Musim liburan sekolah tidak lantas membuat sekolah libur. Beberapa sekolah masih tetap masuk karena mereka harus membuka pendafataran siswa baru. Kesibukan tampak di beberapa sekolah negeri dan swasta yang dari senin kemarin memulai pendaftaran bagi siswa baru.

Saya termasuk salah satu wali murid yang sibuk mendatangi sekolah-sekolah, baik sekolah negeri maupun sekolah swasta. Ternyata mencari sekolah itu tak semudah membalikkan telapak tangan, khususnya bagi siswa pindahan seperti putra saya.

Well, anak saya yang terdeteksi sebagai anak berkebutuhan khusus dalam sisi emosional, tidak mampu tertangani oleh pihak sekolah. Kalaupun bisa dilanjutkan, saya harus menyiapkan shadow teacher dengan biaya sendiri. Wah, gak kebayang biaya menyewa shadow teacher ya? Kayaknya gaji satu bulan pun gak akan bisa mengcover biaya tersebut.

Dengan berbesar hati saya coba memindahkan ke sekolah swasta lainnya, ternyata sekolah tersebut pun menerapkan hal sama. Padahal, mereka belum melihat secara langsung kebutuhan anak saya, baru mendengar dari gambaran umum yang saya jelaskan. Kalau sudah begini, jadi ragu mau menceritakan alasan saya memindahkan putra saya. Karena ternyata sekolah-sekolah masih belum siap menangani berbagai jenis karakter dan perilaku anak. Sepertinya, sekolah hanya bisa menerima anak yang sudah bagus saja, tanpa tertantang untuk mencoba mendidik anak yang berkebutuhan khusus.

Bagi orang tua dengan kondisi keuangan memadai, menyediakan shadow teacher sendiri mungkin tidak terlalu bermasalah. Sementara bagi orang tua yang keadaan keuangan mereka tidak cukup besar, seperti saya, tentu menyewa seorang shadow teacher menjadi pertimbangan yang teramat berat.

Banyak informasi dan saran yang saya terima, yang pada akhirnya membuat saya bingung. Memasukkannya di sekolah negeri sempat menjadi pertimbangan saya, sayangnya siswa kelas 3 masuk sekolah mulai pukul 13.00 sampai dengan 17.00. Agak mengkhawatirkan karena anak saya memiliki kecenderungan untuk tidak mood belajar siang.

Ketika mendapat sekolah negeri yang masuk pagi, dia menanyakan ada teman yang ia kenal atau tidak. Well, berhubung saya tidak ingin salah memilih sekolah untuk kedua kalinya, saya pun mencoba mencari sekolah-sekolah yang disetujui oleh anak saya namun juga tetap memberikan masukan-masukan kepadanya. Sekolah alternatif pun menjadi tambahan daftar sekolah yang akan saya kunjungi, walaupun keputusan terakhir belum bisa saya tetapkan.

Semoga saja, ke depannya banyak sekolah yang bisa dan mau menerima anak berkebutuhan khusus dan menjadikan anak-anak itu sebagai satu tantangan yang membuat sekolah banyak belajar dari mereka, bukan hanya menerima anak yang sudah bagus, yang notabene, sudah gampang diatur dan tidak menjadi tantangan buat sekolah. Seandainya ada sekolah seperti itu, tentu akan menjadi satu kebanggaan bagi mereka yang mampu mengubah dan mendidik anak yang cenderung kurang menjadi anak yang lebih baik dan berhasil.  Dan selaku orang tua, saya pun tentu akan sangat senang karena terbantu oleh sekolah, walaupun tetap ikhtiar saya ke psikolog akan tetap dilanjutkan.