Saya memiliki satu anak laki-laki usia 8 tahun. Berhubung saya single parent, sempat ada ketakutan kalau anak saya ini lebih berkarakter perempuan dibandingkan laki-laki. Maklum, sepanjang hidupnya, dia berinteraksi lebih banyak dengan saya, walaupun di rumah ada adik laki-laki saya. Namun, ketakutan dan kekhawatiran itu tetaplah ada. Maka, saya pun mendorong anak saya untuk berani. Setiap yang ia lakukan, yang mungkin membahayakan, saya tanggapi dengan keyakinan bahwa ia akan menjadi anak yang tahan banting dan berani.

Contoh nyatanya adalah sejak kecil ia suka memanjat. Apa saja dipanjatnya, dari tembok pagar rumah, pohon, hingga tiang penyangga bangunan aula di sekolah. Awalnya sih sempat deg-degan juga, tapi saya cukup mengingatkan dengan kata “hati-hati”. Ketika dia pun berhasil memanjat tanpa terjatuh, saya pun lega. Artinya ia sudah bisa menguasai medan. Sementara tetangga pada teriak, “mama Rayhan, rayhannya naik pagar!” atau kadang terdengar “awas Rayhan, nanti jatuh!” Wah, saya sih gak terlalu suka ya dengan kalimat “nanti jatuh”. Soalnya, ucapan itu kan doa, jadi seolah-olah jadi mendoakan jatuh.

Atau di lain waktu, ia naik sepeda sendiri jauh dari rumah. Saya sempat mencarinya memang, tapi tidak ketemu. Ternyata dia main ke perumahan bersama teman-temannya. Mau ngomel? Lah, dia kembali dengan selamat koq! Akhirnya saya pun hanya bisa mengingatkan untuk hati-hati bermain dan meminta ijin sehingga saya tahu keberadaannya.

Berbeda pula dengan keadaan saat ini. Kebetulan saya pindah rumah dan dekat dengan jalan raya. Aktivitasnya sekarang adalah bermain layangan dan hobi mengejar layangan. Sempat saya melihat langsung bagaimana dia berlari di pinggir jalan raya dan matanya sedang tertuju ke layangan putus. Deg-degan? Pastinya. Khawatir? Ada. Namun, saya pada akhirnya berpikir, kalau saya terlalu khawatir, maka hidupsaya tidak akan tenang. Sementara saya harus meninggalkannya bekerja dari pagi hingga petang.

Akhirnya, saya hanya bisa menasehatinya ketika malam hari sambil mengobrol. Sebelumnya, sempat diiringi omelan dulu sih. Dia sempat protes kenapa saya marah dia main di pinggir jalan. Saya pun memberikan larangan-larangan padanya dengan alasan yang ia bisa terima.

1. Larangan mengejar layangan di pinggir jalan = karena dikhawatirkan ada motor atau mobil yang sedang “mabuk” sehingga tidak melihat ada anak-anak melintas.

2. Larangan bermain panas-panasan = karena sinar matahari siang tidak bagus untuk kesehatan dan membuat kulit menjadi kering dan berwarna gelap.

3. Larangan pulang maghrib = karena sudah waktunya sholat dan kita wajib sholat.

4. Kewajiban menggosok gigi = supaya kotoran sisa makanan tidak tertinggal di gigi.

5. Kewajiban menyikat kakinya = supaya kuman-kuman yang menempel di kulit kaki dan kuku bisa hilang.

6. Kewajiban memakai sandal – menghindari dari duri, kaca, kotoran sehingga tidak terluka.

Dan banyak sekali larangan atau kewajiban yang saya sampaikan ke dia plus saya jelaskan pula dengan alasan-alasan yang bisa ia terima. Dengan begitu, ia tahu mengapa ada larangan dan kewajiban, dan mengapa terkadang ibu terpaksa mengomel karena ia tidak mau mendengar nasehat kita.

Yang pasti, sebagai ibu, kita tidak perlu khawatir yang berlebihan. Jika kita terlalu mengkhawatirkan anak-anak kita di luar, maka hidup kita tidak akan tenang dan tentu akan menghambat pekerjaan kita. Asalkan kita tidak pernah bosan untuk selalu mengingatkan karena terkadang anak suka lupa apa yang kita nasehatkan kepadanya.

So, don’t worry too much, mommies🙂 Believe in your children that they can listen to us and do what we told them to do.