Entah berawal dari mana, tapi beberapa tahun terakhir ini, sejak departemen pendidikan mencanangkan sekolah bertaraf internasional, semakin banyak pula sekolah yang ingin diCAP sebagai Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional, Sekolah Bertaraf Internasional atau Sekolah Internasional. Persyaratan-persyaratan yang diajukan oleh pihak Diknas setempat pun berusaha untuk dipenuhi oleh sekolah yang mengajukan diri mereka sebagai sekolah dengan titel-titel tersebut.

Memang berdasarkan pengalaman, dengan mencantumkan titel tersebut, sekolah semakin dibanjiri peminatnya, baik sekolah negeri maun sekolah swasta. Loh, mengapa sekolah negeri juga harus cape-cape mengejar titel tersebut? Bukankah tanpa ada titel pun, sekolah negeri pasti banjir peminatnya, apalagi sekolah dengan angka 1 di masing-masing daerah. Ya, ternyata konsep sekolah RSBI, SBI dan SI ini menjadikan biaya masuk dan spp per bulannya menjadi selangit. Sekolah negeri yang seharusnya gratis pun menjadi semahal sekolah swasta.

Sebenarnya konsep RSBI itu seperti apa sih? Apanya yang disebut “internasional”? Kurikulumnyakah? Bahasa pengantarnyakah? Atau sarana dan prasarananya? Sepanjang yang saya amati, tentang RSBI yang saya tahu, kurikulumnya tidak jauh berbeda tuh. Bahkan terkesan malah mereka lebih mengusung jurusann IPA saja, dengan mengabaikan jurusan IPS (ini kasus untuk RSBI tingkat atas). Apakah yang ingin dikejar RSBI itu adalah lulusan dengan tingkat kognitif saja yang tinggi? Bahasanya? Terdengar sih kalau masuk kelas di RSBI, bahasa pengantarnya bahasa Inggris. Hanya pengantarnya sajakah? Bagaimana dengan mengajarkan materinya? Masih sama, itupun tidak semua guru berbahasa Inggris. Apalagi di tingkat sekolah dasar. Masih belum memungkinkan untuk anak diajarkan materi dengan pengantar bahasa Inggris. Sarana dan prasarana? Memang sih terkesan terlihat lebih bagus di sarana dan prasarana, namun itupun masih belum selengkap seperti yang ada di bayangan saya.

Lalu sebenarnya untuk siapa sih label RSBI itu? Kalau hanya untuk menjerat para orang tua yang akan masuk di sekolah mereka dengan embel-embel bahwa anak yang masuk sekolah mereka akan menjadi lebih “pintar”, saya rasa ini menjadi salah kaprah. Bahkan menurut psikolog Elly Risman, anak usia 0-12 tahun seharusnya tidak dirangsang ke kompetensi kognitifnya terlebih dahulu. Anak usia TK dan SD seharusnya dirangsang komptensi perasaannya. Artinya kecerdasan perasaan atau emosionallah yang seharusnya dibangun dan dirangsang, bukan kecerdasan kognitif seperti yang terjadi saat ini. Anak belajar dari pagi hingga petang, belum ditambah denggan les atau kursus disana-sini.

Saat ini mungkin sangat jarang ditemukan anak bermain karet, nangkep kodok, main layangan, main galasin. Padahal permainan lapangan itu sangat bermanfaat membangun kecerdasan penderitaan mereka yaitu seberapa besar daya tahan anak terhadap penderitaan, semisal kalau main sepeda dan terjatuh, bagaimana responnya. Atau ketika nangkep kodok, lalu harus kejar, lompat, jatuh dan kotor, bagaimana respon si anak? Karena memang sudah semakin jarang orang memperhatikan kecerdasan perasaan mereka, yang dikejar adalah  melulu bagaimana anak bisa cerdas kognitif; ranking satu, nilai sempurna, bisa ini, bisa itu, dan lain sebagainya.

Jika sudah begini, arti pendidikan menjadi kabur. Alih-alih ingin menciptakan anak bangsa yang cerdas, tetapi yang terjadi adalah pemaksaan kehendak kepada anak-anak untuk melakukan berbagai hal yang belum waktunya dikerjakan. Hak bermain dan mengeksplor diri mereka tidak tersentuh. Anak terkungkung dalam sekolah yang menerapkan konsep “cerdas adalah nilai bagus!” dan mengabaikan kecerdasan perasaan yang sejujurnya harus mendapatkan porsi perhatian yang lebih.

Haruskan konsep RBSI, SBI dan SI dikaji ulang?   Hmmm…..