Anda mungkin sudah seringkali mendengar kalimat hidup adalah pilihan. Karena hidup itu memilih, maka seyogyanya kita harus memilih yang terbaik bukan? Saya yakin tak ada orang yang ingin memilih sesuatu yang buruk. Maka, haruslah ditanamkan pada diri kita hidup seperti ini; “Hidup adalah pilihan. Maka, pilihan yang terbaik, atau tidak sama sekali.” Setuju atau tidakdengan statement tersebut, mungkin Anda bisa membaca satu analogi berikut yang saya dapat dari satu acara motivasi yang diselenggarakan oleh pihak sekola hari ini.

Bandingkan dua percakapan berikut ini:

Alkisah, ada seorang PSK (baca: pekerja seks komersial) yang diwawancara oleh seseorang. Begini cuplikan wawancaranya:

A: Maaf mba, boleh tanya-tanya gak?

PSK: Boleh, mas.

A: Tapi bayar gak nih?

PSK: Gak lah, kan cuma nanya aja.

A: Sudah berapa lama mba menjadi PSK?

PSK: Alhamdulillah, mas, sudah 7 tahun.

A: (Alhamdulillah? gila…berarti si mba ini menikmati banget dong ya?) Oh, mba sudah punya anak?

PSK: Sudah mas, 2.

A: Ada suami?

PSK: Gak lah, mas. Saya belum pernah menikah.

A: Memangnya si mba gak kepingin apa punya suami yang setia, membina rumah tangga dengannya dan hidup bahagia dengan anak-anak mba? Daripada hidup seperti ini yang sudah pasti salah dan berdosa.

PSK: Aduh, gimana ya, mas. Mungkin ini nasib saya, mas.

Nah, cerita ini kita analogikan dengan seekor kerbau.

Masih dengan pertanyaan yang sama.

A: Kerbau, anak kamu mana?

K: Oh, itu, om. Yang lagi merumput.

A: Terus pejantanmu yang mana?

K: Ya, kerbau jantan sekitar sini juga om.

A: Loh, kamu gak tahu yang mana?

K: Lah, kalau saya ketemu lagi, tahu lah om.

A: Terus kenapa ga hidup sama satu pejantan aja sih?

K: yah, gimana ya, om. Nasib kali ya?

Membandingkan dua pertanyaan berikut, mana menurut Anda, statement yang benar antar si PSK dan si kerbau, di kalimat terakhirnya “Nasib kali yak?”

Ya, statement “nasib” yang dilontarkan si PSK itu tidak benar dan yang dilontarkan si kerbau itu benar. Mengapa? Karena manusia dan kerbau sama-sama memiliki otak, bedanya di bagian akal dan pikiran, dimana manusia dimiliki kelebihan tersebut jika dibandingkan dengan kerbau (hewan). Karenanya, ketika si kerbau bilang bahwa itu nasibnya, maka pernyataannya bisa dibilang benar, karena kerbau tidak mengenal konsep “salah/benar” atau “dosa/pahala”. Namun, manusia sudah diberikan akal dan pikiran yang bisa membedakan mana yang salah dan benar. Jadi ketika si PSK bilang bahwa “nasib”nya menjadi PSK itu salah. Dia seharusnya bilang bahwa itu pilihan hidup nya.

Yang ingin saya coba sampaikan disini adalah bahwa dalam kehidupan kita, tidak terlepas dari tindakan memilih.Dari mulai bangun tidur, kita diberi pilihan, mau langsung bangun, atau meneruskan tidur beberapa menit lagi. Ketika kita memilih bangun, kita dihadapkan pada pilihan lagi, mau ibadah pagi (sholat, bagi yang muslim) atau mandi terlebih dahulu. Jadi dari melek mata sampai kita mau tidur lagi pun kita akan berhadapan dengan pilihan.

Bahkan Tuhan pun memberikan kita pilihan untuk memilih menjadi beriman atau tidak. Jika kita memilih beriman, Tuhan tidak diuntungkan oleh kita, demikian pula ketika kita memilih kufur, Tuhan pun tidak dirugikan oleh kita. Jadi pilihan beriman atau tidak akan kembali kepada kita sendiri, mau untung atau rugi di dunia dan akhirat nanti.

Maka ketika kita sudah memilih, kita harus siap dengan konsekuensinya. Terkadang banyak orang yang sudah memilih hidupnya, tapi tidak mau terima konsekuensinya, bahkan cenderung mengeluh dengan pilihannya tersebut. Misalnya: ketika kita memilih untuk bekerja di tempat seperti Jakarta, yang jauh dari rumah. Berangkat harus sebelum adzan shubuh, sholat shubuh di stasiun, lalu berdesakan dengan berbagai macam orang di kereta dan tidak kebagian tempat duduk. Pulangnya harus mengalami hal yang sama. Keluhan pun tak pernah lepas dari mulutnya. Kalau sudah begini, maka ia tidak siap dengan konsekuensi yang dipilihnya.

Jika kita sudah memilih apa yang menurut kita terbaik, maka kita  pun harus siap dengan apapun konsekuensi yang mengiringi pilihan kita tersebut. Dan sebagai manusia yang diberi akal dan pikiran, tentu seyogyanya kita bisa memilih hal yang terbaik dan bukan hal yang salah dan bernaung di selimut kata “nasib”. Karena nasib mu itu sebenarnya adalah pilihan mu sendiri.

Maka, bijaklah memilih, karena pilihanmu akan menentukan kebahagiaanmu kelak.