Wah, dunia korupsi kita semakin edan ya? Miris sekali menonton berita petang di Metro TV. Bayangkan, headline beritanya saja sudah menyeramkan: “Korupsi Pengadaan Al Quran”. ckckckck…Tak salah memang kalau departeman agama dicap sebagai salah satu sarang korupsi yang cukup basah!

Salah satu anggota DPR dari partai Golkar, yaitu bapak Dr. H. Zulkarnaen Djabbar, MA, dinyatakan sebagai tersangka dari kasus korupsi proyek pengadaan Al Quran. Disinyalir ZD ini bekerja sama dengan salah satu kerabatnya yang berinisial DP, pimpinan PT. KSAI, sebagai pemenang tender pengadaan Al Quran.

Menurut laporan KPK, ada keganjilan dari anggaran pengadaan Al Quran dari tahun-tahun sebelumnya. Tahun 2009 lalu, anggaran hanya sebesar 2,5 milyar rupiah, sementara di tahun 201o meningkat menjadi 3,5 milyar rupiah. Angka mencengangkan terjadi di tahun 2011 dimana anggaran mencapai 35 milyar rupiah!

Memang sangat sulit menilai individu-individu mana yang benar-benar jujur, baik itu warga masyarakat biasa maupun pejabat pemerintahan. Hanya saja, ketika kitab suci dipermainkan, dijadikan alat untuk korupsi, bukankah ini sudah melewati batas hati nurani manusia? Dimanakah hati kecil mereka disembunyikan ketika korupsi ini dilakukan? Dimana mereka menempatkan posisi AL Quran sebagai kitab suci umat muslim yang sangat sakral tersebut? Dimana kontrol dari anggota komisi VIII lainnya?

Ketika berita ini dilaporkan ke para petinggi partai Golkar, seperti Aburizal Bakrie, Fadel Muhammad, mereka mengaku sangat terkejut dengan penetapan saudara ZD menjadi tersangka. Walaupun menurut salah salah seorang pengamat kasus korupsi, bug Ucok Sky Khadafi, merupakan hal yang mustahil ketika partai tidak mengetahui sepak terjang anggotanya. Iya juga ya? Mereka kan berada dalam satu wadah partai, koq bisa tidak mengetahui apa saja yang dikerjakan oleh para anggotanya yang menjabat di pemerintahan? Bukankah kontrol terhadap kinerja anggota partai harus tetap dipantau oleh petinggi partai atau mereka yang berkompeten di bidangnya?

Mungkin hal ini juga yang terjadi di partai demokrat dengan kasus hambalangnya. Tak ada kontrol dari pihak partai atau justru pihak partai mengetahuinya, hanya saja membiarkan si tersangka yang menghandle sendiri kasus yang sedang menimpanya. Kalau seperti ini, sepertinya kinerja setiap partai harus kembali dibongkar ulang sehingga kontrol terhadap anggota mereka yang sedang menjabat pun bisa terdeteksi denagn baik.

Bahkan seorang Zuhairi Misrawi, seorang cendekiawan muslim pun mengakui buruknya pelayanan dari kementrian yang notabene berhubungan dengan akhlak masyarakatnya?  Namun, menurutnya, kita harus bisa mengambil hikmah dari setiap kasus korupsi yang muncul di permukaan. Hal ini mungkin satu preseden buruk bagi ZD, DPR, dan partai Golkar. Namun, harus pula dicari penyelesaian yang paling tepat untuk kemudian mengikis para koruptor yang masih berkeliaran dengan bebas di sejumlah kementrian negara.

Ternyata tidak hanya Al Quran saja, proyek pengadaan komputer untuk Mts pun dikorupsi. Sepertinya, masing-masing onkum koruptor mencari berbagai celah dan cara untuk bisa mencari keuntungan sendiri selama mereka memangku jabatan penting di pemerintahan.

Innalillah..