Adakah orang yang tidak pernah berhutang? Hmm….mungkin ada ya? Tapi entahlah siapa gerangan orangnya. Namun, yang saya tahu, konglomerat yang uangnya milyaran sampe trilyunan aja berhutang. Apalagi masyarakat kecil seperti saya ya? Banyak orang bilang hutang itu penyemangat hidup. Artinya ketika kita punya hutang, maka kita sadar akan kewajiban yang harus kita lakukan, yaitu membayar hutang tersebut. Karena kewajiban itulah, akhirnya si empunya hutang harus bekerja ekstra keras untuk bisa memenuhi salah satu kewajiban tersebut. Apalagi ketika kita berhutang untuk hal-hal urgent semisal rumah, atau kendaraan bermotor untuk menjangkau lokasi kerja yang terkadang jaraknya membutuhkan 2 hingga 3 jam perjalanan. Jangka waktu yang lama membuat kita akhirnya selalu semangat bekerja untuk melunasi hutang-hutang kita yang terkadang sedikit menyiksa itu.

Saya sendiri sebenarnya lebih memilih menghindari hutang. Selagi masih bisa bayar tunai, maka saya akan pilih tunai. Namun, sebagai salah satu anggota koperasi simpan pinjam di tempat kerja, keinginan berhutang itu seolah-olah menjadi satu keharusan. Loh koq bisa? Yup, karena di koperasi itu mengenal istilah bagi hasil atau SHU (sisa hasil usaha) yang dibagikan di akhir tahun anggaran. Nah, bagi anggota koperasi yang paling sering memanfaatkan jasa koperasi simpan pinjam itu (baca: sering berhutang), maka pembagian SHU nya pun akan lebih besar dibandingkan mereka yang tidak berhutang. Walaupun tentu kita bisa meningkatkan SHU kita dengan simpanan sukarela yang besarnya bisa tak terhingga. Tapi, sepertinya lebih susah menyisihkan uang untuk tabungan ya, ketimbang buat bayar hutang? hehhehe….

Demi meningkatkan SHU itulah, akhirnya terkadang saya bela-belain berhutang, untuk apapun itu. Bahkan saya sampai rela membiarkan nama saya dipakai orang lain untuk berhutang, asalkan SHU saya bisa besar di akhir tahun🙂 Walaupun tentu saja, si peminjam akan membayar tunai ke saya. Akhirnya keberadaan koperasi simpan pinjam ini membiasakan para anggotanya untuk berhutang, bagi saya khususnya, untuk meningkatkan SHU saya di akhir waktu.

Sayangnya, tahun ini saya harus benar-benar merasakan hutang yang besar, dalam artian sebenarnya! Niat ingin memiliki rumah sendiri cukup besar, ditambah dengan rengekan sang anak yang ingin memiliki rumah sendiri. Modal nekat, dengan hanya memegang uang sekitar 15 jutaan, saya akhirnya membangun rumah, yang bisa dibilang cukup layak. Perkiraan dana yang hanya berkisar 65 jutaan, ternyata membengkak menjadi lebih dari dua kali lipatnya. Akhirnya, dengan sangat terpaksa, pinjaman besar-besaran pun dilakukan. Tidak tanggung-tanggung! Besarannya mencapai 100jutaan! Wow! Angka yang fantastis buat saya yang tidak pernah meminjam uang lebih dari 5 juta rupiah!

Untungnya, uang itu saya pinjam dari uang almarhum ibu dan kakak tertua saya. Sehingga sistem pengembaliannya pun tidak seketat ketika kita meminjam di bank atau orang lain. Tanpa bunga pula sehingga meringankan saya sebagai pihak yang harus membayarnya sendiri. Akhirnya sistem pembayaran pun dilakukan per turunnya uang tunjangan sertifikasi pendidik yang saya miliki. Berhubung turunnya pun tidak pasti waktunya, maka pembayaran pun disesuaikan. Dengan perhitungan 1,5 juta per bulan dikalikan 12 bulan, dipotong dengan biaya lain-lain, maka setahun saya bisa membayar hutang sebesar kurang lebih 15 juta rupiah per tahun. Kalau dihitung-hitung nih, sekitar 10 tahun saya baru bisa melunasi utang saya ke ibu dan kakak tertua saya.

Bersyukur punya keluarga yang mendukung penuh sehingga hutangpun bisa diatur senyaman mungkin. Ya, mudah-mudahan setelah hutang rumah saya lunas, tidak ada hutang-hutang  bernilai besar lagi yang harus saya tanggung! Capek!🙂