana hal yang sangat penting. Karena memang, kesuksesan hidup tidak bergantung pada gelar tersebut. Salah satunya ya murid saya itu. Walaupun saya tetap mengingatkan dia bahwa ketika suatu saat dia butuh untuk belajar lagi, maka tidak ada kata terlambat untuk melanjutkan kuliahnya. Saya mendukung keputusannya untuk berhenti kuliah dan serius menjalankan bisnisnya.

Sukses terus anakku. I am really proud of you🙂