Masalah anak adalah masalah orang tua. Tentu saja pernyataan ini berlaku untuk masalah yang ansi, bukan tentang pertumbuhan badan seperti merangkak hingga berjalan, dll.

Masalah anak itu harus dilihat bagaimana orang tua menanggapi masalah yang ada. Apakah dengan santai, marah, tegang, serius atau berimbang. 

Contoh kasus: Anak tidak mau sekolah

Jika kita paksakan, maka 20% masalah selesai, tetapi 80%nya masalah tersimpan dan entah kapan bisa diselesaikan secara tuntas.

Dalam perkembangannya, kita sering mendengar ungkapan “kata mama, kata bunda, kata guru”. Kata-kata itu merupakan kata yang muncul pada anak-anak usia SD, sehingga bayangkan betapa orang-orang terdekat itulah yang melekat di dalam diri mereka.

Untuk anak usia SMP, akan muncul “kata temanku”, maka betapa teman menjadi orang terdekat yang paling sering didengar dan jadi panutan anak-anak remaja kita.

SMA? tentu lebih banyak lagi.

Kata kunci yang baik dalam mendidik anak adalah dengan menggunakan kata CAPAIAN, bukan TARGET. Dengan kata kunci capaian tersebut, kita sudah mengira-ngira kondisi sekarang bagaimana dan kita berusaha untuk menstimulasinya untuk di masa depan. Beda dengan target yang merupakan capaian yang kita buat dan anak harus mengikutinya (dengan tanpa memperhatikan) kondisi si anak sendiri.

Jika dirumuskan, kata capaian mengandung makna sekarang untuk mencapai yang masa depan.

Misalnya: anak dengan tinggi badan 110 cm tidak mungkin diberikan target melempar bola setinggi 2 meter (ketinggian)

Guru harus bisa berusaha membuat satu lesson plan untuk sejumlah anak, tetapi harus disesuaikan dengan CAPAIAN si anak tersebut. Misalnya materi hitungan. Bagi anak tertentu, angka yang digunakan baru sebatas angka 1-10. Namun, untuk anak yang kemampuannya lebih, bisa menggunakan angka 11-20 atau bahkan lebih.

Bagan singkat kemampuan manusia yang terintegrasi:

jiwa —–> fisik —–> emosi —–> bahasa —–> mental —–> sosial —–> berpikir

Perkembangan mental disini adalah ketahanan terhadap rasa sakit, bahaya dan tekanan.

Bagi anak yang berani atau sudah bisa melakukan hal-hal fisik yang berbahaya, maka ia sudah memiliki kesanggupan atau kepercayaan diri untuk masuk ke dunia sosial.

Anak dengan kemampuan fisik yang memadai, maka kemampuan sosialnya pun akan jauh lebih baik.

Anak terkendala di komunikasi atau bahasa karena ada organ vescular yang belum sempurna, misalnya: ketika anak diminta berdiri dengan satu kaki, ia tidak berdiri tahan lama.

Indikator palilng mudah dari perkembangan emosi adalah dilihat dari tulisan si anak atau motorik halusnya. Untuk mengecek, kita bisa lakukan tindakan berikut ini: Berikan kertas pada anak dan anak diminta menggambar di space berbentuk kotak. Amati apakah gambar akan bertahan di dalam kotak atau akan keluar garis kotak tersebut. Kalau jelek, maka alat indranya belum proporsional. Jika hal ini yang terjdai, harus dilatih kemampuan motorik halusnya secara bertingkat.

Jika perkembangan fisik dan emosi sudah bagus, tetapi masih belum bersemangat ke sekolah, maka yang kita amati kemudian adalah jiwanya. Kemungkinan terjadi karena kurangnya waktu luang orang tua yang dimanfaatkan dengan anak, atau kurangnya kasih sayang.

