Memiliki anak? Siapa yang tidak mau? Setiap pasangan menikah, anak menjadi hal utama yang diidamkan. Apalagi bagi para perempuan. Dapat memberikan suaminya keturunan yang sholeh dan sholehah tentu menjadi suatu kebanggaan dan kepercayaan diri. Apalagi bisa berperan sebagai seorang ibu. Rasanya tentu senang  bukan kepalang.

Namun, terkadang harapan tak selalu menjadi kenyataan. Ketika banyak pasangan yang belum diberi rejeki dan anugrah keturunan. Siapakah yang paling menderita? Pengalaman mengindikasikan wanita lah paling merasa hancur. Ketika keluarga selalu menanyakan “Kapan punya momongan nih?” atau terkadang pertanyaan mereka lebih ekstrim “Koq gak hamil-hamil sih, mandul ya?” Perasaan wanita mana yang tidak hancur ketika mendengar pertanyaan dan komentar menyakitkan itu? Saya yakin, bukan hanya satu dua orang saja yang memiliki pertanyaan dan komentar serupa, di setiap kelompok masyarakat ada saja yang pertanyaan seperti itu.

Seperti yang terjadi pada kerabat saya. Sudah menikah 17 tahun belum dikarunia keturunan. Di tahun-tahun awal, pertanyaan itu mungkin masih berupa pertanyaan harapan. Namun, di tahun-tahun pertengahan, keluarga dari sang suami malah semakin menyiksa batin. Mengecap mandul hingga meminta sang suami untuk mencari istri lagi adalah makanan yang harus ia terima setiap harinya. Wanita mana yang tak hancur mendapat perlakuan seperti itu? Bukankah keturunan adalah hak prerogatif Allah? Siapa yang Dia kehendaki untuk dikaruniai atau tidak dikaruniai keturunan sepenuhnya keputusan Allah. Lalu, mengapa manusia turut campur dengan mengingkari kehendak Allah? Saya yakin, orang yang masih mempertanyakan tentang kehadiran anak di sebuah keluarga adalah orang-orang yang tidak percaya akan keberadaan sang khalik.

Saya percaya setiap pasangan menikah akan mengusahakan apapun untuk bisa memiliki keturunan. Bahkan kerabat dekat saya itu sudah bertahun-tahun terapi, dan ternyata di tahun terakhir ini ia terdeteksi memiliki tumor rahim (pada awalnya hanya terdeteksi kista). Apakah memiliki tumor itu kehendak manusia? Tentu bukan. Bahkan wanita yang tidak terdeteksi penyakit apapun bisa tidak dikarunia keturunan.

Apa yang menjadi keresahan dan kesedihan kerabat saya itu adalah bagaimana ia menjalani masa tuanya tanpa kehadiran anak. Anak adalah anugrah yang akan mendoakan kita ketika kita telah berpulang. Ia sedih karena tiada ada orang yang akan mendoakannya kelak. Tapi, itupun seandainya anak yang kita besarkan menjadi anak yang sholeh dan sholehah. Jika sebaliknya? Tentu akan menjadi kesedihan bagi kita juga.

Allah itu maha adil. Kerabat saya ini mungkin tidak diberikan rejeki berupa keturunan. Namun Allah memberikan rejekinya via kekayaan. Kami selalu berusaha mensupportnya bahwa memiliki anak bukanlah perkara gampang. Tidak mudah mendidik anak, apalagi dengan jaman yang penuh dengan berbagai perkembangan yang negatif saat ini. Benar, anak akan menjadi penolong kita nanti. Tapi kita bisa juga menciptakan doa yang tiada henti dengan menyisihkan sebagian harrta kita di jalan Allah. Misalnya dengan menjadi orang tua asih bagi anak-anak yatim. Maka setiap sen yang kita sumbangkan, pahalanya akan selalu mengalir tiada henti, seperti halnya doa anak yang sholeh.

Saya yakin Allah punya rencana tersendiri bagi umat-umatnya di dunia. Jika kita tidak bisa menabung ibadah melalui keturunan kita, tentu kita bisa menabung ibadah dengan harta yang kita miliki. Dengan begitu, dengan atau tanpa anak, tidak berarti kita tidak memiliki tabungan pahala. Allah memberikan banyak jalan untuk bisa beribadah. Maka, bersyukur dengan apa yang kita miliki adalah satu upaya untuk menghilangkakn perasaan sedih karena belum atau tidak dikaruniai keturunan.

Bagi anda yang pernah mempertanyakan tentang kehadiran momongan di tengah satu keluarga, mungkin ada baiknya untuk tidak melakukannya. Karena berarti, anda telah mengingkari kehendak dan keberadaan Tuhan semesta alam. Menjaga perkataan tentu akan lebih baik bagi anda dan orang lain.