Sempat kaget juga membaca judul berita di surat kabar hari ini. Ada rencana penghapusan mata pelajarn di sekolah dasar, seperti pelajarn bahasa Inggris, dan penggabungan mata pelajaran seperti IPA dan IPS.

Menanggapi wacana di atas, saya sebagai guru bahasa inggris sangat menyayangkan jika sampai pelajaran bahasa inggris dihapuskan. Sementara pihak sekolah tinggi sedang gencarnya menjadikan tes toefl sebagai salah satu syarat untuk melanjutkan pendidikan, institusi pendidikan bawah malah ingin menghapusnya. Agak ironis memang ketik dunia sudah seglobal saat ini.

Sebagai sebuah ketrampilan, kemampuan berbahasa merupakan ilmu dan kompetensi yang dipelajari sejak dini. Bahkan di awal-awal masa pertumbuhan manusia, yaitu balita, bahasa menjadi ilmu pertama yang diajarkan. Dari mengenalkan suara-suara hingga mencontohkan kata-kata yang kemudian akan diikuti oleh pembelajar tercepat di dunia, yaitu balita.

Sebelum manusia mempelajari hal lain, bahasa sebagai alat komunikasi menjadi landasan utama untuk menjalani kehidupan. Bayangkan jika dunia tanpa bahasa atau alat komunikasi, bagaimana manusia bisa bertahan hidup?

Tentu bahasa pertama yang kita pelajari adalah bahasa ibu, atau bahasa sehari-hari kita. Namun, tentu kita tidak bisa memungkiri bahwa ada masyarakat lain di belahan dunia berbeda yang suatu saat bisa terjalin silaturahim di antara mereka. Dan tentu, bahasa menjadi satu kendala yang signifikan ketika manusia yang ingin berinteraksi demi kebutuhan dan kebaikan, tidak mampu mengkomunikasikan ide atau gagasan mereka. Untuk itulah muncul yang namanya bahasa internasional, yaitu bahasa inggris.

Kebutuhan untuk menguasai bahasa internasional itu sudah begitu urgentnya hingga tak sedikit orang yang berusaha mempelajari bahasa asing ini. Dan kita mungkin tahu bahwa belajar diusia sudah cukup dewasa akan lebih mudah mengalami kesulitan. Maka, akan lebih baik jika pembelajaran bahasa inggris ini sudah dimulai sejak dini dimana usia anak-anak dikenal dengan istilah “usia emas” yang memungkinkan anak-anak untuk lebih mudah menerima pelajaran dan tertanam lebih dalam di dalam otak bawah sadarnya.

Namun, tentu harus pula diperhatikan materi atau cara penyampaian pembelajaran bahasa inggris ini. Karena jika salah pilih metode, jangan kaget jika anak akan merasa terintimidasi oleh guru. Kita harus bisa mencari skenario pembelajaran bahasa inggris yang fun dan tepat sasaran. Jika kita mampu menerapkan metode yang tepat, saya yakin anak akan terpikat untuk selalu berada di kelas bahasa inggris.

Saya jadi teringat dengan tingkah polah seorang anak perempuan rekan kerja saya yang duduk di kelas 1 SD. Ketika ia tahu saya adalah guru bahasa inggris, dia pun tanpa canggung mengucapkan kosa kata bahasa inggris dan meminta saya mengucapkan kata-kata tersebut.Lalu, kami pun asyik belajar bahasa inggris bahkan anak itu ingin mengikuti jejak saya belajar bahasa inggris di perguruan tinggi.

Untuk usia anak tersebut, penguasaan kosa katanya sudah cukup bagus. artinya, ketika kita mengajarkan anak berbahasa inggris, otak dan jiwanya lebih mudah menyimpannya dibandingkan ketika kita belajar di usia senja.

Mengingat hal tersebut di atas, saya cukup prihatin dengan rencana penghapusan pelajaran bahasa inggris. Mungkin pihak yang berwenang harus lebih mempelajari kebaikan dan kerugian dari niat mereka menghapus mata pelajaran tertentu sebelum akhirnya rencana itu terlaksana.