Seperti biasanya, jadual jum’at di sekolah kami adalah sholat jumát bagi putra dan keputrian bagi putri. Berhubung keputrian hanya diikuti oleh putri saja, maka para guru dengan mudahnya melihat siapa saja siswi yang sedang berhalangan. Tidak berbeda dengan hari ini. Sayangnya, ada keganjilan pada hari ini. Tampak siswi yang berhalangan jumlahnya melebihi hari-hari sebelumnya, apalagi di bulan Ramadhan lau.

Sepanjang bulan Ramadhan, hanya ada sekitar 15 siswi yang berhalangan per hari nya. Tapi hari ini, angkanya cukup meningkat tajam, hingga mencapai angka 50 siswi. Tentunya hal ini membuat kami bertanya-tanya, ada apa gerangan. Mengingat jumlah nya yang tidak wajar, akhirnya para guru diterjunkan untuk mengecek kebenaran kondisi haid mereka.

Sempat ada pertanyaan dari siswi yang sedang haid “Kenapa sih mam, mesti dicek segala? Gak percayaan banget?” Akhirnya saya pun menjelaskan ke mereka bahwa para guru tidak bermaksud untuk tidak percaya, hanya saja memang terkadang ada beberapa anak yang memanfaatkan kondisi haid mereka. Misalnya ada anak yang seharusnya sudah bersih, tapi memperlambat mandi bersihnya. Ini tentu saja tidak diperbolehkan dan termasuk melalaikan sholat mereka. Jika tidak diperikasa dan dikontrol, dikhawatirkan anak-anak akan terus memperlambat waktu mandi bersih mereka.

Ada pula anak yang memang malas melakukan sholat sehingga mengaku sedang haid. Tentu ini jauh dari tindakan benar. Untuk mengontrolnya, kami pun ajak mereka bicara dan sambil mengecek catatan haid mereka per bulannya (kebetulan kami punya absen khusus haid bagi putri). Kami lihat berapa lamanya haid mereka per bulan (siklus haid bulanan). Jika lebih dari siklus haid per bulan, maka tentu kita perlu tanyakan alasannya. Jika terbukti mereka memperlambat, maka kita bisa memberikan nasehat kepada mereka sehingga tidak mengulanginya di masa mendatang.

Tentu kontrol haid siswa putri ini tidak hanya dilakukan di sekolah saja. Diharapkan para orang tua pun (khususnya sang bunda) bisa mengontrol siklus haid putri mereka, dan kalau perlu mereka pun memiliki catatan khusus sehingga kontrol terhadap siklus haid putri mereka pun bisa rapi. Kontrol ini pun bisa dilakukan untuk mengecek apakah siklus haid putri kita normal atau tidak. Karena berdasarkan ilmu fiqih wanita, siklus haid normal adalah 1-7 hari, dan paling lambat adalah 15 hari. Jika sudah melebihi 15 hari, maka sudah termasuk “istihadhah” atau darah yang dikeluarkan oleh wanita yang melebihi siklus haid 15 hari. Hal ini tentunya harus mendapat perhatian dari para orang tua dan bisa mengkonsultasikannya ke dokter. Jika sudah masuk ke “istihadhah”, maka wanita tersebut diwajibkan sholat walaupun harus mandi besar berulang kali. Adapun darah yang keluar dalam masa “istihadhah” ini terkadang berbeda-beda. Jika berwarna gelap pekat, maka tidak wajib sholat. Jika berwarna merah atau coklat saja, maka boleh diperbolehkan sholat.

Masalah haid ini memang agak susah-susah gampang. Tetapi sebagai orang yang lebih dewasa, tentu kita harus selalu mengingatkan kepada putri-putri kita sehingga tidak ada kesempatan bagi mereka untuk sengaja melalaikan sholatnya dengan memanfaatkan kondisi haid mereka.