Awal memiliki gadget (baca handphone) pada pertengahan tahun 99. Saat itu saya baru akan lulus kuliah. Handphone baru akrab di telinga dan menjadi salah satu barang mewah. Tak banyak yang punya, jadi ketika pertama kali membawanya, dan handphone berdering di saat saya ada di angkutan umum, rasanya malu bukan kepalang. Gimana gak? Handphone saya pertama itu merek Motorola dengan bentuk flip dan ukuran yang masih sangat besar. Ketika bicara pun antena harus ditarik dulu. Maklum belum banyak operator. Ketika itu provider yang paling tenar adalah telkomsel, dengan harga kartu perdana hampir 100.000 rupiah! Jadi mengenal gadget perama kali hanya berfungsi untuk menelpon dan kirim pesan saja. Tidak kurang tidak lebih.

Sekarang? jauh beda dengan akhir tahun 90an. Gadget yang semakin hari semakin berkembang dengan fitur-fitur menggiurkan bak fenomena sosial yang tak terelakkan. Siapa sih orang yang tidak memiliki gadget, minimal handphone saja. Fungsinya pun sudah semakin bervariasi, dari yang standar untuk telpon dan sms, sampai ke smartphone yang memang smart karena kita bisa melakukan apa saja dengan handphone tersebut.

Saya mungkin salah satu dari sekian banyak orang yang juga menikmati gadget sebagai gaya hidup sekaligus jalan hidup. Sejak mengenal gadget lain selain handphone, terutama netbook, muncul minat yang sebelumnya tak pernah tergali. Ya, menulis! Saya pecinta bacaan, terutama fiksi dan buku-buku psikologis. Bisa dibilang books-freak saking cintanya sama membaca, bahkan sampai lupa makan, atau sedang makan sampai nasi melar! Karena cinta membaca itulah saya pernah berangan-angan ingin memiliki buku novel karanagn sendiri. Kayaknya indah banget ya punya buku yang bisa dinikmati dan diapresiasi orang lain. Pokonya jadi penulis itu hebat deh!

Sayangnya mimpi saya itu memang gak terlalu saya salurkan. Saya merasa saya tidak kreatif, dan impossible bagi saya untuk bisa menulis, bahkan walaupun hanya menulis sebait puisi. Jauh dari bayangan. Gak bisa! Rasa pesimis saya mulai luntur ketika saya mengenal dan memiliki laptop pribadi. Bak mainan baru, saya mulai menikmati kegiatan update status di facebook. Tiba-tiba ada keinginan saya untuk menuliskan ‘notes’ yang lebih panjang dari sekedar status saja. Akhirnya saya mulai menulis di kolom “notes” masih di facebook. Tak berapa lama mengenal facebook dan menulis “notes”, saya dikenalkan dengan blog. Akhirnya saya berpindah ke blog (blog pertama saya adalah nouraloveray.blogspot.com) karena bisa lebih fokus ke menulis. Awalnya tulisan saya hanya berupa curahan hati, atau puisi saja. Lama-lama kelamaan saya tertarik untuk menuliskan beragam jenis tulisan seperti pendidikan, kesehatan, cerpen bahkan hingga humor.

Saya termasuk tipe orang yang akan terpacu menulis ketika saya langsung berhadapan dengan layar postingan. Ide akan mudah muncul ketika kita sedang online. Baru sekitar 2 kali saja saya menulis offline lalu saya posting. Sisanya, menulis “on the spot”! Pada saat mengikuti pelatihan guru menulis di rumah perubahan om Reinald Kasali, saya dikenalkan dengan wordpress. Merasa lebih nyaman dan sederhana, saya pun beralih ke wordpress.com tempat saya menuangkan ide-ide saya, baik berupa reportase tulisan maupun opini. Dan diakhir tahun 2011, saya bergabung dengan kompasiana.com, portal menulis asuhan kompas.com. Disini kami lebih fleksibel berkreasi karena lebih cepat menarik pembacanya, berhubung kompasiana adalah blog keroyokan dengan kompasianer (sebutan untuk para penulis di kompasiana) dan pembaca setianya.

Saya semakin dimudahkan dengan gadget ketika saya membeli blackberry. Dengan aplikasi yang bisa menghubungkan email kita ke BB, saya dengan mudah dapat mengakses setiap email melalui notifikasi yang selalu ON setiap saat. Bahkan saya bisa tahu apakah tulisan kita mendapat respon berupa komentar dari para pembacanya. Sempat kaget ketika tiba-tiba di BB saya muncul sekitar 20 notifikasi dari email yahoo saya. Setelah saya buka ternyata komentar dari pembaca setia kompasiana karena tulisan saya masuk HL atau terekomendasi. Jadi kalau mau tahu tulisan kita HL atau Terekomendasi cukup lihat berapa notifikasi yang muncul di BB kita berupa tanggapan di kompasiana.

The point is that I should say my gratitude to every gadget I have….karena dengan keberadaan mereka lah, ghirah menulis saya terpicu dan terpacu.