Pertama kalinya nonton tayangan film Omar: Umar bin Khattab di MNC TV, saya sudah langsung jatuh cinta. Entah apa yang membuat saya merasa seperti itu, yang pasti saya merasakan perbedaan dari tayangan sejenis yang pernah saya tonton di tahun-tahun silam. Dan saya yakin juga kalau tayangan ini bakal dicintai dan menjadi perbincangan banyak kalangan. Benar saja dugaan saya. Hampir di pelosok sudut sekolah tempat saya mengajar, topik hangat yang dibahas adalah tentang film Omar ini. Bahkan diwartakan juga bahwa kampus UIN dan salah satu kampus di Bandung (saya lupa namanya) memutar acara nobar film Omar dan dijadikan satu bahan diskusi dari anak-anak kampus tersebut. Tak salah memang jika saya menyebutnya “Film Ramadhan Of The Year!”

Jika stasiun televisi lain masih berkutat di sinetron yang katanya “religi” dan acara-acara lawakan sahur yang sudah gak kocak lagi alias basi, MNC TV berani menayangkan film kolosal yang berkisah utama tentang salah satu sahabat terdekat Nabi Muhammad SAW, Umar bin Khattab. Saya rasa keputusan yang sangat cerdas dan cemerlang yang diambil oleh pihak MNC TV. Film Omar ini memang membawa angin segar, bak oase di padang pasir, di tengah-tengah tayangan sahur yang banyak tidak mendidik dan tidak berilmu itu. Saya bisa memberikan acungan jempol bagi stasiun TV tersebut.

Bagi Anda penonton setia tayangan film Omar ini, tentu akan setuju dengan pendapat saya bahwa film ini sarat akan kisah sejarah yang mengharu biru dan indah. Dengan plot yang runtut, dan detail, kita seolah-olah dibawa ke dunia jaman Rasulullah SAW yang sebenarya. Sejarah yang ditampilkan dikemas dengan indahnya tanpa kita merasa bosan melihatnya. Dengan pengenalan tokoh-tokoh hebat dan terkenal di masa Rasulullah, kita berasa diajak berkenala dengan mereka, sosok-sosok yang tangguh dan kuat iman. Bahkan kita pun digiring untuk ikut membeci kaum Quraisy yang tak henti-hentinya memusuhi Rasulullah SAW dan para pengikutnya.

Kisah yang membuat saya mengharu biru tentunya ketika Umar bin Khattab mendapatkan hidayah dari Surat Thoha yang dibacakan oleh seorang muslim. Penggambaran Umar bin Khattab yang gagah, tegas pun tampak hampir sempurna. Satu lagi kisah yang memilukan adalah ketika Hamzah, paman Nabi, terbunuh di peperangan Uhud, dan jantungnya dimakan oleh Hindun istri Abu Sofyan. Betapa kebencian saya kepada Hindun ikut terbakar.

Tak hanya itu saja, masih banyak kisah-kisah lain yang bahkan saya belum pernah tahu sebelumnya menjadi tahu karena kisahnya di film Omar ini, misalnya Salman Al Farisi, Khalid bin Walid, dll. Intinya menonton kisah sejarah bangsa Arab dan perjalanan serta perkembangan Islam melalui film Omar ini sangat menyenangkan. Berbeda dengan kisah-kisah sejarah yang terkadang membosankan.

Ada sedikit fakta menarik tentang film ini yang saya baca di harian Republika edisi hari ini yaitu bahwa pembuatan film ini menghabiskan dana sekitar 200 milyar rupiah. Syuting dilaksanakan di dua negara, Mesir dan Syriah dengan mendirikan dua komplek perumahan yang berisi ribuan rumah di atas tanah ribuan hektar. Menghadirkan sekitar 300 aktor dari 10 negara, dengan 30000 pemeran pembantu. Bahkan untuk wardrobe pun, produser menyewa sekitar 39 desainer tenar. Tak heran jika film ini sangat berkualitas karena pembuatan film ini yang sangat serius dan melibatkan banyak pihak yang sangat berkompeten di bidangnya masing-masing.

Dengan menjangkau segmen semua umur, tentu dengan bimbingan orang tua di beberapa adegan (terutama adegan perang) bagi anak-anak, film ini layak menjadi satu koleksi film yang wajib ada di setiap rumah atau sekolah. Dengan kisah sejarah yang sangat teliti dan ilmu yang bermanfaat, film ini menjadi film yang wajib ditonton bagi umat Islam khususnya, dan tentu masyarakat umum lainnya.

Semoga semakin banyak tayangan-tayangan berbobot seperti Omar ini, tidak hanya di bulan Ramadhan, tapi juga di bulan-bulan lainnya.

Dan ternyata, tidak semua tayangan sahur itu jelek, masih ada Omar yang mengajarkan kita banyak hal.