Loh, kenapa harus disembunyikan? Memangnya apa sih yang harus disembunyikan? Ada ya yang harus dilakukan secara sembunyi-sembunyi?

Dalam hidup, kita pasti mengalami banyak kejadian, pengalaman hidup, baik yang baik maupun yang buruk. Dari semua pengalaman hidup itu tentu kita lah yang sangat tahu apa yang terjadi dalam hidup kita. Dan sebagai makhluk sosial, kita tak mungkin mampu hidup sendiri. Kita butuh teman, sahabat, rekan kerja, tempat kita bertukar cerita dan pengalaman hidup. Namun, tahukah anda bahwa tidak semua pengalaman hidup kita harus kita kisahkan? Tak semua kisah hidup kita harus diumbar ke banyak orang.

Ternyata ada kalanya “sembunyi” itu menjadi kata paling ampuh dan tepat bagi kita. “Sembunyi” pada akhirnya menjadi pilihan kita bagi kita demi kebaikan. Lalu, apa sih arti sembunyi itu sendiri? Ya, sembunyi berarti diam-diam atau tidak terang-terangan. Loh, mana ada pengalaman yang harus kita sembunyikan? Pasti ada dong. Apa saja yang harus kita sembunyikan?

Pertama, aib atau dosa manusia.

Manusia adalah makhluk ciptaan Allah yang diberi akal dan nafsu. Terkadang nafsu manusia mengalahkan akal sehatnya sehingga yang salah pun dilakukan. Kesalahan pribadi itu tentunya menjadi aib bagi kita. Dalam hal ini tak perlulah kita mengumbarkan aib diri kepada orang lain. Cukup Allah yang tahu dan tugas kita adalah meminta ampun pada Allah atas kesalahan yang kita perbuat. Maka kita wajib menyembunyikan aib diri maupun aib orang lain, terutama saudara, istri/suami, anak, orang tua. Karena bagaimanapun, manusia butuh hidup berdampingan dengan orang lain, sehingga aib yang terungkap sedikit banyak akan mempengaruhi pandangan atau penilaian orang lain terhadap manusia. Maka, sembunyikanlah aib kita dan saudara-saudara kita.

Kedua, amal jariah dan kebaikanmu.

Selain terkadang berbuat salah, manusia juga makhluk sosial yang memiliki hati untuk berbuat kebaikan. Bentuk kebaikan itu ada berbagai rupa, dari kebaikan sikap, tenaga, bahkan materi. Kita mungkin sudah sering mendengar pepatah bahwa setiap satu kebaikan yang kita torehkan di muka bumi, maka balasannya akan sepuluh kali lipat lebih banyak. Semakin anda banyak memberi, maka akan semakin banyak pula anda menerima. Namun, seperti yang tertuang dalam hadits “tangan kanan memberi, tangan kiri menyembunyikan”. Jelaslah bahwa kebaikan atau amal yang kita berikan, tak perlulah diumbar dan disampaikan secara terbuka hingga orang berdecak kagum pada kita. Ada baiknya kita menyembunyikan setiap amal kebaikan yang kita lakukan, sehingga terhindar dari perasaan ujub atau riya dimana kita ingin dipuji oleh orang lain. Maka, sembunyikanlah amal kebaikanmu.

Ketiga,   penyakitmu.

Ada kalanya manusia terserang sakit. Tak sedikit yang mengeluh akan sakit yang dideritanya, sampai mereka benar-benar menunjukkan kondisi kesehatannya di depan khalayak ramai. Manusia terkadang ingin dilihat sakit dan dikasihani oleh orang lain. Akhirnya yang muncul adalah kalimat-kalimat negatif seperti ”iya, lagi gak enak badan”, “sakit sekali” , “kepalanya pusing terus”. Jika kalimat-kalimat negatif itu yang keluar dari mulut kita, maka sugesti yang muncul adalah “benar, saya sedang sakit”. Cobalah kita berpositif thinking dengan bilang “alhamdulillah, lebih baik”, “gak sakit koq, cuma suruh istirahat saja”, “insya allah sebentar lagi pulih”. Jika kita mengucapkan hal positif, maka orang yang mendengar pun akan merespon secara positif pula. Minimal mereka akan bilang, “Alhamdulllah”. Untuk itu, sembunyikanlah sakitmu.

Pada akhirnya, sembunyikanlah apa-apa yang dianggap kurang baik untuk diumbar ke khalayak ramai. Sebaliknya, sampaikanlah hal-hal atau berita baik sehingga orang yang mendengarnya pun akan turut bahagia.