Solusi terbaik adalah dengan meluangkan waktu dengan anak-anak kita tanpa ada gangguan (distraction) semisal gadget. Luangkan waktu untuk bersikap ramah terhadap orang lain dan terhadap anak. Ketika kita akan melakukan sesuatu, terkadang anak kita biarkan asyik bermain dengan gadgetnya. Hal ini tentu akan menjadi kebiasaan dan akan melekat di perilaku mereka di kemudian hari.

Jika kesadaran orang tua sudah ada, tugas kita selanjutnya adalah bagaimana agar pendidikan dan pengasuhan yang kita terapkan ini mengedepankan prinsip berimbang.

Berimbang = memberikan kebebasan tetapi tetap imbang memberikan aturan. Banyak orang tua bilang bahwa hal ini sangat sulit dilakukan. Kenapa? Karena ternyata orang tuanya juga belum imbang!

Sebenarnya dengan pernikahan, ibu dan ayah seharusnya sudah untung. Itu kalau pembagian tugasnya sudah seimbang. Kalau belum? Ya mungkin belum beruntung.

Ada banyak hal yang bisa dilakukan oleh ayah. Sayangnya, dengan kerja yang panjang, ayah kadang suka merasa bersalah, sehingga ketika ada waktu luang, ayah lebih memilih memberikan kebebasan dan memanjakan anak. Padahal seharusnya tugasnya memberikan aturan yang jelas dan tegas, karena umumnya yang bisa bersikap tegas itu adalah pihak ayah.

Kalau tidak ada ketegasan, maka tidak ada aturan.

Tegas = memberikan batasan dan aturan. Tegas itu harus ada tujuan, namun dengan hati yang lembut.

Jadi pada dasarnya, kunci menghadapi masalah anak adalah kita dulu yang harus belajar menyeimbangkan diri. Jika orang tua belum bisa seimbang, maka akan sulit bagi anak untuk bersikap berimbang.

Kita harus bisa menggunakan ketegasan, aturan dan konsekuensi (bukan sanksi!).

Kapan sebenarnya kita harus bertindak tegas?

1. Ketika kita mengajarkan dan menanamkan nilai-nilai luhur dan penting seperti kejujuran, sholat lima waktu, dan hormat pada orang tua.

2. Ketika memberitahukan sesuatu yang membahayakan diri atau sosial dan juga mengganggu diri atau sosial.

Bedakan antar KETEGASAN (KONSEKUENSI) dengan MENGANCAM (SANKSI):

1. Ketegasan —-> Konsekuensi

– Ada konsekuensi alamiah, misalnya jika cuaca panas dan kita tidak memakai payung, maka akan berasa kepanasan, atau belum makan jadi berasa lapar, dll.

– Ada konsekuensi buatan, misalnya jika anak tidak melakukan sesuatu maka akan mendapatkan konsekuensi yang tidak mengenakkan.

Jangan pernah kita menggunakan kata HUKUMAN, karena kata ini hany bisa diterapkan pada orang dewasa. Kata konsekuensi bertanda bahwa anak masih dalam proses belajar.

2. Mengancam —–> Ancaman, lebih bersifat emosional dibandingkan proporsional.

Membangun karakter pada anak, bukanlah hanya pembiasaan, tetapi mulai melatih kesadaran menggunakan logikanya bahwa ini adalah pilihan yang baik. Ajarkan anak memilih dan berlatih tanggung jawab. Misalnya dengan mengatakan “Nak, jika kamu memilih yang ini, maka konsekuensinya adalah ini”.

Kita harus merangsang kemampuan anak untuk memahami bahwa ia punya pilihan, berani memilih dan berani menanggung resiko atas apa yang dipilihnya. Dorong anak untuk memilih yang baik-baik. Jika belum bisa yang baik, maka anak punya keberanian untuk menanggung kesalahan dengan meminta maaf, dan berani mengulang melakukan yang benar.

Perkembangan itu kadang ke kiri, kadang ke kanan. Maka kita harus seimbangkan lagi, salah satu caranya dengan cara mengajarkan konsekuensi dan bersikap tegas.