Saya tidak terlalu suka asap rokok, tapi saya bukan orang yang terlalu anti dengan rokok. Saya tidak suka orang merokok lebih kepada faktor ekonomi sebenarnya. Sayang aja, uang sebesar 20 hingga 40 ribu dibakar dalam waktu sehari hanya demi kepuasan. Tapi bagi yang memiliki uang berlebih, itu sih sah-sah aja koq. Masalah kesehatan? Setiap perokok pasti udah tahu resikonya, dan tahu pula dampaknya bagi orang lain jika ia merokok sembarangan.

Well, sebenarnya saya lebih ingin share tentang ketika merokok sudah menjadi kecanduan dan si perokok harus mencari berbagai cara untuk bisa menikmati menghisap sebatang rokok dan merasakan sensasi mengepulkan asapnya.

Ini kisah tentang seorang kawan, wanita. Dia mengenal rokok sudah sedari jaman SMA dulu. Ketika harus kuliah dan masuk asrama, satu hal yang paling membuatnya mumet adalah bagaimana bisa ia merokok di dalam asrama. Mungkinkah? Secara nalar sih harusnya gak mungkin. Secara, yang namanya asrama, terutama asrama wanita, peraturannya lumayan ketat lah. Apalagi untuk merokok! Gak kebayang kan ada perempuan di asrama merokok?

Seminggu, kepala kawan saya itu pening. Dia mencari spot-spot yang bisa memungkinkannya untuk mengisap si gulungan putih itu. Pilihan terakhirnya adalah toilet! Yap, dengan terpaksa, dia harus keluar jam12 malam, nongkrong di toilet, hanya untuk sebatang rokok. Sayangnya, tuh toilet terbuka di bagian atas, otomatis asapnya tetap mengepul ke seluruh ruang toilet. Suatu ketika, ternyata ada temannya yang masuk ke toilet. Panik dan tergesa-gesa, dia pun langsung menyalakan keran air dan berusaha menghilangkan jejak asapnya.

Karena berpikir, toilet sudah tidak aman, ia pun kembali berburu spot-spot aman dan nyaman buat ngudut. At the end, ia menemukan tangga ke bagian atap bangunan. Akhirnya, setelah satu minggu tersiksa, ia pun dapat bernafas lega karena menemukan spot yang aman buat merokok. Dengan diiiringi hembusan angin yang menyejukkan, kenikmatan merokok semakin membuatnya terbuai.

Ternyata, bagi para perokok, kegigihan mereka tak diragukan lagi, Tentunya ya kegigihan mencari posisi enak buat merokok. Sampai saat ini pun kawan saya itu masih suka kucing-kucingan ketika ia ingin merokok tapi dalam kondisi yang tidak memungkinkan, misalnya ketika sedang menghadiri pelatihan. Yah, namanya perokok, selalu ada jalan menuju Roma!