Ingat lebaran, ingat baju baru, sandal baru, dan uang baru (keluar dari bank!). Ya, selalu ingat baju baru. Bukan karena ikut trend sih sebenarnya, tapi lebih kepada saat lebaran lah satu-satunya waktu dibelikan baju baru oleh ibu. Gak lebaran, ya ga ada baju baru. Itupun dapatnya cuma satu pasang saja. Maklumlah, dengan 7 bersaudara, ibu dan bapak harus membagi rejekinya untuk ketujuh anak mereka.

Belum lagi belanja buat makanan khas yang selalu ada di setiap lebaran. Bukan daging sapi ataupun daging ayam. Kami belum mampu untuk bisa mengadakan lauk yang satu itu. Makanan favorit kami sekeluarga adalah pesmol bandeng! Ya, ikan bandeng menjadi makanan termewah di keluarga kami. Namun, rasanya tak kalah enak dengan daging sapi ataupun daging ayam. Apalagi pesmol bandeng buatan ibu, mantab deh! Pesmol bandeng ibu lalu didampingi dengan sayur soun khas betawi dengan irisan petai yang menambah nikmat hidangan, plus ketupat tentu saja!

Satu penganan yang dulu wajib ada juga adalah tape ketan dan dodol betawi. Kalau ingat tape ketan, jadi kangen. Soalnya sejak ibu sakit-sakitan, tahun 2000, ibu tidak pernah membuatnya lagi. Kami masih menyediakan tape ketan sih, cuma buatan orang lain. Sementara dodol betawi sudah lama ditinggalkan karena semakin lama biaya pembuatannya semakin mahal. Masih teringat oleh saya bagaimana kami di kampung urunan untuk membuat dodol, bisa sampai 8 keluarga loh! proses pembuatannya pun makan waktu hampir seharian. Dan yang pasti butuh bantuan tenaga laki-laki untuk mengaduk dodol yang sudah hampir jadi. Soalnya, beratnya minta ampun deh!

Berhubung saya asli dari Bekasi, maka kami tak mengenal istilah atau tradisi mudik seperti kebanyakn para pendatang. Pernah merasa iri sama pemudik yang euforianya berasa seru banget. Tapi setelah dipikir-pikir menjadi penunggu kampung pun gak kalah menyenangkan. Setiap lebaran, kami bisa benar-benar merasakan kehidupan yang tenang dan jauh dari hingar bingar keseharian warga kampung. Dengan sepinya kontrakan-kontrakan yang mulai menjamur sejak tahun 90-an, kami jadi bisa melihat, seberapa banyak sih masyarakat asli kampung kami. Dan ternyata, dalam satu waktu, kami bisa menjambangi hampir seluruh kampung untuk bersilaturahim. Wah, kalau dipikir-pikir, lebih banyak pendatang nih dibandingkan warga aslinya!

Kadang kalau saya ditanya “pulang kampung kemana, maám?” Saya akan berkelakar, “saya tiap hari udah puang kampung, koq!” atau “gak usah pulkam lah, saya jagain kampung aja, biar gak dibawa maling!” hehehhe….

Karena tidak mudik, kegiatan lebaran kami akan diawali dengan sholat ied berjamaah dan dilanjutkan dengan bersilaturahmi ke rumah-rumah tetangga. Tapi, berhubung orang tua saya termasuk salah satu warga yang dituakan, akhirnya orang lainlahyang berkunjung ke rumah kami. Kalau istilah kerennya, open house!🙂 Maka, kami akan berusaha menyuguhkan hidangan berupa kue khas betawi seperti kue akar kelapa, kue biji ketapang dan keripik aceh (sebutan kami untuk kue bawang). Tak lupa, bapak akan menyediakan salam tempel untuk anak-anak tetangga yang saat itu berkisar antara 100 rupiah hingga meningkat menjadi 1000 rupiah.

Jika para tamu sudah sepi, giliran keluarga kami yang keliling menyambangi keluarga yang dituakan, dan dilanjutkan dengan silaturahim ke para guru, terutama guru mengaji kami. Setelah itu, lebaran kami dilanjutkan dengan bersilaturahim ke sanak keluarga, dan selama bertahun-tahun selalu bermuara di salah satu keluarga yang paling tua, adik dari nenek saya. Tradisi kami setelah sampai rumah uwak kami adalah makan siang dengan menu sangat jauh berbeda dengan menu lebaran yang biasa dihidangkan dengan daging-dagingan. Di sana kami akan dihidangkan makan siang dengan menu sayur asam, teri atau ikan asin, dan sambal serta lalapannya. Rasanya? Mantab! Di tengah-tengah berlimpahan menu daging dan ikan, sayur asem dan ikan asin plus sambal bak oase di tengah padang pasir yang tandus.

Selepas makan siang, kami akan beristirahat sambil berbincang-bincang dengan sanak keluarga yang walaupun jaraknya dekat, tapi jarang bertemu. Biasanya kami kembali ke rumah masing-masing sekitar pukul 3 sore dan dilanjutkan dengan sholat ashar dan istirahat alias tidur jamaah.

Hari kedua lebaran kami isi dengan nyekar ke kuburan dan mencari jajanan yang jarang ada seperti bakso atau mie ayam. Biasanya kami sangat bertekad untuk jajan sepuasnya karena penghasilan salam tempel biasanya cukup lumayan. Terkadang di hari ketiga atau keempat, kami keluarga besar dan keluarga sekampung akan mengadakan jalan-jalan atau istilah orang kampung kami “plesiran” ke tempat-tempat wisata seperti Ancol, TMII atau Ragunan. Kami menyewa bis dan setiap kelurga urunan yang dimulai sebelu bulan puasa. Namun, tradisi jalan-jalan sekampung ini mulai hilang sejak saya menginjak bangku SMP. Gantinya, kami berwisata hanya dengan keluarga saja.

Itu kisah lebaranku dulu. Sekarang? Gak jauh berbeda sih, tapi biasanya tujuan wisata kami yang sedikit berubah. Kalau dulu jalannya ke tempat-tempat wisata, beberapa tahun terakhir kami menikmati liburan dengan menginap di vila dengan keluarga besar. Kebetulan dari kami bertujuh, enam sudah berkeluarga dan beranak pinak. jadi suasana liburan semakin ramai dan seru.

Semoga saja tradisi lebaran kami ke depan menjadi lebih bermakna dan terkenang indah.🙂