Dalam satu diskusi, muncul satu pernyataan dari seorang guru bahwa ia merasa tidak sanggup menangani satu orang anak  dengan berbagai “penilaian negatif” yang melekat kepada anak tersebut. Bahkan menurutnya, hampir semua guru pun tidak suka dengan anak tersebut.

Namun, jawaban yang diberikan trainer kami saat itu sangatlah mengejutkan. Menurutnya, apapun yang terjadi pada anak di dalam proses pembelajaran, misalnya anak itu tidak mau mengikuti pelajaran dengan baik (di mata gurunya), maka kesalahan sepenuhnya terletak pada guru. Tidak ada anak yang tidak cocok di satu sekolah tertentu, yang ada adalah ketidakmampuan guru melaksanakan proses pembelajaran dengan maksimal. Cap negatif pada anak tersebut harus dihilangkan karena ketika anak dicap tertentu, maka sepanjang hidupnya nilai negatif itu menjadi melekat dan sulit untuk dihilangkan. Jika anak sudah membenci satu hal, maka secara tidak langsung kita telah mematikan sebagian dari masa depannya.

Merasa tidak puas, si guru mengungkapkan lagi bahwa jika guru memberikan lebih banyak perhatian kepaa si satu anak ini, bagaimana dengan 27 anak lainnya? Bukankah tidak fair untuk mereka?

Dengan bijak, trainer mengembalikan pertanyaan itu, jika anda mengeluarkan anak tersebut dari kelas anda, apakah itu fair untuknya? Tidakkah disini anda telah juga melakukan tindakan tidak fair kepada anak tersebut, yang notabene perlu bimbingan dan bukan hujatan?

Maka, tugas gurulah untuk menciptakan proses belajar yang menyenangkan dan mampu mengakomodasi kebutuhan belajar setiap individu siswanya. Berat dan melelahkan pastinya, tapi yang patut anda ingat adalah, jika di kemudian hari si anak tersebut menjadi seorang yang sangat bermanfaat bagi banyak orang, maka anda menjadi salah seorang yang terlibat membentuk karakter anak tersebut. Jadi sesulit dan seberat apapun, tugas gurulah untuk mendidik siapapun anak yang kita ajarkan tanpa memandang bulu.

Ingatlah! Tidak ada anak nakal, yang ada adalah kebutuhan akan haknya yang belum terpenuhi.