Hari baru, semangat baru. Tak disangka sudah berminggu-minggu tak bersentuhan dengan kompasiana. Rasa kangen untuk menulis sudah tak tertahankan lagi. Sempat vakum karena ada beberapa hal, hari ini saya ingin memulainya dengan sedikit cerita dibalik satu workshop yang kebetulan saya adakan bagi para rekan-rekan kerja saya di kampus sekolah kami.

Worksop yang berjudul “Motivating Learning DVD” ini terselanggara berkat kerja sama antara yayasan kami dengan pihak British Council selaku penyedia layanan training bagi guru bahasa Inggris khususnya. Workshop diadakan selama 2 hari, Sabtu-Minggu tanggal 1-2 September 2012, merupakan minggu pertama aktif setelah libur panjang idul fitri. Sempat menjadi perbincangan karena wokrshop diadakan pada hari minggu, yang notabene hari libur keluarga, namun alhamdulillah peserta tetap hadir dan antusias mengikuti workshop hingga akhir acara.

Walaupun workshop ini ditujukan untuk guru bahasa Inggris, tetapi secara umum materinya bisa diaplikasikan oleh seluruh guru dari berbagai bidang ilmu dan tingkat mengajar. Dengan dua topik yang disampaikan dari total 6 topik, peserta diberikan wawasan baru mengenai pengajaran bahasa inggris bagi siswa SD dan TK. Dua topik tersebut adalah Teacher-Student Interaction dan Teaching Aids.

Teacher-Student Interaction

Syarat awal mengajar, tidak hanya untuk guru bahasa inggris tentunya, adalah bagaimana cara guru berkomunikasi dan membangun hubungan baik dengan para siswanya. Hubungan baik ini tentu harus dibangun di awal pertemuan kita dengan para siswa kita sehingga menimbulkan kesan positif dan memberikan perasaan aman di mata anak-anak. Bagaimana cara berkomunikasi yang tepat dan membangun positive atmosphere tersebut?

– Berkomunikasilah dengan ramah dan terbuka. Dengan begitu, guru dapat membangun hubungan baiknya (rapport) dengan para siswanya dengan cara membangun lingkungan belajar yang positif. Komunikasi yang ramah dan terbuka juga akan membangun kepercayaan diri dan motivasi belajar para siswa kita.

Kita harus ingat bahwa seorang guru akan dilihat dan dikenang dengan apa yang ia lakukan (DO) dan apa yang ia ucapkan.

What do teachers DO in creating the positive atmosphere?

– Smile

– Call by names

– Eye Contact

– Greet warmly

– Give positive response

– Give compliment

– Give correction

– Ask their feeling

Ingatlah: Jika kita ingin menciptakan nuansa yang positif, maka pertanyaan yang diajukan pun haruslah bernuansa positif. Misalnya: “are you happy?” instead of “are you sad?”

What do teachers SAY in developing positive atmosphere? (give them praise and encouragement)

– Good try!

– Good job!

– Well done!

– That’s nice

– Very good

– I like it when you…

– Thank you

Anak adalah pribadi yang unik dan bebas. Memberikan pujian atas apa yang mereka kerjakan dan mereka capai merupakan HAK mereka. Maka, janganlah pelit memberikan pujian walaupun hasil yang dicapai telihat kecil di mata kita, namun bagi mereka itu adalah suatu hal yang besar. Selain memberikan pujian secara individu, anda pun bisa memberikan pujian secara masal, sehingga anak yang sebenarnya tidak melakukan banyak hal di pelajaran yang berlangsung, merasa tersentuh bahwa kita telah memuji mereka. Misalnya:

– Thank you for your attention, class!

– Everyone is wonderful today (walaupun kita tahu ada satu atau dua anak yang tidak mengikuti pelajaran dengan baik)

– Thank you, students. You’ve been good listeners today!

– Give a big hand to all of you guys

Singkatnya, jika Anda telah membangun hubungan baik Anda dengan siswa-siswa Anda, maka sebenarnya Anda telah menciptakan nuansa positif dan berkomunikasi secara positif untuk membangun kepercayaan diri siswa.

Teaching Aids

Teaching aids adalah alat bantu pengajaran yang dibuat untuk memudahkan penyampaian pesan atau tujuan pembelajaran. Teaching aids itu ada berbagai bentuk, diantaranya:

– Flashcards; Pictures, Words, Numbers

– Boards: Chalkboards, Mini-chalkboards, Whiteboards, Mini-whiteboards, Interactive whiteboards

– Realia

– Toys, Dice/spinners

– Board games/puzzle

– Big books and readers

– Posters; vocabulary, students’ work, pictures

– Plasticine/modelling dough

– Songs, chants, music, rhythm sticks

– Video/DVD

– Computers

– Masks, role play/drama, clothing/costumes, mime/gestures

– Pointers

– Puppets, models or dolls

Karena teaching aids hanya sekedar alat bantu untuk memudahkan menyampaikan pesan atau materi, maka tentu ia bukan menjadi hal utama dalam sebuah pembelajaran. Seorang guru harus tetap memberikan perhatiannya yang lebih kepada:

– Objective (Tujuan Pembelajaran)

– Lesson Plan (Rencana Pembelajaran)

– Learning Styles (gaya belajar peserta didik)

– Barulah kita fokus ke Teaching Aids

Ketika kita akan memilih teaching aids yang akan kita gunakan, maka kita harus memperhatikan tujuan pembelajaran yang akan dicapai terlebih dahulu, langkah-langkah pembelajarannya, lalu yang tak kalah penting juga adalah bisa mengakomodasi seluruh gaya belajar peserta didik.

Jika kita tidak memperhatikan gaya belajar siswa kita, maka dikhawatirkan akan ada anak-anak yang tak tersentuh gaya belajarnya sehingga kemungkinan akan menjadi anak yang mengganggu proses belajar. Ini yang sering terjadi pada anak-anak yang dianggap “nakal” karena tidak bisa duduk manis di kelas dan selalu tidak bisa diam. Padahal ada kemungkinan bahwa si anak termasuk anak dengan gaya belajar kinestetik dimana ia butuh bergerak sepanjang waktu. Maka kita sebagai guru harus bisa memfasilitasi dan mengakomodasi semua kebutuhan tersebut, walaupun tentu tidak melulu keempat gaya belajar itu harus sealu ada dalam satu waktu pembelajaran.

Empat Gaya Belajar (Learning Styles)

– Visual Learners(cenderung belajar dengan melihat)

– Auditory Learners(lebih suka belajar dengan mendengarkan)

– Kinaesthetic Learners (senang belajar dengan menggerakkan semua anggota tubuhnya)

– Tactile Learners (tertarik belajar dengan sentuhan)