Mungkin belum banyak orang yang tahu siapa itu sahita. Saya pribadi baru tahu ketika menonton acara hitam putihnya Trans TV. Saat itu bintang tamu pertama acara yang digawangi oleh Deddy Corbuzier itu adalah boys band “Hitz”. Tahu kan Hitz? Itu loh, boy band Indonesia yang salah satu personilnya adalah asli orang Korea, Lee Jeung Hoon (salah gak ya nulisnya?). Boy band dengan personil yang bisa dibilang tampan dan berpostur oke!

Ketika akan diperkenalkan bintang tamu selanjutnya, saya sempat penasaran, soalnya Deddy bilang, bintang tamunya yang berikut ini beda banget, namanya Sahita. Akhirnya dipanggillah sahita itu ke depan layar. Muncul satu orang wanita paruh baya, sambil menyanyikan sepenggal lagu nya KD. Tapai ternyata muncul lagi wanita kedua sambil menyanyikan lagunya Syahrini, disusul wanita ketiga dan keempat yang menembangkan lagu Ruth dan Ayu Ting Ting.

Ternyata sahita itu adalah nama salah satu grup tari (sekaligus nembang dan ada unsur teatrikal nya juga) yang terdiri dari empat orang wanita; ting tong, inong, cemplung (?) dan atiek. Usia mereka sebenarnya berkisar antara 39-51 tahun, namun mereka berdandan lebih tua dari usia sebenarnya. Dengan berpakain ala perempuan jawa, berkebaya, berselendang dan bersanggul, mereka pun dengan mahir menyanyikan dan memparodikan lagu-lagu tenar yang akrab di telinga penikmat musik Indonesia.

Sahita berdiri sejak 22 Juni 2001 di Solo. Mereka kerap tampil di keraton dan dihadapan para raja keraton Solo. Namun, ketika mereka tampil di hadapan raja, penampilan mereka cenderung lebih serius. Tarian yang sering ditampilkan adalah tari Serimpi Srimpet (kreasi asli mereka) yang mengisahkan tentang kematian. Dengan menggendong tikar pandan, mereka menampilkan tari yang bisa dibilang sendu dan menyedihkan.

Yang membuat unik dan berbeda dari sahita ini adalah tampilan mereka. Mereka selalu mendandani wajah dan rambut mereka menjadi sosok wanita yang jauh lebih tua dari usianya. Alasan mereka adalah karena mereka tidak bisa menjual kecantikan dan kemolekan tubuh layaknya para artis masa kini, mereka pun akhirnya mencari ide berbeda itu. Satu lagi keunikan mereka adalah mereka bisa nge-beat, nembang dengan iringan musik dari suara yang dihasilkan mereka sendiri. Mereka bisa menirukan suara gamelan yang biasa kita dengarkan di musik-musik daerah jawa tengah atau timur.

Satu pesan yang ingin disampaikan sahita adalah bahwa yang berkualitas itu bukanlah usia melainkan karya. Usia tidak mempengaruhi sebuah karya.

Semoga semakin banyak seniman dan pekerja seni di Indonesia yang belajar dari grup tari sahita ini. Kreatifitas dan keunikan adalah dua hal yang membuat karya kita dapat dikenal, dinikmati dan dikenang oleh masyarakat.