Berita tawuran beberapa waktu yang lalu menorehkan tinta merah [lagi] pada perjalanan pendidikan di Indonesia. Bagaimana tidak, tawuran kali ini memakan korban jiwa yang sangat memilukan, yaitu terhujam clurit tajam. Entah datang darimana benda itu sampai bisa ada di tangan FR, pelaku penusukan. Sebegitu siapkah anak-anak itu dengan perlengkapan tawuran mereka? Kalau bukan sebuah kebiasaan pasti tak akan pernah anak-anak menyiapkan benda tajam seperti itu. Mungkinkah tawuran sudah menjadi tradisi mereka sehingga mereka harus berjaga-jaga dengan persenjataan lengkap?

Banyak pertanyaan setelah kejadian itu. Siapakah yang bersalah dalam kasus pelajar tawuran? Ada yang bilang sekolah tak bisa mendidik siswanya. Tak sedikit yang bilang orang tuanyalah yang tak bisa mendidik putra mereka. Atau di lain pihak, itu adalah kesalahan si anak sendiri. Saya rasa kasus ini harus diambil pelajaran bagi semua pihak. Bisa dikatakan ada kelalaian dari semua lini. Namun, tentu kita tidak bisa menyalahkan begitu saja. Harus bisa meberikan solusi dan mendeteksi kira-kira letak kelalaiannya ada dimana.

Menurut salah seorang nara sumber dalam acara pengajian di kampus sekolah kami, Ust. Syaihu, ada banyak faktor yang bisa mempengaruhi tabiat dan perilaku anak-anak kita. Dan semua pihak harus mengintrospeksi diri apakah kita telah memberikan dan melakukan hal terbaik bagi perkembangan anak dana peserta didik kita.

Satu hala yang perlu dilihat kembali adalah memudarnya (jika tidak bisa dibilang hilang sama sekali) beberapa peran strategis sebagai pendidik dan pengajar rumahan. Artinya ada bagian peran yang terlupakan saat ini yang harus kembali kita fungsikan dengan maksimal. Ada lima peran strategis yang perlu kita fungsikan, yaitu:

1. Dakwah

Tahukah anda bahwa kewajiban pertama manusia itu bukanlah untuk ibadah tapi untuk berdakwah? Mungkin kita sering membaca kisah-kisah nabi sebelum Rasullah SAW dimana mereka tidak melakukan ibadah layaknya yang kita lakukan saat ini yaitu rukun islam, namun perintah utama mereka adalah menyampaikan keesaan Allah SWT. Bagi umat yang menerima dakwah para nabi terdahulu, mereka akan selamat, sementara yang menolak, mereka akan binasa. Contohnya kisah Nabi Nuh as, Nabi Musa as, dll.

Oleh karena itu, harus kita tanamkan pada diri kita bahwa:

Dengan dakwah, dimasukkan kebesaran Allah SWT di hati anak-anak kita.

Dengan dakwah, dimasukkan ketauladan Rasullah SAW ke hati anak-anak kita.

Dengan dakwah, dimasukkan kebenaran Islam ke hati anak-anak kita.

Untuk itu, kita harus mulai mengaktifkan fungsi dakwah itu dimulai dari keluarga, misalnya dengan mengajak anggota keluarga kita untuk mengkaji al quran. Karena saat ini, semakin banyak orang yang tidak peduli dengan fungsi dakwah ini. Bahkan ada orang tua yang bangga ketika anaknya pandai berbahasa Inggris sementara ia tidak merasa kecewa ketika anaknya tidak bisa membaca al quran. Naudzubillah…

2. Murobiyah

Fungsikan diri kita sebagai pendidik di rumah.

Ada satu kisah ketika seorang ulama ditanya “Mengapa anda tidak menyekolahkan anak-anak anda?” Ia pun membalas:

“aku tidak pernah melihat kambing sekolah, tapi ia bisa mengembik seperti ibunya.”

“aku tidak pernah melihat sapi sekolah, tapi ia bisa me”moo” seperti ibunya.”

“aku tidak pernah melihat kuda sekolah, tapi ia bisa meringkik seperti ibunya.”

Artinya adalah ketika kita menjadi pendidik di rumah kita masing-masing, maka anak tidak perlu lagi mencari pendidik lain di luar rumah. Ketika anak-anak kita sekolahkan, fakta sebenarnya adalah kita hanya membeli “suasana” belajar saja di sekolah. Coba kita ciptakan suasana belajar di rumah, tidak perlu lagi anak disekolahkan. Dengan mendidik di rumah, kita bisa tahu dan memantau keseharian kegiatan anak-anak kita. Misalnya kita bisa cek makannya, minumnya, doanya, mengajinya, sholatnya, dll. Jangan sampai anak lebih dekat dan percaya dengan facebook, twitter, youtube, dibandingkan dengan kita, orang tuanya sendiri. Kepada siapa anak bertanya jika bukan ke orang tuanya? Namun, jika orang tua tidak memfungsikan dirinya sebagai pendidik, maka tidak menutup kemungkinan anak akan mencari jawaban dari pertanyaan-pertanyaan mereka di luar sana. Tugas kita lah untuk mengawasi, memperhatikan dan mendidik anak-anak kita.

3. Mu’alimah

Mengajarkan sendiri putra putri kita tentang berbagai hal akan meminimalisir krisis fungsi dan jati diri yang banyak terjadi pada anak-anak kita terutama yang sedang menginjak masa remaja.

4. Khodam

Harus ditumbuhkan semangat melayani, mengayomi, ngemong. Seandainya apa yang kita kerjakan, dilaksanakan dengan nikmat dan ikhlas, niscaya kita akan mendapatkan ganjaran baiknya. Anggaplah orang lain adalah majikan kita, sehingga kita memiliki semangat untuk orang lain. Kenyataan yang ada saat ini adalah orang berlomba-lomba ingin jadi majikan yang maunya dilayani orang lain.

5. Zahidah

Terapkan prinsip kesederhanaan dalam berbagai segi kehidupan kita di rumah. Tidak bermewah-mewah ketika memiliki makanan, memilih pakaian, atau mempunyai rumah. Pilihlah hal yang paling sederhana sehingga anak akan terbiasa dengan prinsip hidup sederhana walaupun anda memiliki kelebihan di bidang harta kekayaan sehingga anak tidak manja dan tidak tergoda untuk bersikap dan bertindak TIDAK sederhana.

Dengan memfungsikan 5 peran strategis tersebut di rumah, insya allah mampu mengurangi perilaku dan tabiat buruk putra putri kita. Dan pada akhirnya jauhlah mereka dari istilah tawuran tersebut.

Wallahu alam bisshawab…